8.01.2013

Merasa Bahagia

Kalau Nita kapan merasa paling bahagia?

Satu pertanyaan dari sekitar tujuh pertanyaan yang ia lontarkan kepada saya saat kami menunggu pintu studio 2 terbuka. Ia, teman dekat kakak sepupu saya, menimpali saya sebuah pertanyaan tentang kebahagiaan ketika kami mulai membahas isu tren kaum metropolis: passion.

Butuh jeda lima belas detik untuk bisa menjawab pertanyaannya. Jawaban pun sudah ada di hati dan di kepala.  Jawaban yang bakal buat mata saya berair.





Selama dua puluh tahun lebih tujuh bulan saya hidup, saya merasa paling bahagia sewaktu mendapat kabar adik saya lulus Ujian Nasional dan mendapati dirinya lebih baik. Mungkin kedengarannya ini adalah hal yang biasa bagi seorang kakak. Tapi tidak buat saya.

Waktu itu adik saya kelas enam SD dan saya kelas tiga SMA. Adik saya dikenal bandel bahkan sempat akan
SHARE:

3.11.2013

Cara Keluarga

Seringkali, saya mendengar banyak orang dalam suatu perkumpulan berujar, “Buat saya, kalian adalah keluarga.”

Saya menjadi haru ketika seseorang mengatakan itu. Saya pun pernah berujar hal yang sama kepada sekelompok orang yang memang tidak ada hubungan darah dengan saya. Sampai suatu ketika, seorang teman menyadarkan saya soal kesakralan sebuah kata: keluarga.

“Buat saya kalian bukan keluarga. Maaf. Kita memang sering tertawa dan menangis bersama. Mengadakan event kecil maupun besar. Belajar dari nol bareng-bareng. Tapi bukan yang seperti itu yang bisa saya sebut sebagai keluarga. Buat saya, kalian adalah saudara.” ujar teman saya dalam farewell party suatu organisasi.

Teman saya itu mendikotomikan pemaknaan saudara dengan keluarga. Hal itu membuat saya mengacungkan tangan dan bertanya, “Dim, jadi siapa yang bisa lo sebut sebagai keluarga? Nyokap, bokap, sama adek lo aja?”

“Karena emang buat gue, cuma mereka yang bisa disebut keluarga. Ntar lo juga paham, Nit.”

Rasa-rasanya, sekarang saya paham. Cara keluarga memanusiakan kita sebagai manusia berbeda dengan cara yang digunakan oleh orang lain. Cara inilah yang akhirnya membantu kita membuat definisi tersendiri atas apa itu keluarga, saudara, sahabat, teman, dan orang lain. Cara itu berbeda-beda dan saling membedakan.
SHARE:

10.08.2012

Menjadi SRIKANDI




SRIKANDI, sosok the ultimate model of independent womanhood dalam pewayangan jawa; sebagai simbol kekuatan dan keberanian. Srikandi dijadikan suri tauladan karena menjadi prajurit wanita yang berhasil mengalahkan Bisma dengan panah dahsyatnya, Hrusangkali. Itulah mengapa Srikandi menjadi inspirator bagi kami, peserta PPSDMS Regional 3 Yogyakarta Putri.

9 Juli 2012 menjadi hari pertama bagi saya menginjakkan kaki di BarbieDorm—julukan bagi asrama kami yang bercat merah jambu dan ungu. Kedatangan saya yang terlambat dibandingkan teman-teman lain membuat rasa takut itu hadir menjadi-jadi; ketakutan tidak bisa beradaptasi, tidak tahan dengan program-program yang diwajibkan, sampai takut  tidak memiliki sahabat. Semua ketakutan itu benar-benar ada.

Saya melangkah masuk sambil mengucap bismillah dalam hati. Saat itu, asrama sepi dan pintu memang tidak terkunci. Saya sejenak berhenti di balik pintu dan memperhatikan ruangan di dalam. Ada lima pintu kayu di bawah dan anak-anak tangga menuju lantai dua tempat kamar saya berada.

Saya menaiki anak-anak tangga itu. Semakin tinggi saya naik, semakin hilang rasa takut itu. Terlebih lagi, hati saya berkata ini bukan asrama, tapi rumah.

Ternyata benar. Banyak program yang wajib diikuti, seperti waktu berkah shubuh, apel pagi, deep introduction, family meeting, kajian pekanan, kajian bulanan, piket bersih-bersih sampai piket masak untuk sahur.

Banyak teman dan senior yang melontarkan candaan kepada saya ketika mereka tahu saya harus kembali ke asrama pukul tujuh malam, “Jam segitu mah banci baru mandi!”

Atau ketika mereka tahu ini adalah pendidikan dengan nilai islam yang kental, “Wah kalau main ke asramamu, aku harus pakai gamis ya?” “Yah kita engga bisa hang out sampe malem lagi dong, Nit.”

Mendadak, saya menjadi orang yang tidak peduli dengan hal-hal itu.

Secara sadar atau tidak, ada perasaan kuat yang saya dapatkan dari tiga puluh satu wanita yang hidup bersama saya di BarbieDorm: persaudaraan (ukhuwah).

Ketika saya sakit, mereka memberikan saya selimut, menemani berobat, bahkan membuatkan segelas teh hangat. Ketika saya tidur terlalu lelap, mereka membangunkan saya untuk ikut sembahyang berjamaah. Ketika ada yang berulang tahun, mereka menyiapkan surprise dan kue manis nan lezat.

Sungguh, saya berharap bisa melihat tiga puluh satu senyum yang sama dua tahun kemudian.

Saya berharap persaudaraan ini bisa terjaga dan mampu mengalahkan self-oriented yang  datang mencekam ketika terompet kompetisi ditiupkan.




Tiga puluh satu wanita itulah srikandi yang membuat saya ingin ikut menjadi srikandi. Mereka membawa panah-panah yang berbeda namun kami belajar bersama-sama untuk bisa melesatkan panah itu sedahsyat Hrusangkali. Bahkan lebih.

Bismillahirrahmanirrahim.
SHARE:

9.23.2011

When I'm Down (SNMPTN) Part 1

Lagi buka-buka file lama dan menemukan sebuah file dengan judul "Never Give Up" di harddisk. Ternyata sebuah tulisan yang saya buat sebelum SNMPTN Tertulis. Pas baca lagi jadi sedih dan teringat masa-masa perjuangan itu. Semoga bisa diambil pelajaran.


Never Give Up


Menjadi dokter adalah salah satu impian terbesar saya. Mimpi akan kedokteran telah saya bangun sedemikian rupa hingga terasa indah sekali untuk sekedar dibayangkan.

Tanggal 17 Mei 2011, saya dan beberapa sahabat berkumpul untuk melihat pengumuman SNMPTN Undangan bersama-sama.  Memasukkan nomer ujian dengan gemetar diselingi halaman twitter yang Alhamdulillah, penuh dengan keberhasilan teman-teman yang sudah diterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

Bismillahirrahmanirrahiim.

Saya memasukkan nomer ujian dengan perlahan dan mengkoreksi setiap angka yang saya ketik,

dan… Ya. Saya menahan nafas beberapa detik.

Saya tidak lulus seleksi.

Saya tidak lulus FK UI.

Begitu pula sahabat-sahabat saya di ruangan itu. Kami semua tidak lulus SNMPTN Undangan. Seperti sebuah takdir yang mempertemukan kami untuk saling menguatkan saat itu.

Sungguh, saya tidak tahan untuk tidak menangis. Sambil menahan air mata, saya pamit sebentar untuk memberi kabar orang-orang di rumah. Saya berlari menuju rumah ditemani angin malam yang kencang.

Di sepanjang jalan, saya menangis. Saya tidak peduli lagi dengan orang-orang di jalan yang memperhatikan saya.

Sesampainya di rumah, saya langsung bersujud di kaki kedua orang tua, di kaki mama dan ayah. Di bawah kaki mereka, saya terus menangis. Menangis sejadi-jadinya. Ayah langsung menarik saya berdiri sambil menyeka air mata yang juga turun dari kedua matanya.

Lima hari saya mengurung diri di kamar. Keluar kamar pun hanya sesekali. Menghampiri mama lalu menangis. Mental saya jatuh. Jatuh sejatuh-jatuhnya. Mungkin terlihat berlebihan, tapi sungguh, itu yang terjadi.  Saya takut menghadapi kegagalan. Saya takut untuk menghadapi kegagalan lagi di ujian selanjutnya: SNMPTN Tertulis. Yang hanya berselang 2 minggu dari pengumuman.

Saya belum siap untuk menghadapi kenyataan kalau saya….tidak menjadi dokter.

Sampai suatu malam, ayah memanggil saya. Lalu mulai berkata,

 Ayah dan mama atau siapapun, engga ada yang bisa ngebantu kakak. Cuma kakak yang bisa bantu diri kakak sendiri. Ayah dan mama hanya bisa berdoa.

Kak, kalaupun ayah dan mama berdoa, tapi dalam diri kakak sendiri tidak ada keyakinan kalau kakak bisa, semuanya itu percuma. Ibaratnya, mama dan ayah sudah memberi aliran listrik 10000 mega ampere  tapi daya kakak cuma 2 watt.  Instalasi nya engga nyambung.

Kak, ayah engga berharap apa-apa lagi kecuali keyakinan diri kakak kembali. Inget Kak, bukan kemenangan mendapatkan kursi di PTN aja yang kaka perjuangin. Tapi lebih dari itu, KEMENANGAN MENTAL.

Waktu ayah menghadapi tes wawancara dengan kondisi ayah yang engga bisa mendengar lagi (tuli), kakak yang selalu semangatin ayah dan bilang kalau ayah bisa. Kakak yang selalu memotivasi ayah. Sekarang waktunya kakak untuk membuktikan ucapan kakak ke ayah dulu.

Ayah benar. Begitu mudahnya saya memotivasi orang lain. Menulis kalimat-kalimat penyemangat. Membuat cerita-cerita inspirasi. Sekarang lah saatnya bagi saya untuk mempertanggungjawabkannya.

So I’ll never give up, never give in, never let a ray of doubt slip in. And if I fall, I’ll never fade, I’ll just get up and try again.


Sekarang bukan lagi kursi PTN yang ingin ditaklukan.

Tapi mental tempe yang ada dalam diri.

bersambung.
SHARE:

8.10.2011

Reborn, Terlahir Kembali

YunanJournal* adalah blog pertama yang serius saya jalankan bersama adik saya.

Tujuan awalnya adalah supaya kami bisa saling memantau dan bercerita melalui media blog. Namun karena kegiatannya yang padat, jadilah blog tersebut didominasi oleh cerita saya sendiri.

Ternyata cukup banyak teman-teman yang mengikuti YunanJournal. Terlihat dari komentar-komentar yang mereka berikan atau jejak lain yang mereka tinggalkan. Tentu saja ini menambah semangat saya untuk menulis. Thanks all for your genuine support. Terimakasih teman-teman yang telah setia membaca YunanJournal!

Semoga melalui NitaWakan ini, saya bisa lebih memberi kontribusi yang nyata juga memberi inspirasi dan manfaat untuk teman-teman semua. Aamiin.

*klik YunanJournal untuk berkunjung

SHARE:

5.02.2011

Tetap Semangat adikku!


Hari ini saya sedih sekali, ketika mengetahui adik saya tidak bisa mengikuti tes masuk SMPN 1 Bekasi bulan Juni nanti.
Sebelumnya kami sekeluarga selalu menyemangatinya, selalu mengatakan: you can do that. Hingga akhirnya kami menerima kenyataan:

bahwa ada SATU nilai rapot adik saya: kurang SATU POINT dari permintaan pihak smp 1. Dan dapat disimpulkan adik saya tidak bisa mengikuti tes.

SMP 1 menjadi sekolah impian adik saya. Saya selalu menceritakan segala kebahagiaan yang saya rasakan selama sekolah di sana tiga tahun lalu. Mulai dari guru-guru yang hebat, gedung dan fasilitas yang bagus, hingga organisasi yang aktif berjalan.

Namun kini saya menerima kenyataan pahit. Bahwa sekolah yang selalu saya banggakan tidak memberi kesempatan adik saya untuk mengikuti tes.

Tapi saya yakin ini adalah ketentuan Allah yang terbaik. ketika saya memeluknya begitu sedih, adik saya berbisik "masih banyak smp yang bagus kak!"

ya Allah, terimakasih atas keteguhan hati yang Engkau berikan kepada adik saya.

Saya berjanji untuk menemaninya belajar seminggu ini, menjelang UASBN SD tanggal 10 Mei nanti. Do your best, my brother! I always support you and believe that you can do it.

Mohon doanya yah teman-teman :)
SHARE:

3.22.2010

Misteri Kehidupan


Hidup itu adalah misteri.
Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok.
Pada siapa hati ini akan berlabuh,
Akan jadi apa kita,
Dokter, arsitek, insinyur,
menteri, presiden, atau pedagang keliling?

Tidak ada manusia yang tahu.
Sekalipun kau bertanya pada wanita yang melahirkanmu.
Ia akan menggeleng tidak tahu.

Tapi, bukan berarti ia tidak mau tahu.
Wanita itu dan juga pria yang membesarkanmu,
Mungkin menggeleng dan berkata,
“Kami tidak tahu engkau akan jadi apa, Nak.”

“Tapi kau harus bahagia apapun kau nanti.
Seperti kami yang selalu bahagia
dan menerima seperti apapun engkau.”

***

Ini beberapa bulan yang lalu, ketika saya mengikuti sebuah seleksi yang cukup bergengsi,
, mereka dengan keras melarang saya. Tapi dengan segala usaha, saya mendapat dukungan dari Ayah dan berhasil lulus dalam seleksi itu.
Dimana ibu saya?
Dia tidak mendukung saya.

Apa saya harus tetap menyelesaikan seleksi itu sedang orang yang paling saya hormati dan saya cintai, IBU tidak mendukung saya sepenuhnya.
Apa bisa saya berdiri tanpa ridha Ibu?
Berjalan tanpa wanita yang namanya saya sebut, saat saya pertamakali bisa berbicara?
Apa bisa saya berlari tanpa doa dari wanita yang telah melawan kematian
hanya untuk melahirkan saya?

Agama saya mengajarkan bahwa,
“surga berada di bawah kedua telapak kaki Ibu.”
Dan ridho Allah terletak pada ridho orang tua.

Bu....Apa Ibu tidak tahu, apa Ibu tidak sadar, ini kan untuk masa depanku.
Kalau aku berhasil, kan Ibu juga yang senang.

Tapi sampai pada detik terakhir, saya tidak menyelesaikan seleksi itu.


***

Itu beberapa bulan yang lalu, teman-teman. Sekarang saya telah berbesar hati menerima semuanya. Apapun itu.

Sambil mencium kening Ibu saat beliau tidur, saya berterima kasih.
Meskipun saya belum tahu sampai saat teman-teman membaca ini pun,
Saya masih belum tahu,

Kenapa Ibu tidak membolehkan saya mengikuti pertukaran pelajar?

Yang saya yakini, Allah punya rencana sendiri :)
Dan feeling seorang Ibu kepada ananknya adalah kuat, sangat kuat.

Seperti kata Dr. Ibrahim Elfiky dalam bukunya yang saya baca, yang berjudul ‘Terapi Berpikir Positif’

Kadangkala Allah menutup pintu yang ada di depan kita,
Tapi Dia membuka pintu lain yang lebih baik.
Namun, kebanyakan manusia menyia-nyiakan waktu,
Konsentrasi, dan tenaga untuk
Memandang pintu yang tertutup
Daripada menyambut
Pintu impian yang terbuka di hadapannya.




SHARE:

3.21.2010

Misteri Kehidupan


Hidup itu adalah misteri.












Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok.
Pada siapa hati ini akan berlabuh,
Akan jadi apa kita,
Dokter, arsitek, insinyur,
menteri, presiden, atau pedagang keliling?
Tidak ada manusia yang tahu.
Sekalipun kau bertanya pada wanita yang melahirkanmu.
Ia akan menggeleng tidak tahu.

Tapi, bukan berarti ia tidak mau tahu.
Wanita itu dan juga pria yang membesarkanmu,
Mungkin menggeleng dan berkata,
“Kami tidak tahu engkau akan jadi apa, Nak.”

“Tapi kau harus bahagia apapun kau nanti.
Seperti kami yang selalu bahagia
dan menerima seperti apapun engkau.”

***

Ini beberapa bulan yang lalu, ketika saya mengikuti sebuah seleksi yang cukup bergengsi,
, mereka dengan keras melarang saya. Tapi dengan segala usaha, saya mendapat dukungan dari Ayah dan berhasil lulus dalam seleksi itu.
Dimana ibu saya?
Dia tidak mendukung saya.

Apa saya harus tetap menyelesaikan seleksi itu sedang orang yang paling saya hormati dan saya cintai, IBU tidak mendukung saya sepenuhnya.
Apa bisa saya berdiri tanpa ridha Ibu?
Berjalan tanpa wanita yang namanya saya sebut, saat saya pertamakali bisa berbicara?
Apa bisa saya berlari tanpa doa dari wanita yang telah melawan kematian
hanya untuk melahirkan saya?

Agama saya mengajarkan bahwa,
“surga berada di bawah kedua telapak kaki Ibu.”
Dan ridho Allah terletak pada ridho orang tua.

Bu....Apa Ibu tidak tahu, apa Ibu tidak sadar, ini kan untuk masa depanku.
Kalau aku berhasil, kan Ibu juga yang senang.

Tapi sampai pada detik terakhir, saya tidak menyelesaikan seleksi itu.

***

Itu beberapa bulan yang lalu, teman-teman. Sekarang saya telah berbesar hati menerima semuanya. Apapun itu.

Sambil mencium kening Ibu saat beliau tidur, saya berterima kasih.
Meskipun saya belum tahu sampai saat teman-teman membaca ini pun,
Saya masih belum tahu,

Kenapa Ibu tidak membolehkan saya mengikuti pertukaran pelajar?

Yang saya yakini, Allah punya rencana sendiri :)
Dan feeling seorang Ibu kepada ananknya adalah kuat, sangat kuat.




Seperti kata Dr. Ibrahim Elfiky dalam bukunya yang saya baca, yang berjudul ‘Terapi Berpikir Positif’Kadangkala Allah menutup pintu yang ada di depan kita,
Tapi Dia membuka pintu lain yang lebih baik.
Namun, kebanyakan manusia menyia-nyiakan waktu,
Konsentrasi, dan tenaga untuk
Memandang pintu yang tertutup
Daripada menyambut
Pintu impian yang terbuka di hadapannya.











SHARE:
© Mettle in Perspective. All rights reserved.
Blogger Templates made by pipdig