7.24.2013

Mengapresiasi Pariwisata Indonesia

Pantai Indrayanti, Yogyakarta | Foto: Nita Wakan


Keberagaman sumber daya alam dan budaya merupakan daya tarik pariwisata suatu negara. Dunia pariwisata merupakan salah satu sumber devisa bagi negara. Di Indonesia, terhadap komoditas ekspor lainnya, pariwisata merupakan sektor ekonomi yang penting (sumber devisa) setelah minyak dan gas bumi.

Wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Indonesia akan menukarkan uang atau valuta negaranya dengan rupiah sebagai alat pembayaran domestik. Valuta asing dari sektor pariwisata tersebut merupakan devisa negara sehingga sektor pariwisata perlu dikelola dengan baik.

Indonesia adalah satu-satunya negara di dunia yang memiliki 17.508 pulau dengan 719 bahasa daerah. 18% terumbu karang dunia ada di Indonesia dengan 600 titik selam tersebar dari Sabang hingga Marauke. Lokasi penyelaman Indonesia menawarkan keindahan dunia bawah laut, seperti Wakatobi, Karimunjawa, Nusa Penida, Derawan, dan Kepulauan Seribu.

6 dari 50 taman nasional di Indonesia masuk dalam situs Warisan Dunia UNESCO. Taman Nasional Kelimutu di Flores memiliki danau kawah tiga warna. Taman Nasional Lorentz di Papua punya salju abadi di puncak Gunung Jayawijaya.
SHARE:

3.31.2013

Mempersiapkan Akuntan Muda Indonesia Menuju Asean Economic Community2015


Di presentasikan dalam National Accounting Essay Competition in Accounting Fair Universitas Bakrie 2013 on the topics: Preparing Indonesia's Youth Accountant to Vanquish ASEAN Economics Community (AEC) Era through Competence, Ethics and Professionalism yang telah dilaksanakan pada tanggal 19-23 Maret 2013 di Universitas Bakrie.
SHARE:

3.12.2013

Sebuah Hibrida: Digitalisasi Pasar Tradisional




Pasca 1995, manusia mulai berteman akrab dengan perangkat digital. Ponsel canggih, kamera anti air, layar sentuh, komputer mini,dan perangkat sejenisnya yang membuat kehidupan manusia semakin termobilisasi. Mobilisasi yang semestinya memudahkan gerak manusia justru membuat manusia terjebak dalam paradoks kepadatan arus informasi. Mereka sibuk mengetikkan jari saat makan, berjalan, bahkan berkendara. Kebanyakan mereka tenggelam dalam kehidupan yang serba cepat dan praktis. Generasi ini, seperti yang disebut oleh Radar Panca Dahana, adalah generasi digital.

Generasi ini senang berkelindan dengan teknologi. Maka tak jarang entitas-entitas dengan sedikit atau ketiadaan unsur teknologi menjadi rapuh. Misalnya, tradisionalitas maupun lokalitas yang mulai tergerus oleh modernitas. Hal ini memunculkan para simpatisan yang sadar akan eksistensi tradisionalitas maupun lokalitas sebagai aset berkearifan, salah satunya ada pada pasar tradisional.

Pasar tradisional sebagai penggerak roda perekonomian negara, jaring penyelamat dan penyedia lapangan kerja bagi sebagian masyarakat, memiliki kapasitas kuat untuk bertahan pada situasi ekonomi makro yang tidak menentu. Adanya budaya tawar menawar, hubungan penjual dan pembeli yang terbentuk secara langsung dan indigenous semakin memperkaya pasar tradisional.

Dalam pasar tradisional, rakyat menjadi subjek dan objek yang utama sehingga sebagian kalangan menyebutnya sebagai pasar rakyat. Sebagian lagi dengan sengaja meninggalkan kata tradisional karena identik dengan kumuh, becek ataupun semrawut.

Baik pasar rakyat maupun pasar tradisional perlu mengambil langkah untuk menghadapi era digital. Generasi digital mungkin saja mengusung konsep baru: Pasar Digital. Bukan tidak mungkin ketika Pasar Gede di Solo mulai memasang papan elektronik informasi harga. Papan yang mencantumkan tujuh belas harga makanan ini dipasang di pintu masuk agar tidak terjadi kesimpangsiuran harga antara pedagang dan pembeli.

Generasi digital agaknya perlu hati-hati dalam usaha mendekatkan teknologi dengan pasar tradisional. Papan elektronik ini bisa jadi malah meredupkan budaya tawar menawar yang secara tidak langsung merusak karakter pasar tradisional. Lagi-lagi, generasi digital dengan semangat perbaikan masih berada pada situasi yang sulit. Pasar digital, sebuah hibridisasi pasar tradisional dan digital, mungkinkah memiliki eksistensi?

*artikel singkat ini menjadi bagian dari Buku Sekolah Pasar yang disusun oleh Sekolah Pasar, Pusat Studi Ilmu Ekonomi Kerakyatan UGM
SHARE:

3.11.2013

Mengendalikan Uang

Kehabisan uang saku sebelum akhir bulan tiba adalah pertanda lemahnya kita dalam mengatur uang. Metode preventif yang dapat kita lakukan agar tidak kehabisan uang saku adalah kemampuan mengatur atau perencanaan keuangan (financial plan ability). Pengaturan uang  sebaiknya dilakukan sebelum kita mengeluarkan uang untuk pertama kalinya setelah cash money kita terima.

Ada beberapa cara yang bisa kita gunakan. Pertama, menyisihkan uang di awal. Misalnya ketika kita menerima uang sebesar Rp500,000,- baik secara cash maupun yang mengendap di mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Sisihkan paling tidak sedikitnya 10% dari uang yang kita terima. Uang sebesar Rp50.000,- (10%x500.000) ini kita pisahkan, misalnya kita letakkan pada dompet yang berbeda atau ATM yang berbeda.  Saya pribadi memiliki dua buah kartu ATM, satu digunakan untuk opersional kebutuhan sehari-hari, satu lagi hanya digunakan untuk menyimpan uang sisihan.

Kedua, berhemat tapi jangan sampai menyiksa diri sendiri. Berhemat adalah salah satu bagian paling penting dari proses perencanaan keuangan. Gunakan dahulu uang untuk apa yang kita perlukan (kebutuhan) bukan untuk yang kita inginkan.

Ketiga, mencari pemasukan (income) selain dari uang orang tua (love money). Tambahan pemasukan bisa kita peroleh dari beasiswa, berwirausaha atau bekerja paruh waktu. Kemampuan merencanakan keuangan  dikolaborasikan dengan kemampuan kita menangkap peluang (seize opportunities).

Jika ketiga tahap tersebut tidak kita lalui dengan baik, terutama tahap kesatu dan kedua,  keuangan kita akan tersendat. Kita bisa mengalami kehabisan uang sebelum akhir bulan tiba, meminjam istilah besar pasak daripada tiang.

Untuk menutupi lubang kekurangan itu, ada banyak pilihan yang bisa kita ambil. Diantaranya berhutang (debt) kepada teman, menggadaikan barang, atau bahkan berpuasa. Sesekali ada baiknya kita merasakan hal tersebut sebagai refleksi bahwa uang didapatkan dengan pengorbanan.

Namun setelah itu, jadilah dewasa tidak hanya secara lahir. Kendalikan uang, jangan sampai uang yang mengendalikan kita. Jika dalam mengelola uang pribadi saja kita tidak bisa, bagaimana di masa depan nanti kita mengelola bangsa ini, wahai mahasiswa?

 

*artikel ini dimuat dalam Okezone,com
SHARE:

10.12.2012

Dana Pembangunan Daerah Sia-sia









Urbanisasi sebenarnya bagian dari proses kita beradaptasi terhadap perubahan. Proses ini menjadikan banyak hal yang dahulu bersifat tradisional ke arah modern sehingga orang sering mereduksikannya sebagai perubahan sifat atau tempat dari suasana desa ke kota.


Perubahan ini pasti terjadi di setiap daerah,namun yang membedakan adalah sikap setiap daerah terhadap perubahan tersebut tidaklah sama. Perbedaan sikap ini yang nantinya memunculkan ketimpangan dari berbagai sektor. Salah satu ketimpangan yang paling terlihat adalah tata kelola suatu kota.

Kota yang dikatakan maju umumnya memiliki banyak gedung pencakar langit, sekolah, pusat perbelanjaan, fasilitas publik, dan jalan-jalan yang banyak dilalui kendaraan. Tapi di sisi lain, masih terdapat daerahdaerah kumuh yang tepat bersebelahan dengan pusat kota tersebut sehingga tata kota pun terlihat semrawut. Begitu pula dengan masih adanya kota yang minim gedung dan fasilitas publik. Tata kota yang masih buruk salah satunya disebabkan oleh tidak cakapnya pengelolaan dana untuk membangun daerah. Berdasarkan data Kementrian Keuangan, anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) yang mengendap di bank pada akhir 2002 dan akhir 2009 masing-masing senilai Rp22,18 triliun dan Rp59,81 triliun.

Per akhir Desember 2011 nilainya semakin meroket menjadi Rp80,4 triliun dengan rincian Rp13,12 triliun di simpanan berjangka,Rp45,77 triliun di rekening giro,dan Rp919 miliar di tabungan. Dana yang tidak terserap itu umumnya belanja modal yang mayoritas untuk pembangunan infrastruktur.Padahal berbagai studi menunjukkan pembelanjaan di bidang infrastruktur memiliki korelasi positif dengan pertumbuhan ekonomi. Berarti dengan tersia-siakannya anggaran di daerah sama saja terjadi opportunity lost pada penduduk di daerah yang sebenarnya sangat membutuhkan kemajuan.

Hal ini menunjukkan bahwa hak kita untuk menikmati pembangunan pun setiap tahunnya dibajak oleh pemerintah. Semestinya APBD ini dapat dicairkan untuk kesejahteraan rakyat, meningkatkan pelayanan publik, dan membangun kotakota yang masih tertinggal. Keadaan ini juga perlu ditopang dengan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni dengan harapan setiap kota dapat menyikapi urbanisasi dengan baik.●

NUR’AINI YUWANITA WAKAN
Mahasiswa S-1 Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Penerima Beasiswa PPSDMS Nurul Fikri







 Dimuat di Harian Seputar Indonesia edisi cetak, 12 Oktober 2012

Online link: Seputar Indonesia





SHARE:
© Mettle in Perspective. All rights reserved.
Blogger Templates made by pipdig