8.01.2013

Merasa Bahagia

Kalau Nita kapan merasa paling bahagia?

Satu pertanyaan dari sekitar tujuh pertanyaan yang ia lontarkan kepada saya saat kami menunggu pintu studio 2 terbuka. Ia, teman dekat kakak sepupu saya, menimpali saya sebuah pertanyaan tentang kebahagiaan ketika kami mulai membahas isu tren kaum metropolis: passion.

Butuh jeda lima belas detik untuk bisa menjawab pertanyaannya. Jawaban pun sudah ada di hati dan di kepala.  Jawaban yang bakal buat mata saya berair.





Selama dua puluh tahun lebih tujuh bulan saya hidup, saya merasa paling bahagia sewaktu mendapat kabar adik saya lulus Ujian Nasional dan mendapati dirinya lebih baik. Mungkin kedengarannya ini adalah hal yang biasa bagi seorang kakak. Tapi tidak buat saya.

Waktu itu adik saya kelas enam SD dan saya kelas tiga SMA. Adik saya dikenal bandel bahkan sempat akan
SHARE:

7.24.2013

Mengapresiasi Pariwisata Indonesia

Pantai Indrayanti, Yogyakarta | Foto: Nita Wakan


Keberagaman sumber daya alam dan budaya merupakan daya tarik pariwisata suatu negara. Dunia pariwisata merupakan salah satu sumber devisa bagi negara. Di Indonesia, terhadap komoditas ekspor lainnya, pariwisata merupakan sektor ekonomi yang penting (sumber devisa) setelah minyak dan gas bumi.

Wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Indonesia akan menukarkan uang atau valuta negaranya dengan rupiah sebagai alat pembayaran domestik. Valuta asing dari sektor pariwisata tersebut merupakan devisa negara sehingga sektor pariwisata perlu dikelola dengan baik.

Indonesia adalah satu-satunya negara di dunia yang memiliki 17.508 pulau dengan 719 bahasa daerah. 18% terumbu karang dunia ada di Indonesia dengan 600 titik selam tersebar dari Sabang hingga Marauke. Lokasi penyelaman Indonesia menawarkan keindahan dunia bawah laut, seperti Wakatobi, Karimunjawa, Nusa Penida, Derawan, dan Kepulauan Seribu.

6 dari 50 taman nasional di Indonesia masuk dalam situs Warisan Dunia UNESCO. Taman Nasional Kelimutu di Flores memiliki danau kawah tiga warna. Taman Nasional Lorentz di Papua punya salju abadi di puncak Gunung Jayawijaya.
SHARE:

6.10.2013

Yoso Peksi Buraq

5 Juni 2013 lalu, saya bersama si kuda putih main ke Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta. Saya mampir ke Masjid Gedhe Kauman yang berada di sebelah barat Kraton sembari menunggu waktu ashar.

Masjid ini cukup hidup. Di serambi masjid ada sekumpulan anak yang sedang belajar. Ada adik bayi yang belajar berjalan. Juga beberapa orang yang duduk santai menunggu adzan.





Beberapa tenda dan karpet pun terpasang di pelataran masjid.

Seorang tukang parkir menghampiri saya memberikan kartu parkir. Setelah ditelisik, tukang parkir mengatakan bahwa tidak lama lagi akan ada ritual Yoso Pesi Buraq dalam rangka memperingati hari besar islam Isra’ Miraj.

Benar saja, usai shalat ashar saya disuguhi sebuah prosesi budaya yang belum pernah saya lihat. Para abdi dalem membawa ubo rampe yang berisi buah-buahan yang telah dikirab dari keraton menuju masjid untuk didoakan. Ubo rampe diserahkan kepada kiai penghulu masjid untuk dibagikan kepada masyarakat yang hadir pada pengajian di malam sebelumnya.







Kliwon Ngadi Wiyadi, salah satu abdi dalem keraton mengungkapkan bahwa ritual ini diadakan setiap bulan rejeb kalender jawa Islam sejak puluhan tahun silam. Nama Yoso Peksi Buraq artinya membuat burung buraq. Buraq adalah kendaraan Muhammad pada saat Isra' (perjalanan dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem Palestina) dan saat Mi'raj (perjalanan dari Masjidil Aqsa ke Sidratul Muntaha atau langit ke tujuh untuk memenuhi panggilan Allah)







Jika pada peristiwa Isra' Miraj, buraq merupakan kendaraan nabi tapi pada ritual ini, buraq justru memiliki kendaraan yaitu para abdi dalem yang membawanya memasuki masjid.

Nah, ubo rampe yang berisi buah tersebut menyimbolkan dua ekor burung sebagai buraq jantan dan betina yang bertengger di taman surga. Dibuat dari kulit jeruk bali yang diukir menyerupai burung jantan dan betina. Pembuat buraq ini haruslah puteri keraton yang sudah menikah.





Ubo rampe terdiri dari 8 macam buah-buahan tapi hanya 7 yang dihitung. Pisang raja spesial tidak masuk hitungan sebagai lambang Sultan  pengayom masyarakat dan kawulanya. 7 macam buah tersebut yaitu jeruk bali, salak, manggis, rambutan, apel malang, jeruk pontianak, dan sawo. Semua buah yang digunakan adalah buah lokal dan bebas formalin. Jumlah buah sebanyak 7 melambangkan tingkatan surga atau pertolongan.



Yoso Peksi Buraq, sebuah budaya keraton Yogyakarta yang berusaha mengingatkan kita, para kawula, tentang Isra' Miraj yang tidak mampu melampaui akal pikiran kita selain 'percaya' . Dan, ketika percaya semestinya tak ada lagi tanya. Karena (menurut saya) disitulah letaknya iman.

SHARE:

Apa kabar hati?


Tiga hari lalu, saya menemukan coklat chacha di dalam lemari pakaian. Ada sebuah surat  yang tertempel dan bertengger pada bagian topi chacha.
“Niwak (Nita Wakan), apa kabar hati hari ini?”

Sebuah pertanyaan yang bahkan belum pernah saya tanyakan pada entitas tertunjuk (hati). Si pengirim surat tampak lebih peduli dari si pemilik hati.

Apa kabar hati hari ini? Sebuah pertanyaan yang mulai saya tanyakan pada hati saya sejak tiga puluh enam jam yang lalu. Bagi saya, itu adalah sebuah pertanyaan yang lebih sulit dibanding pertanyaan tentang pajak yang ditangguhkan (indeferred tax)

Mengenali hati sendiri masih menjadi PR buat saya hingga hari ini dan membuat saya lebih suka jadi penyendiri. Orang-orang di sekitar pun sadar akan hal ini. Atau mereka yang terlalu peduli?

“Senyum Niwak yang hilang.”

“Jadi pendiam.”

“Nggak kedengeran lagi suaranya.”

Tentu bukan tanpa sebab. Entah fase apa yang sedang saya alami saat ini. Saya jadi suka berjalan sendirian, memotret, bercakap dengan tukang parkir, pedagang, anak-anak kecil yang sedang bermain sepak bola, dan manusia-manusia lain yang belum pernah saya kenal.

Mungkin ini adalah bagian dari pemberhentian sejenak pelbagai rutinitas dan sistem yang melekat.

Jadi, apa kabar hati hari ini?
SHARE:

5.08.2013

Narasi Evaluasi

Dalam sebuah lingkaran sederhana, saya diminta untuk menceritakan tentang sebuah ‘evaluasi’ yang pernah saya alami.

Hanya dua kalimat yang saya sebutkan. Saya ditertawakan. Kesempatan untuk ‘bercerita tentang evaluasi’ pun dipindahkan ke mulut teman yang lain.

Apa ada yang salah dengan pendapat saya soal ‘evaluasi’? Sehingga saya harus minum obat dan merasionalkan pikiran saya seperti yang diceletukkan oleh salah satu teman yang mendengar? Atau karena nada bicara saya yang tidak serius?

“Bagi saya, evaluasi membuat kita mengetahui keberadaan kita.” (teman-teman tertawa)

“Evaluator bisa melihat sisi yang tidak kita lihat.” (teman-teman tertawa lagi)

Tawa mereka sama sekali tidak menghibur saya tapi mengevaluasi diri saya sampai ke dalam hati.
***

Bagi saya, evaluasi membuat kita mengetahui keberadaan kita.

Ketika mengucapkan kalimat itu, seorang teman berusaha menyempurnakannya (di tengah
SHARE:

3.31.2013

Mempersiapkan Akuntan Muda Indonesia Menuju Asean Economic Community2015


Di presentasikan dalam National Accounting Essay Competition in Accounting Fair Universitas Bakrie 2013 on the topics: Preparing Indonesia's Youth Accountant to Vanquish ASEAN Economics Community (AEC) Era through Competence, Ethics and Professionalism yang telah dilaksanakan pada tanggal 19-23 Maret 2013 di Universitas Bakrie.
SHARE:

3.12.2013

Sebuah Hibrida: Digitalisasi Pasar Tradisional




Pasca 1995, manusia mulai berteman akrab dengan perangkat digital. Ponsel canggih, kamera anti air, layar sentuh, komputer mini,dan perangkat sejenisnya yang membuat kehidupan manusia semakin termobilisasi. Mobilisasi yang semestinya memudahkan gerak manusia justru membuat manusia terjebak dalam paradoks kepadatan arus informasi. Mereka sibuk mengetikkan jari saat makan, berjalan, bahkan berkendara. Kebanyakan mereka tenggelam dalam kehidupan yang serba cepat dan praktis. Generasi ini, seperti yang disebut oleh Radar Panca Dahana, adalah generasi digital.

Generasi ini senang berkelindan dengan teknologi. Maka tak jarang entitas-entitas dengan sedikit atau ketiadaan unsur teknologi menjadi rapuh. Misalnya, tradisionalitas maupun lokalitas yang mulai tergerus oleh modernitas. Hal ini memunculkan para simpatisan yang sadar akan eksistensi tradisionalitas maupun lokalitas sebagai aset berkearifan, salah satunya ada pada pasar tradisional.

Pasar tradisional sebagai penggerak roda perekonomian negara, jaring penyelamat dan penyedia lapangan kerja bagi sebagian masyarakat, memiliki kapasitas kuat untuk bertahan pada situasi ekonomi makro yang tidak menentu. Adanya budaya tawar menawar, hubungan penjual dan pembeli yang terbentuk secara langsung dan indigenous semakin memperkaya pasar tradisional.

Dalam pasar tradisional, rakyat menjadi subjek dan objek yang utama sehingga sebagian kalangan menyebutnya sebagai pasar rakyat. Sebagian lagi dengan sengaja meninggalkan kata tradisional karena identik dengan kumuh, becek ataupun semrawut.

Baik pasar rakyat maupun pasar tradisional perlu mengambil langkah untuk menghadapi era digital. Generasi digital mungkin saja mengusung konsep baru: Pasar Digital. Bukan tidak mungkin ketika Pasar Gede di Solo mulai memasang papan elektronik informasi harga. Papan yang mencantumkan tujuh belas harga makanan ini dipasang di pintu masuk agar tidak terjadi kesimpangsiuran harga antara pedagang dan pembeli.

Generasi digital agaknya perlu hati-hati dalam usaha mendekatkan teknologi dengan pasar tradisional. Papan elektronik ini bisa jadi malah meredupkan budaya tawar menawar yang secara tidak langsung merusak karakter pasar tradisional. Lagi-lagi, generasi digital dengan semangat perbaikan masih berada pada situasi yang sulit. Pasar digital, sebuah hibridisasi pasar tradisional dan digital, mungkinkah memiliki eksistensi?

*artikel singkat ini menjadi bagian dari Buku Sekolah Pasar yang disusun oleh Sekolah Pasar, Pusat Studi Ilmu Ekonomi Kerakyatan UGM
SHARE:

3.11.2013

Cara Keluarga

Seringkali, saya mendengar banyak orang dalam suatu perkumpulan berujar, “Buat saya, kalian adalah keluarga.”

Saya menjadi haru ketika seseorang mengatakan itu. Saya pun pernah berujar hal yang sama kepada sekelompok orang yang memang tidak ada hubungan darah dengan saya. Sampai suatu ketika, seorang teman menyadarkan saya soal kesakralan sebuah kata: keluarga.

“Buat saya kalian bukan keluarga. Maaf. Kita memang sering tertawa dan menangis bersama. Mengadakan event kecil maupun besar. Belajar dari nol bareng-bareng. Tapi bukan yang seperti itu yang bisa saya sebut sebagai keluarga. Buat saya, kalian adalah saudara.” ujar teman saya dalam farewell party suatu organisasi.

Teman saya itu mendikotomikan pemaknaan saudara dengan keluarga. Hal itu membuat saya mengacungkan tangan dan bertanya, “Dim, jadi siapa yang bisa lo sebut sebagai keluarga? Nyokap, bokap, sama adek lo aja?”

“Karena emang buat gue, cuma mereka yang bisa disebut keluarga. Ntar lo juga paham, Nit.”

Rasa-rasanya, sekarang saya paham. Cara keluarga memanusiakan kita sebagai manusia berbeda dengan cara yang digunakan oleh orang lain. Cara inilah yang akhirnya membantu kita membuat definisi tersendiri atas apa itu keluarga, saudara, sahabat, teman, dan orang lain. Cara itu berbeda-beda dan saling membedakan.
SHARE:

Mengendalikan Uang

Kehabisan uang saku sebelum akhir bulan tiba adalah pertanda lemahnya kita dalam mengatur uang. Metode preventif yang dapat kita lakukan agar tidak kehabisan uang saku adalah kemampuan mengatur atau perencanaan keuangan (financial plan ability). Pengaturan uang  sebaiknya dilakukan sebelum kita mengeluarkan uang untuk pertama kalinya setelah cash money kita terima.

Ada beberapa cara yang bisa kita gunakan. Pertama, menyisihkan uang di awal. Misalnya ketika kita menerima uang sebesar Rp500,000,- baik secara cash maupun yang mengendap di mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Sisihkan paling tidak sedikitnya 10% dari uang yang kita terima. Uang sebesar Rp50.000,- (10%x500.000) ini kita pisahkan, misalnya kita letakkan pada dompet yang berbeda atau ATM yang berbeda.  Saya pribadi memiliki dua buah kartu ATM, satu digunakan untuk opersional kebutuhan sehari-hari, satu lagi hanya digunakan untuk menyimpan uang sisihan.

Kedua, berhemat tapi jangan sampai menyiksa diri sendiri. Berhemat adalah salah satu bagian paling penting dari proses perencanaan keuangan. Gunakan dahulu uang untuk apa yang kita perlukan (kebutuhan) bukan untuk yang kita inginkan.

Ketiga, mencari pemasukan (income) selain dari uang orang tua (love money). Tambahan pemasukan bisa kita peroleh dari beasiswa, berwirausaha atau bekerja paruh waktu. Kemampuan merencanakan keuangan  dikolaborasikan dengan kemampuan kita menangkap peluang (seize opportunities).

Jika ketiga tahap tersebut tidak kita lalui dengan baik, terutama tahap kesatu dan kedua,  keuangan kita akan tersendat. Kita bisa mengalami kehabisan uang sebelum akhir bulan tiba, meminjam istilah besar pasak daripada tiang.

Untuk menutupi lubang kekurangan itu, ada banyak pilihan yang bisa kita ambil. Diantaranya berhutang (debt) kepada teman, menggadaikan barang, atau bahkan berpuasa. Sesekali ada baiknya kita merasakan hal tersebut sebagai refleksi bahwa uang didapatkan dengan pengorbanan.

Namun setelah itu, jadilah dewasa tidak hanya secara lahir. Kendalikan uang, jangan sampai uang yang mengendalikan kita. Jika dalam mengelola uang pribadi saja kita tidak bisa, bagaimana di masa depan nanti kita mengelola bangsa ini, wahai mahasiswa?

 

*artikel ini dimuat dalam Okezone,com
SHARE:
© Mettle in Perspectives.. All rights reserved.
Blogger Templates made by pipdig