9.25.2015

Semangat dari Sendai


“Ayah setuju Kak, dengan keputusan Kakak untuk ikut exchange program.
Itu seperti Kakak sedang mengambil posisi ancang-ancang untuk berlari kencang.
Kakak menunda kuliah satu tahun, itu seperti satu kaki Kakak mundur ke belakang tapi setelah itu Ayah yakin Kak, insya Allah Kakak bisa berlari jauh. Jauh lebih kencang.”
kata-kata Ayah sore itu membuat hati semakin mantap untuk mengirim berkas aplikasi ke Tohoku University di Sendai, Jepang

Sejak kecil, saya ingin sekali merasakan ‘hidup’ di luar negeri. Saya ingin tahu.. seperti apa rasanya hidup sebagai minoritas, belajar di kelas, di tengah teman-teman yang berbeda bahasa dan budaya.
Seperti apa rasanya mengalahkan ketidakpercayaan diri untuk bisa presentasi seorang diri dalam bahasa inggris berkali-kali.
Seperti apa rasanya bermain ski di musim salju, piknik di bawah pohon sakura, shalat di pinggir jalan, pergi ke taman dengan orang Brazil, melihat ratusan bintang dengan orang Kazakhistan, mengajak orang Prancis ikut buka puasa bersama, dan hal-hal lain yang tidak bisa dikonversikan dalam mata uang manusia.
Hingga akhirnya memberanikan diri pada keputusan krusial untuk cuti satu tahun dan mengikuti exchange program di Jepang.


Hari-hari terakhir

Siang itu di Global Learning Centre, Main Library Tohoku University, saya membuka presentasi terakhir dengan
dua buah foto. 

(sebenarnya dipresentasikan dalam Bahasa Inggris)
“Foto pertama ini adalah foto saya bersama keluarga Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Sendai saat matsuri. Kami membuka boothstand dan mengenalkan makanan serta kebudayaan Indonesia. Mereka ini seperti keluarga saya sendiri. Bantuan dan kebaikan mereka tidak akan pernah saya lupakan.



Foto kedua, jika teman-teman masih ingat, ini adalah foto kita saat christmast party. Inilah pertama kalinya saya mendapat hadiah-hadiah christmast yang lucu-lucu dari kalian. Saya minta maaf karena tidak bisa secara langsung membalas hadiah-hadiah itu.
Nah disini, hanya saya yang mengenakan hijab. Berbeda sekali dengan foto yang pertama, yah.





Sebagai seorang muslim, karena perbedaan dan adanya prinsip yang saya pegang itu… kepada teman-teman saya minta maaf.. karena
SHARE:

10.02.2014

Sharing Session bersama BKLASS mengenai 'Achievement'

Tulisan ini dibuat oleh Kak Reza Amaludin (CEO StudentsXCEO Yogyakarta Representative 2013). Matur nuwun, Kak, sudah diberikan kesempatan untuk bisa sharing dengan teman-teman BKLASS (Balairung Klaten Association) bulan Juni 2014 lalu.

Semoga bermanfaat, ya. :)





Bklass Sharing Shareng : Achievements with Nita Wakan

Berawal dari keinginanya memiliki gadget impian “IPAD” dan “BB”, ia memulai perjalanan prestasinya. Nita memiliki latar belakang keluarga yang memang tidak memfasilitasinya untuk mempunyai gadget yang terbilang mahal tersebut. Ia juga berada di lingkungan pertemanan yang membuatnya “iri” untuk memiliki gadget tersebut, menimbulkan keinginan untuk mendapatkanya dengan jalan lain, yaitu dengan mengikuti lomba. Pada akhirnya, IPAD dan BB idaman berhasil didapatkanya dari menjuarai dua lomba yang berbeda.

Namun, pandanganya mengenai prestasi berubah saat ia menjadi bagian dari PPSDMS Nurul Fikri Yogyakarta. Di sana ia dilatih agar tidak menjadi “Balon Kosong”, yaitu istilah untuk orang yang berprestasi namun hanya asal juara dan terkesan hanya mencari “hadiah”. Akhirnya ia mengubah haluan dengan mengikuti lomba yang memang sesuai bidang dan cita-citanya, yaitu menjadi guru dan konsultan bisnis.

Nita menyarankan kita untuk menguasai dua hal, yaitu “Bahasa Inggris” dan “Media”. Karena dua hal itu yang membuatnya mengetahui peluang-peluang event, conference atau lomba bergengsi yang bertaraf Internasional. Salah satu website rekomendasinya adalah http://conferencealerts.com. Menurutnya, penting bagi mahasiswa untuk mengikuti kegiatan yang bukan hanya tingkat nasional, namun juga Internasional.



Question & Answer

Apakah pernah merasa gagal?

Pernah, sering malah. Kegagalan terbesar adalah saat saya kelas 3 SMA. Waktu itu saya ingin sekali masuk ke Fakultas Kedokteran UI, saya merasa mampu saat itu, namun ternyata saya gagal. Teman saya yang nilainya sedikit di bawah saya justru yang diterima. Karena waktu itu saya terlalu pede dan malah tidak belajar, magang di Kompas MuDA dan Provoke! Magazine. Waktu itu saya merasa down. Malu. Hingga tidak ingin keluar kamar.

Saya berubah saat ayah saya berkata kepada saya “Kakak, sejauh ini ketika Ayah jatuh dan tidak bisa mendengar lagi (tuli), Kakak yang selalu semangatin Ayah, sekarang gantian, Kakak jatuh, kakak juga harus bisa semangat. Apa artinya jika Ayah dan Mamah mempunyai doa yang tinggi untuk Kakak, kalau Kakak tidak semangat, doanya ga akan sampai. Tegangan doanya ga sinkron. Kakak juga harus semangat.”

Seketika itu saya ubah mental saya, saya putar lagu-lagu penyemangat, saya pasang target-target yang membuat saya yakin bahwa saya bisa. Saat itu adalah turning point saya.

Saat itu saya sadar dan percaya bahwa tidak ada kegagalan, yang ada hanyalah proses belajar untuk memperbaiki kesalahan.



Adakah saran untuk mahasiswa yang memiliki passion dan background ilmu yang berbeda?

Kita sebagai mahasiswa, terlebih sebagai seorang muslim, harus bisa profesional. Kita harus bisa berprestasi, namun akademik juga harus bagus. Jika belum tahu mana yang terbaik, apakah akan mengejar passion atau ikut jalur profesional, cobalah untuk
SHARE:

8.01.2013

Merasa Bahagia

Kalau Nita kapan merasa paling bahagia?

Satu pertanyaan dari sekitar tujuh pertanyaan yang ia lontarkan kepada saya saat kami menunggu pintu studio 2 terbuka. Ia, teman dekat kakak sepupu saya, menimpali saya sebuah pertanyaan tentang kebahagiaan ketika kami mulai membahas isu tren kaum metropolis: passion.

Butuh jeda lima belas detik untuk bisa menjawab pertanyaannya. Jawaban pun sudah ada di hati dan di kepala.  Jawaban yang bakal buat mata saya berair.





Selama dua puluh tahun lebih tujuh bulan saya hidup, saya merasa paling bahagia sewaktu mendapat kabar adik saya lulus Ujian Nasional dan mendapati dirinya lebih baik. Mungkin kedengarannya ini adalah hal yang biasa bagi seorang kakak. Tapi tidak buat saya.

Waktu itu adik saya kelas enam SD dan saya kelas tiga SMA. Adik saya dikenal bandel bahkan sempat akan
SHARE:

5.08.2013

Narasi Evaluasi

Dalam sebuah lingkaran sederhana, saya diminta untuk menceritakan tentang sebuah ‘evaluasi’ yang pernah saya alami.

Hanya dua kalimat yang saya sebutkan. Saya ditertawakan. Kesempatan untuk ‘bercerita tentang evaluasi’ pun dipindahkan ke mulut teman yang lain.

Apa ada yang salah dengan pendapat saya soal ‘evaluasi’? Sehingga saya harus minum obat dan merasionalkan pikiran saya seperti yang diceletukkan oleh salah satu teman yang mendengar? Atau karena nada bicara saya yang tidak serius?

“Bagi saya, evaluasi membuat kita mengetahui keberadaan kita.” (teman-teman tertawa)

“Evaluator bisa melihat sisi yang tidak kita lihat.” (teman-teman tertawa lagi)

Tawa mereka sama sekali tidak menghibur saya tapi mengevaluasi diri saya sampai ke dalam hati.
***

Bagi saya, evaluasi membuat kita mengetahui keberadaan kita.

Ketika mengucapkan kalimat itu, seorang teman berusaha menyempurnakannya (di tengah
SHARE:

3.11.2013

Cara Keluarga

Seringkali, saya mendengar banyak orang dalam suatu perkumpulan berujar, “Buat saya, kalian adalah keluarga.”

Saya menjadi haru ketika seseorang mengatakan itu. Saya pun pernah berujar hal yang sama kepada sekelompok orang yang memang tidak ada hubungan darah dengan saya. Sampai suatu ketika, seorang teman menyadarkan saya soal kesakralan sebuah kata: keluarga.

“Buat saya kalian bukan keluarga. Maaf. Kita memang sering tertawa dan menangis bersama. Mengadakan event kecil maupun besar. Belajar dari nol bareng-bareng. Tapi bukan yang seperti itu yang bisa saya sebut sebagai keluarga. Buat saya, kalian adalah saudara.” ujar teman saya dalam farewell party suatu organisasi.

Teman saya itu mendikotomikan pemaknaan saudara dengan keluarga. Hal itu membuat saya mengacungkan tangan dan bertanya, “Dim, jadi siapa yang bisa lo sebut sebagai keluarga? Nyokap, bokap, sama adek lo aja?”

“Karena emang buat gue, cuma mereka yang bisa disebut keluarga. Ntar lo juga paham, Nit.”

Rasa-rasanya, sekarang saya paham. Cara keluarga memanusiakan kita sebagai manusia berbeda dengan cara yang digunakan oleh orang lain. Cara inilah yang akhirnya membantu kita membuat definisi tersendiri atas apa itu keluarga, saudara, sahabat, teman, dan orang lain. Cara itu berbeda-beda dan saling membedakan.
SHARE:

1.20.2012

Terimakasih Aisyah

Sebuah tulisan dari seorang sahabat, hadiah terindah (lagi) untuk angka 19:
 

Nur'aini Yuwanita Wakan

Dia adalah seorang perempuan yang begitu mempesona.
Sebagai seorang penulis, dia adalah seorang penulis yang menginspirasi. Setiap kata yang dituliskannya bisa menghasilkan motivasi dan memberi banyak informasi.

Sebagai seorang pemimpin, dia adalah pemimpin yang baik. Dia mau membaur dengan semua yang ada di bawahnya. Dia tidak lantas tegak berdiri paling depan, tapi mau mundur ke belakang.

Sebagai seorang kakak, dia adalah kakak yang sangat sayang pada adiknya. Mungkin, kalau aku jadi Faris, aku akan sangat bahagia sekali karena punya kakak yang baik seperti dia.
Sebagai individualis, dia adalah individu yang sangat bekerja keras dan bermimpi tinggi. Dia mau berusaha lebih dari sekedar yang dia mampu untuk mewujudkan semua cita cita dan mimpinya.
Dan sebagai seorang teman, dia sangat luar biasa. Dia adalah teman yang mau mendengarkan. Dia adalah teman yang sangat baik dan setia. Dan bagiku, dia lebih dari sekedar teman, dia adalah sahabat, dan dia adalah saudara. Dan bagiku dia sangat special, karena dia mengalami banyak hal pahit bersamaku.

Hari ini genap sudah bertambah usiamu. Semoga kau bisa tetap menjadi seorang Nuraini Yuwanita Wakan yang luar biasa di segala hal yaa.

Kau seperti kertas origami,
Yang selalu penuh warna dan warni,
Yang bisa dilipat menjadi berbagai macam bentuk yang unik,
Yang meskipun sudah lecek, tetap saja bisa menjadi bentuk yang bagus,
Bagiku kau adalah kertas origami,
Yang bisa menemani siapapun, dalam bentuk apapun,
dengan warna yang indah..


Selamat ulang tahun kawan.. semoga umurmu semakin berkah dan bermanfaat.

Bekasi, 6 Januari 2012.
sahabatmu, Aisyah.






#1

Terimakasih, Aisyah. Tentu saja kau begitu berlebihan dalam menilaiku.

Kamu harus tahu, duduk sebangku dengan mu rasanya seperti mimpi. Karena aku sudah mengenal namamu tujuh tahun sebelumnya!

Aisyah, nama yang selalu tertera sebagai daftar murid berprestasi dengan peringkat tertinggi. Aku selalu mencari tahu seperti apa kamu, peringkat satu: kelas, sekolah, sampai yayasan.

Dan saat itu aku sudah mengagumimu.  Ya, semenjak kelas satu SD.

Dalam do’aku, semoga jalan kita bersimpangan.

Ternyata Allah baik sekali, Ia membuat kita dekat dengan cara yang indah. Aku bisa mengenal dan belajar banyak hal darimu.

Dimulai dari tahun 2008, saat satu team dalam lomba cerdas cermat antar kelas hingga team International Junior Sains Olympiade. Dua hari bersamamu di Van Deventer tak akan aku lupa, sayang sekali aku sakit waktu itu. Maaf menjadi teman perjalanan yang menyusahkan.
Masih ingatkah mimpi untuk berdiri di podium bersama dan memegang medali emas? Aku akan wariskan mimpi kita pada generasiku, aku akan ceritakan tentang perjalanan kita pada anak cucuku nanti.

Membangun mimpi dan mengejarnya bersama, tentu saja perjuangan kita belum usai. See you on the top, Aisyah. Terimakasih karena kamu telah memberi pijakan tangga yang kuat padaku untuk selalu melangkah.


#2
Ada lagi, Aisyah. Sebelum aku mengenal Eiji Yoshikawa, Paulo Coelho, dan Haruki Murakami, aku telah mengenalmu lebih dulu sebagai seorang penulis. Aku sangat suka saat kau membuat puisi-puisi sederhana dan membacakannya di depan kelas. Atau saat kau mengenalkanku pada sosok Gie.

Kamulah orang pertama yang memberiku inspirasi untuk larut dalam dunia menulis.

Jadi tidak berlebihan bukan kalau aku mengagumimu, sahabatku?

SHARE:

Dear, Kamu.




Dear Kamu,

Terimakasih untuk selingkar strawberry cheesecake yang kamu kirim di hari spesial itu. Meski bukan kamu yang membawanya dan bukan kamu yang memilih bentuknya untukku, tapi itu lebih dari cukup. Karena bukan hanya kue, tapi juga sebuah baju.

Aku tidak mengerti,

Setelah lebih dari tiga tahun kita tak saling menyapa, kamu datang dengan kebaikan yang sangat.

Aku bahkan tidak tahu sudah setinggi apa kamu hari ini, karena saat terakhir kita bertemu, aku hanya perlu mendongak sedikit saja untuk bisa melihat matamu.

Pernah suatu ketika, lampu rumahku padam, dan suaramu lah yang menemaniku hingga lampu menyala kembali. Sekarang aku tidak tahu seperti apa suaramu, tapi dari kalimat-kalimat yang kamu ketikkan kepadaku sebelum hari spesialku datang, itu menunjukkan bahwa kamu telah lebih dewasa.

Dan aku yakin, semua yang kamu lakukan sudah kamu pikirkan sebab-akibatnya.

Ah, kamu.

Kiriman itu membuat aku serasa menjadi Otsu dalam kisah Miyamoto Musashi.  Diantara keduanya ada ‘keyakinan’ yang membuat jarak diantara mereka, semakin jelas. Membuat entitas rasa semakin manis, seperti kisah kita bukan?

Maafkan aku untuk tetap berada pada 'candu' yang kupilih.
Dunia ini selalu penuh dengan bunyi gelombang. Ikan-ikan kecil menyerahkan diri mereka kepada gelombang, menari, menyanyi, dan bermain, tapi siapa yang bisa mengenal hati laut tiga puluh meter di bawahnya? Siapa yang kenal akan kedalamannya?
SHARE:

11.05.2011

Dorm Stuff vs Mr. Right





Wallpapernya dibuat dari karton dan origami. Ini Gieta yang buat lho! Pulang dari interview AIESEC, kaget juga ngeliat Gieta lagi sibuk ngegunting origami. Kreatif Giet!

Setelah memperhatikan, bentuknya pas banget buat ekspektasi selama kuliah ini: combination of star and love.

Star atau bintang, melambangkan dream, cita-cita, juga prestasi. Sebagai pengingat untuk selalu produktif dan engga boleh males-malesan.

Love atau cinta. Sembari mengejar cita-cita, bolehlah mencari cinta. Tapi sampai sekarang, efeknya malah bikin para penghuninya menggalau saban hari.

"Aduh, mau banget ada yang modusin"

"Yaampun Kak bla-bla-bla online!"

"Eh, ganteng tuh, ganteng, yah tapi udah punya cewe."

Ternyata setelah melakukan penelitian, kegalauan seperti ini engga hanya terjadi di kamar kami. tapi juga menghinggapi hati para wanita. Lebih tepatnya wanita-wanita single (atau jomblo?)!

Pengen juga sih ada 'seseorang' yang bisa diajak diskusi, yang nemenin ngerjain tugas sampai malem, yang bisa mengingatkan dan menasehati, yang mau diajak susah apalagi hahaha.

Ditambah ngelihat temen-temen sudah pada punya 'seseorangnya' masing-masing. Duh!

Untuk menjaga perasaan itu tetap pada jalurnya, juga mengingat hukum dalam kepercayaan yang saya anut, saya selalu percaya bahwa wanita yang baik diciptakan untuk pria yang baik, begitupun sebaliknya.

Mungkin saja saya belum dipertemukan oleh 'seseorang' itu karena dia nilainya sudah 9 sedangkan saya masih 3. Jadi Allah memberikan saya waktu untuk memperbaiki diri terlebih dahulu.

so how'll I ever find the right Man?

Forget finding the right Man, focus on being the right Woman :)
SHARE:

9.23.2011

When I'm Down (SNMPTN) Part 1

Lagi buka-buka file lama dan menemukan sebuah file dengan judul "Never Give Up" di harddisk. Ternyata sebuah tulisan yang saya buat sebelum SNMPTN Tertulis. Pas baca lagi jadi sedih dan teringat masa-masa perjuangan itu. Semoga bisa diambil pelajaran.


Never Give Up


Menjadi dokter adalah salah satu impian terbesar saya. Mimpi akan kedokteran telah saya bangun sedemikian rupa hingga terasa indah sekali untuk sekedar dibayangkan.

Tanggal 17 Mei 2011, saya dan beberapa sahabat berkumpul untuk melihat pengumuman SNMPTN Undangan bersama-sama.  Memasukkan nomer ujian dengan gemetar diselingi halaman twitter yang Alhamdulillah, penuh dengan keberhasilan teman-teman yang sudah diterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

Bismillahirrahmanirrahiim.

Saya memasukkan nomer ujian dengan perlahan dan mengkoreksi setiap angka yang saya ketik,

dan… Ya. Saya menahan nafas beberapa detik.

Saya tidak lulus seleksi.

Saya tidak lulus FK UI.

Begitu pula sahabat-sahabat saya di ruangan itu. Kami semua tidak lulus SNMPTN Undangan. Seperti sebuah takdir yang mempertemukan kami untuk saling menguatkan saat itu.

Sungguh, saya tidak tahan untuk tidak menangis. Sambil menahan air mata, saya pamit sebentar untuk memberi kabar orang-orang di rumah. Saya berlari menuju rumah ditemani angin malam yang kencang.

Di sepanjang jalan, saya menangis. Saya tidak peduli lagi dengan orang-orang di jalan yang memperhatikan saya.

Sesampainya di rumah, saya langsung bersujud di kaki kedua orang tua, di kaki mama dan ayah. Di bawah kaki mereka, saya terus menangis. Menangis sejadi-jadinya. Ayah langsung menarik saya berdiri sambil menyeka air mata yang juga turun dari kedua matanya.

Lima hari saya mengurung diri di kamar. Keluar kamar pun hanya sesekali. Menghampiri mama lalu menangis. Mental saya jatuh. Jatuh sejatuh-jatuhnya. Mungkin terlihat berlebihan, tapi sungguh, itu yang terjadi.  Saya takut menghadapi kegagalan. Saya takut untuk menghadapi kegagalan lagi di ujian selanjutnya: SNMPTN Tertulis. Yang hanya berselang 2 minggu dari pengumuman.

Saya belum siap untuk menghadapi kenyataan kalau saya….tidak menjadi dokter.

Sampai suatu malam, ayah memanggil saya. Lalu mulai berkata,

 Ayah dan mama atau siapapun, engga ada yang bisa ngebantu kakak. Cuma kakak yang bisa bantu diri kakak sendiri. Ayah dan mama hanya bisa berdoa.

Kak, kalaupun ayah dan mama berdoa, tapi dalam diri kakak sendiri tidak ada keyakinan kalau kakak bisa, semuanya itu percuma. Ibaratnya, mama dan ayah sudah memberi aliran listrik 10000 mega ampere  tapi daya kakak cuma 2 watt.  Instalasi nya engga nyambung.

Kak, ayah engga berharap apa-apa lagi kecuali keyakinan diri kakak kembali. Inget Kak, bukan kemenangan mendapatkan kursi di PTN aja yang kaka perjuangin. Tapi lebih dari itu, KEMENANGAN MENTAL.

Waktu ayah menghadapi tes wawancara dengan kondisi ayah yang engga bisa mendengar lagi (tuli), kakak yang selalu semangatin ayah dan bilang kalau ayah bisa. Kakak yang selalu memotivasi ayah. Sekarang waktunya kakak untuk membuktikan ucapan kakak ke ayah dulu.

Ayah benar. Begitu mudahnya saya memotivasi orang lain. Menulis kalimat-kalimat penyemangat. Membuat cerita-cerita inspirasi. Sekarang lah saatnya bagi saya untuk mempertanggungjawabkannya.

So I’ll never give up, never give in, never let a ray of doubt slip in. And if I fall, I’ll never fade, I’ll just get up and try again.


Sekarang bukan lagi kursi PTN yang ingin ditaklukan.

Tapi mental tempe yang ada dalam diri.

bersambung.
SHARE:

9.12.2011

Dokter Akuntan

Beberapa teman beranggapan bahwa pilihan saya melanjutkan studi ke jurusan akuntansi adalah sebuah pelarian. Pelarian dari tidak diterimanya saya di Fakultas Kedokteran di beberapa Perguruan Tinggi Negeri. Saya hanya bisa tersenyum ketika hampir seluruh teman yang saya temui menanyakan hal yang sama, "Kok jadi akuntansi, Nit?"

Untuk mereka yang mengenal saya, tentu tahu, betapa inginnya saya masuk ke sekolah kedokteran. Betapa saya menulis banyak tentang keinginan saya di kedokteran, di blog, di kertas ulangan, dan tempat-tempat umum.

Sekarang, saya hanya bisa tertawa mengingat itu semua. Betapa mudahnya saya mengucapkan mimpi tanpa diikuti dengan action yang tepat.

Di saat teman-teman seperjuangan mengerjakan soal-soal try out snmptn dan sebagainya, saya masih sibuk dengan mencari berita, menulis artikel, dan magang di beberapa majalah. Saya hanya berpikir, nothing impossible. I can have it all at once.

But I was wrong. 'Nothing impossible' also has a natural law. If you want something, go get it. Focus. Go get it. Period.

Dan pertanyaan "Kok jadi akuntansi, Nit?", jawabannya pun masih sama.

Dulu sebelum masuk ke penjurusan IPA/IPS, setiap ditanya cita-cita, saya menjawab 'ingin jadi Gubernur Bank Indonesia'. Seiring berjalannya waktu dan berkutat dengan biologi, kimia, fisika, muncullah keinginan menjadi dokter. Saya bimbel sampai malem pun mengerjakan soal-soal IPA, buku-buku soal IPA bertumpukan di meja belajar.

Ketika saya gagal masuk kedokteran melalui seleksi pertama (SNMPTN Undangan), saya bertemu teman lama, Teguh Imam Dirgantara (STEI ITB) yang mengingatkan saya akan mimpi 'Gubernur BI'.

Seperti mendapat pencerahan dan saya langsung bersemedi di dalam kamar selama lima hari untuk menentukan pilihan apa saja yang akan saya jatuhkan untuk SNMPTN tertulis. Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahiim, saya memilih kedokteran dan akuntansi.

Bagi saya, menjadi dokter akan selalu menjadi salah satu keinginan terbesar hingga kapanpun. Dan akuntansi bukanlah sebuah pelarian, melainkan sebuah pilihan dan jawaban. Menjadi Gubernur BI pun bukanlah tujuan, melainkan pembangkit semangat.

Sehingga terimakasih untuk semua teman-teman yang ada ketika saya jatuh, ketika saya tidak berani keluar kamar karena malu tidak lulus, untuk semua teman yang menemani dan menyemangati saya belajar.

Untuk semua teman yang telah percaya. Terimakasih.


SHARE:

8.11.2011

Pesan dari Anak-anak Harapan Rabbani!


Menjadi panitia acara ulang tahun teman sungguh mengasyikkan. Apalagi ketika teman tersebut memilih untuk berbagi kebahagiaan ulang tahunnya bersama adik-adik kecil yang lucu-lucu ini:


Foto bersama adik-adik dari Yayasan Harapan Rabbani*, Galaxy-Bekasi.


Gemas sekali melihat mereka tertawa apalagi yang giginya ompong. Kelihatan engga?


Nah kertas apa sih yang mereka pamerkan? itu adalah lukisan buatan mereka masing-masing.


Jadi, sebagai panitia, saya ada sedikit ide untuk menambah program acara selain makan bersama dan kuis berhadiah. Yaitu acara menggambar cita-citaku di masa depan!


Meskipun hanya 15 anak yang dari awal telah ikut serta, tapi acara cukup ramai karena mereka benar-benar antusias menggoreskan pensil berwarna ke kertas gambar


Setalah sekitar 30 menit menggambar, mereka diberikan kesempatan untuk menceritakan impian mereka di depan kami dan teman-teman yang lain.


Dan ternyata gambar mereka bagus-bagus sekali. Ada yang menggambar pabrik mobil karena ingin punya perusahaan mobil, kapal pesiar karena ingin jadi nahkoda, gambar buku karena ingin jadi penulis, bahkan gambar sawah karena ingin jadi petani dan yang paling banyak adalah gambar guru dan dokter. Subhanallaaaaaah ya!


cita-citaku: guru


cita-citaku: arsitek


Wah kalau melihat mereka menceritakan impian tinggi mereka dengan penuh semangat, rasanya saya iri karena mereka, anak-anak yang masih berpikir everything is possible.


Dulu waktu kecil, tinggal ikat selimut di punggung, kita langsung jadi superman. Ambil sapu punya mama terus kita bawa deh layaknya seorang penyihir. Panjat pohon tinggi-tinggi dan engga takut jatuh.


Dengan mudah kita - diwaktu kecil - melakukannya!


Sekarang ketika dewasa? Sering banget berpikir i'm not possible. Padahal we just have an idea and make it happen. Cobalah berpikir seperti anak-anak.



Pertemuan saya dengan mereka lah yang kembali mengingatkan saya untuk think when i were still a kid, terimakasih anak-anak Harapan Rabbani :)




*Yayasan Harapan Rabbani


Yayasan Graha Yatim dan Dhuafa, Galaxy-Bekasi (021-8200098)

SHARE:

12.24.2010

Kisah iPad, Nokia, & BlackBerry

Ini tentang kisah iPad, Nokia & BlackBerry yang jatuh ke tangan seorang manusia biasa. Yang diantara ketiganya punya cerita tersendiri.


Kisah iPad
Untuk mengetahui apa itu iPad, silahkan klik --> iPad.



Setiap kali mendengar, melihat, bahkan mengetik huruf yang membentuk kata iPad, hati saya bergidik. Sore menjelang senja waktu itu, saya menerima kiriman sms yang menyatakan saya berhasil memenangkan sebuah kontes menulis yang diselenggarakan oleh Pesta Blogger bekerjasama dengan JCU Singapore. Saya mendapat kategori most creative writing atau tulisan paling kreatif. Dan itu artinya saya berhak mendapat sebuah iPad!

Klik --> tulisan (untuk membaca tulisan yang saya lombakan)
Klik --> pengumuman (untuk melihat hasil pemenang)


Saya langsung sujud syukur. Alhamdulillahirabbil alamin, sebut saya terus menerus dalam hati. Saya jadi agak heboh dan lepas kendali. Meski di rumah seorang teman, saya tetap teriak-teriak kegirangan, “Dina, Nurul, aku dapat iPad, iPad!!!”

Ibu teman saya pun sampai bertanya, “Din, itu teman kamu kenapa?” Mirisnya, saya jadi kehilangan etika dan moral bertamu di rumah orang karena teriakan-teriakn yang menganggu.

Sepersekian menit dari luapan emosi kebahagiaan yang saya tunjukkan, sebuah sms dari pengirim yang sama masuk, ia memberitahukan bahwa hadiah di oper ke peringkat 2 karena saya tidak menghadiri acara pengumuman pemenang dan penyerahan hadiah. Karena saya tidak menghadiri acara pengumuman pemenang sekaligus penyerahan hadiah maka saya TIDAK mendapat hadiah (baca: iPad).



Entahlah, seperti tersambar petir, kilat, badai, dan hal-hal menakutkan lainnya. Hal mengejutkan masih datang bertubi-tubi karena si pengirim sms itu ternyata adalah orang yang berada di peringkat 2, Kak Lily-teman sekelas saya!


Duaaaaaarrrrr-seperti genderang mau pecah. Saya benar-benar bingung. Apa yang harus saya lakukan. Apa, apa yang harus saya lakukan?


Di tengah kebingungan yang mencekam, Kak Lily memberikan tawaran untuk menjual iPad tersebut kemudian hasil penjualan akan dibagi dua. Tanpa berpikir panjang, saya membalas: OKE.


Hei, kenapa saya balas oke?! Bukankah akan lebih bijaksana kalau saya mengatakan, “Tidak perlu, kak. Itu milik Kak Lily. Rezekinya Kak Lily. Saya ikhlas, kak.”
(Wee heng, Juri asal Singapore menghibur kesedihan saya:D)

Tapi seburuk apapun saya, sedikit apapun amal perbuatan saya di dunia yang fana ini, saya hanyalah manusia biasa yang tidak luput dari dosa, juga dari nafsu duniawi. Astaghfirullah aladzim alladzi laa illaha illa huwal hayyul qayyum wa atuubu ilaih.


Dan tidak lupa saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Kak Lily yang bersedia membagi rezekinya dengan saya. Semoga Allah SWT membalas perbuatannya. Ini akan selalu saya ingat, Kak :)

#Moral: Selalu hadiri acara pengmuman pemenang dan penyerahan hadiah apapun meski kamu enggak yakin menang. Karena sebuah ketidakyakinan adalah keyakinan.



Kisah Nokia & Black Berry (BB)

Berbekal kesalahan di minggu sebelumnya, saya langsung tancap gas ke Gedung Pusat Telkomsel untuk menghadiri acara penyerahan hadiah ‘Program be a Reporter’ Telkomsel. Lomba essay tingkat pelajar dan mahasiswa se-Jabodetabek dengan tema ‘Aku Cinta Indonesia’.




Alhamdulillahirabbil alamin, saya mendapat sebuah BlackBerry. Itu artinya saya harus mengucapkan selamat tinggal kepada Pasangan jiwa saya: Nokia 6630 Silver.

Sebagai perkenalan, Nokia 6630 Silver yang telah menemani saya selama 5 tahun, memang sudah mengalami penuaan. Keypad atasnya telah rusak 2 tahun yang lalu. Namun karena kesetiaan yang saya miliki, saya tetap menerima ia apa adanya. Saya menerima ia SEUTUHNYA. Ini terbukti dengan casing asli, baterai asli, memory 64 MB asli, dan semuanya UTUH saya pakai selama 5 tahun.


Sempat terlontar sebuah lelucon dari teman saya, “HP lo boleh jadul nit, tapi punya iPad, HA-HA-HA.” maklum dia tidak tahu kisah-kasih saya dengan iPad yang berliku-liku.

Atau, “Ganti HP dong, Nit.” “Pakai BB dong, Nit.” “iPhone lah,Nit. iPhone.”



Dengan tegas dan penuh pengertian, saya membalas semua apa yang mereka lontarkan itu dengan, “Iya nih belum mau ganti, masih setia. 5 tahun lho!” Meski sebenarnya banyak sekali alasan lain di luar sebuah kesetiaan.

Sekarang dengan berat hati, sekali lagi saya harus mengakui, bahwa saya hanyalah MANUSIA biasa, yang juga ingin merasakan teknologi baru yang membuat beberapa teman saya keranjingan.

“Welcome home, BlackBerry Girl!” ucap beberapa teman saya di Messenger.

“Mana kesetiaan lo, Nit? Mana Nita yang gue kenal dulu. Yang setia, kuat, ceria……HA-HA-HA.” Ucap seorang teman di tengah ujian akhir semester.

#Moral: Manusia tidak pernah puas meski mengaku setia.
SHARE:

10.08.2010

Romantisme Sederhana

sumber: tumblr.com


Akhir-akhir ini saya sering mendapat surat cinta. Bukan surat cinta yang macam-macam yah,
Ini karena saya senior di OSIS dan paskibra, ada saja ritual yang mengharuskan adik-adiknya menulis surat cinta pada kakak-kakaknya. Kasihan juga yang menulis surat cinta untuk saya, mereka harus berbohong :p

Tapi cukup seru membacanya, apalagi kalimat-kalimat berlebihan seperti,
Kalau kini ku kirim surat ini, kak, artinya saya sudah tidak tahan lagi memendam rasa sukaku padamu. Bahaya juga yah kalau sudah tidak bisa ditahan lagi :D

Atau, Kau yang cantik dengan tubuh semampai langsung menyita perhatianku. Apalagi senyummu yang manis. Wah tambah parah bohongnya.

***
Sebenarnya yang terpenting, surat-surat itu mengingatkan saya pada sebuah surat tanpa nama, dari
seseorang empat tahun yang lalu. Saya temukan surat itu di dalam tas saya, dan saya benar-benar kaget membacanya. Antara rasa senang, penasaran, dan takut.

Senang, karena itu surat cinta saya yang pertama. Surat cinta sungguhan.
Penasaran, karena saat itu saya belum tahu siapa pengirimnya.
Takut, karena saya takut kalau orang yang menulisnya bukanlah orang yang saya harapkan.

Percaya atau tidak, sekarang saya sudah mengetahui siapa pengirimnya.
Seseorang yang empat tahun lalu pun sebenarnya berhasil mencuri hati saya, sebelum dia menulis surat itu. Tentu saja, dia tidak tahu soal ini. (kecuali dia membaca posting saya sekarang) dan mungkin, kita sudah punya jalan masing-masing. Melankolis sekali yah.

Di awal paragraf, dia mengatakan bahwa dia takut. Sungguh, seandainya dia sadar, dia bukan orang yang penakut. Berapa banyak pria yang bahkan tidak berani ataupun gengsi untuk sekedar menulis surat seperti miliknya.

Paragraf-paragraf selanjutnya: penuh dengan pujian.

Di akhir paragraf, dia tulis, aku tunggu jawabannya (besok) nanti ya. dari orang yang selalu memperhatikanmu. Dia mencoret kata besok menjadi NANTI.

Apakah NANTI itu adalah sekarang, besok, lusa, atau 10 tahun lagi? Entahlah.

Kalau saya bisa membuat resensi atas suratnya, maka bahasanya begitu sederhana dan apa adanya. Tidak ada kalimat puitis sama sekali. Kertas yang ia gunakan pun hanya selembar sobekan buku tulis. Tanpa amplop, tanpa bunga, tanpa cokelat, tanpa wangi-wangian. Semua begitu sederhana.

Dan memang saya menyukai sesuatu yang apa adanya. Bukankah kejujuran adalah sebuah romantisme sederhana?



Saya telah berjanji untuk menyimpan surat itu sampai tua nanti :)
Dan saya benar-benar berterimakasih kepadanya karena telah bersedia mengisi beberapa lembar kenangan dalam buku kehidupan saya.
Fellas!
SHARE:

3.22.2010

Misteri Kehidupan


Hidup itu adalah misteri.
Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok.
Pada siapa hati ini akan berlabuh,
Akan jadi apa kita,
Dokter, arsitek, insinyur,
menteri, presiden, atau pedagang keliling?

Tidak ada manusia yang tahu.
Sekalipun kau bertanya pada wanita yang melahirkanmu.
Ia akan menggeleng tidak tahu.

Tapi, bukan berarti ia tidak mau tahu.
Wanita itu dan juga pria yang membesarkanmu,
Mungkin menggeleng dan berkata,
“Kami tidak tahu engkau akan jadi apa, Nak.”

“Tapi kau harus bahagia apapun kau nanti.
Seperti kami yang selalu bahagia
dan menerima seperti apapun engkau.”

***

Ini beberapa bulan yang lalu, ketika saya mengikuti sebuah seleksi yang cukup bergengsi,
, mereka dengan keras melarang saya. Tapi dengan segala usaha, saya mendapat dukungan dari Ayah dan berhasil lulus dalam seleksi itu.
Dimana ibu saya?
Dia tidak mendukung saya.

Apa saya harus tetap menyelesaikan seleksi itu sedang orang yang paling saya hormati dan saya cintai, IBU tidak mendukung saya sepenuhnya.
Apa bisa saya berdiri tanpa ridha Ibu?
Berjalan tanpa wanita yang namanya saya sebut, saat saya pertamakali bisa berbicara?
Apa bisa saya berlari tanpa doa dari wanita yang telah melawan kematian
hanya untuk melahirkan saya?

Agama saya mengajarkan bahwa,
“surga berada di bawah kedua telapak kaki Ibu.”
Dan ridho Allah terletak pada ridho orang tua.

Bu....Apa Ibu tidak tahu, apa Ibu tidak sadar, ini kan untuk masa depanku.
Kalau aku berhasil, kan Ibu juga yang senang.

Tapi sampai pada detik terakhir, saya tidak menyelesaikan seleksi itu.


***

Itu beberapa bulan yang lalu, teman-teman. Sekarang saya telah berbesar hati menerima semuanya. Apapun itu.

Sambil mencium kening Ibu saat beliau tidur, saya berterima kasih.
Meskipun saya belum tahu sampai saat teman-teman membaca ini pun,
Saya masih belum tahu,

Kenapa Ibu tidak membolehkan saya mengikuti pertukaran pelajar?

Yang saya yakini, Allah punya rencana sendiri :)
Dan feeling seorang Ibu kepada ananknya adalah kuat, sangat kuat.

Seperti kata Dr. Ibrahim Elfiky dalam bukunya yang saya baca, yang berjudul ‘Terapi Berpikir Positif’

Kadangkala Allah menutup pintu yang ada di depan kita,
Tapi Dia membuka pintu lain yang lebih baik.
Namun, kebanyakan manusia menyia-nyiakan waktu,
Konsentrasi, dan tenaga untuk
Memandang pintu yang tertutup
Daripada menyambut
Pintu impian yang terbuka di hadapannya.




SHARE:

3.21.2010

Misteri Kehidupan


Hidup itu adalah misteri.












Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok.
Pada siapa hati ini akan berlabuh,
Akan jadi apa kita,
Dokter, arsitek, insinyur,
menteri, presiden, atau pedagang keliling?
Tidak ada manusia yang tahu.
Sekalipun kau bertanya pada wanita yang melahirkanmu.
Ia akan menggeleng tidak tahu.

Tapi, bukan berarti ia tidak mau tahu.
Wanita itu dan juga pria yang membesarkanmu,
Mungkin menggeleng dan berkata,
“Kami tidak tahu engkau akan jadi apa, Nak.”

“Tapi kau harus bahagia apapun kau nanti.
Seperti kami yang selalu bahagia
dan menerima seperti apapun engkau.”

***

Ini beberapa bulan yang lalu, ketika saya mengikuti sebuah seleksi yang cukup bergengsi,
, mereka dengan keras melarang saya. Tapi dengan segala usaha, saya mendapat dukungan dari Ayah dan berhasil lulus dalam seleksi itu.
Dimana ibu saya?
Dia tidak mendukung saya.

Apa saya harus tetap menyelesaikan seleksi itu sedang orang yang paling saya hormati dan saya cintai, IBU tidak mendukung saya sepenuhnya.
Apa bisa saya berdiri tanpa ridha Ibu?
Berjalan tanpa wanita yang namanya saya sebut, saat saya pertamakali bisa berbicara?
Apa bisa saya berlari tanpa doa dari wanita yang telah melawan kematian
hanya untuk melahirkan saya?

Agama saya mengajarkan bahwa,
“surga berada di bawah kedua telapak kaki Ibu.”
Dan ridho Allah terletak pada ridho orang tua.

Bu....Apa Ibu tidak tahu, apa Ibu tidak sadar, ini kan untuk masa depanku.
Kalau aku berhasil, kan Ibu juga yang senang.

Tapi sampai pada detik terakhir, saya tidak menyelesaikan seleksi itu.

***

Itu beberapa bulan yang lalu, teman-teman. Sekarang saya telah berbesar hati menerima semuanya. Apapun itu.

Sambil mencium kening Ibu saat beliau tidur, saya berterima kasih.
Meskipun saya belum tahu sampai saat teman-teman membaca ini pun,
Saya masih belum tahu,

Kenapa Ibu tidak membolehkan saya mengikuti pertukaran pelajar?

Yang saya yakini, Allah punya rencana sendiri :)
Dan feeling seorang Ibu kepada ananknya adalah kuat, sangat kuat.




Seperti kata Dr. Ibrahim Elfiky dalam bukunya yang saya baca, yang berjudul ‘Terapi Berpikir Positif’Kadangkala Allah menutup pintu yang ada di depan kita,
Tapi Dia membuka pintu lain yang lebih baik.
Namun, kebanyakan manusia menyia-nyiakan waktu,
Konsentrasi, dan tenaga untuk
Memandang pintu yang tertutup
Daripada menyambut
Pintu impian yang terbuka di hadapannya.











SHARE:

3.12.2010

Roda Kehidupan & Kertas Ujian


Pernahkah kalian ingin berteriak di tepi jurang?
Atau di tepi laut, eh tepi pantai?
Yaaa.. apapun deh.

“Hidup itu seperti roda yang berputar, kawan.
Kadang di atas, kadang di bawah.”

Tapi bagaimana dengan roda yang bergerak dengan kecepatan sudut 40 rad/s, yang memiliki momen inersia 4 kgm2 dengan sebuah momen gaya 50 Nm. Berapa sudut putaran yang ditempuh setelah 6 sekon?

a. 225 radian
b. 240 radian
c. 315 radian
d. 465 radian
e. 3053 radian

Yaa kurang lebih seperti itulah yang rasanya membuat

saya ingin berteriak.
Itu hanyalah sebuah soal fisika pilihan berganda, teman-teman.
Lantas, apakah soal-soal seperti itu yang membuat saya ingin berteriak?

Bukan.

Meskipun belum tentu saya dapat menjawab soal itu, tapi bukan soal fisika dinamika rotasi yang sampai senang hati membuat saya ingin berteriak. Sekali lagi bukan.

Tapi masalah yang saya ataupun teman-teman hadapi saat ini, bisa saya ibaratkan seperti soal fisika pilihan berganda di atas.

Hidup itu ibarat selembar kertas putih. Selembar kertas soal ujian tengah semester yang baru saya lewati.
Di dalam selembar kertas putih itu terdapat soal-soal yang berjumlah puluhan. Seperti masalah dalam hidup kita ini.
Yang butuh penyelesaian.

Ketika kita tidak menemukan jawaban dari soal fisika, kimia, atau apapun. Ketika nilai yang kita temukan tidak terdapat dalam pilihan, kita akan menggunakan perasaan kita. Menebak-nebak.
Tang-ting-tung sampai yang paling kuno: menghitung kancing.
Sekalipun kita menyontek atau bertanya pada teman, kita sendiri lah yang akan memutuskan,
Lingkaran manakah yang akan kita hitamkan.

Masalah dalam hidup ini,
ketika tidak bisa lagi kita selesaikan dengan logika,
Kita akan berlari pada hati. Pada perasaan.

Mau hati yang bersih (percaya pada jawaban sendiri) atau hati yang kotor (mengambil jawaban teman lalu berpikir lagi), soal itu harus kita jawab atau kita mau menanggung malu karena remedial?

Ketika kita mengalami stuck (kebuntuan), kita memilih satu jawaban yang kita anggap “ah...udahlah ini aja.”
Ternyata setalah membuka buku atau bertanya kepada teman yang pintar, jawaban kita BENAR!
Betapa bahagianya kita.
“Alhamdulillah.” atau “Betapa beruntungnya saya.”

Ingat, teman-teman.
Setiap permasalahan PASTI ada penyelesaiannya.
Tapi hati-hati, selalu ada banyak pilihan lain yang bisa membuat kita salah.
Seperti kenapa diciptakannya soal pilihan berganda yang tak lain tak bukan adalah untuk mengecohkan jawaban kita.

Dan kenapa juga saya menulis hal-hal seperti ini?
Karena saya ingin memotivasi diri saya sendiri.

Ingat, ketika tidak ada lagi orang yang bisa memberimu motivasi,
Kamu masih punya dirimu sendiri,
Dan yang terpenting, kamu masih punya Allah.
Yang enggak akan pernah meninggalkanmu sendirian.

Tahukah teman-teman, bahwa setiap keputusan apapun yang kita buat,
Telah tertulis di lauh mahfuz
Jadi jangan pernah takut membuat keputusan.
Percayalah, cahaya Allah selalu mengalir di dalam setiap darah kita semua.
Yang artinya, Allah selalu bersama di dalam setiap keputusan atau tindakan yang kita ambil.

Nanti teman-teman sendirilah yang bisa merasakan.
Perbedaan keputusan dan tindakan yang kita ambil saat kita mengingat Allah dan saat kita tidak mengingat Allah.


Ayooo Semangat!



SHARE:
© Mettle in Perspective. All rights reserved.
Blogger Templates made by pipdig