3.01.2015

Sahabat (Pertama Kalinya)


People come, people go – they’ll drift in and out of your life, almost like characters in a favorite book. When you finally close the cover, the characters have told their story and you start up again with another book, complete with new characters and adventures. Then you find yourself focusing on the new ones, not the ones from the past.


Nicholas Spark dalam The Rescue ada benarnya.

Akhir-akhir ini begitu banyak orang yang hadir dan pergi begitu cepat. Bak membaca belasan novel secara marathon di penghujung winter break. Orang-orang ini, yang begitu membekas kehadirannya pun kepergiannya dalam hidup kita, mirip seperti karakter favorit dalam novel favorit. 

Dalam kehidupan nyata, karakter favorit ini bisa punya nama lain: keluarga, sahabat, pasangan hidup, orang yang kita kagumi diam-diam pun orang asing yang menginspirasi.
Sahabat (pertama kalinya), menjadi karakter favorit yang ingin saya ceritakan kali ini.







Saya tidak pernah membayangkan akan memiliki sahabat yang bahasa ibunya berbeda dengan bahasa saya. Sahabat yang berasal dari tanah kelahiran yang berbeda dengan saya. Sahabat yang terkejut setelah mengetahui saya harus ibadah lima kali sehari dan harus bangun jam lima pagi. 

Inilah pertama kalinya, saya menangisi kepergian seorang wanita muda China dan seorang wanita muda Vietnam di bandara.

Kami bertemu dalam program pertukaran pelajar di Jepang. Sayang, mereka hanya mengambil short program (enam bulan) sedang saya mengambil waktu satu tahun. Artinya mereka meninggalkan Jepang dan kembali ke negara asal lebih dulu. Menjadi pihak yang ditinggalkan, membuat saya jadi melo dramatic.


Saya rindu perhatian-perhatian kecil mereka.
Seperti suatu sore saat salju turun begitu lebat. Tidak ada bus dan taksi yang beroperasi. Kami harus pergi ke farewell party dengan jalan kaki melawan suhu udara yang begitu dingin. Summer, sahabat saya dari China, terus membersihkan salju yang jatuh ke coat saya. Tangannya dengan sigap membersihkan setumpuk salju yang jatuh ke tas, pundak dan punggung saya sepanjang perjalanan menuju Sendai Eki. 

Atau saat Hien, sahabat saya dari Vietnam yang tidak pernah bosan mengingatkan saya untuk menandatangani Jasso Scholarship setiap awal bulan. Jika lupa tanda tangan, saya tidak akan mendapat beasiswa pada bulan tersebut. “Nanti kalau aku pulang (ke Vietnam), kamu enggak boleh lupa buat tanda tangan lagi ya.” pesannya pada saya. 

Juga saat kami melintasi Aoba-dori dan saya mulai bercerita tentang rencana saya untuk memulai bisnis. Mereka langsung menawarkan diri jadi investor dan bilang kalau mereka tidak bercanda dan menunggu saya mengeksekusi rencana saya yang mereka anggap menggiurkan.


Kini Summer sedang melanjutkan studinya di Beijing, Hien di Hanoi, dan saya masih akan tinggal di Sendai hingga bulan kedelapan tahun ini. 

“Nita, please send me a message when you have time.” ucap Hien melalui voice message.


“My dear, send email to me. It would be hard for me to use facebook in China.” pinta Summer di group chat kami, Wonder Women. 

Saya rindu saat-saat dimana kami pergi ke Seiyu Supermarket setiap Rabu siang usai Nihongo Class kemudian masak bersama. Mereka akan jadi orang yang paling sibuk, cerewet, dan teliti untuk memastikan bahwa bumbu dan makanan yang kami beli tidak mengandung pork dan alkohol. 



Sambil masak dan makan hot pot, takoyaki, sushi, tahu isi, nasi goreng, kami akan mulai membicarakan rencana kehidupan kami setelah program exchange. Summer akan menyelesaikan studi S1-nya dan langsung mengambil master di China. Ia mendapat beasiswa penuh di salah satu universitas terbaik di Beijing. Hien masih harus menyelesaikan empat semester kuliahnya dan berencana untuk melanjutkan studi di UK bersama sang kekasih yang begitu setia. Oh, every night they must meet at skype. 

Saya? Saya bilang ke mereka kalau usai lulus S1, saya berencana untuk menikah dan plan selanjutnya dirancang bersama suami nanti. Ekspresi mereka kaget. “It’s too fast. You need more time for your own career. Did you already find your right man? ”

Biarpun kami punya mindset yang berbeda soal masa depan juga keyakinan yang berbeda, tapi selera lidah kami sama: we like spicy food and sweet cakes!


Selain itu, kami juga bersepakat untuk saling mengunjungi pernikahan masing-masing.

“I will find a rich guy so he can buy tickets for you to come to our wedding in China!!” seru Summer, anak pemilik tujuh puluh pohon cherry di Beijing.


Kami tertawa. 


Dalam hati, saya berdoa, semoga kami bisa bertemu lagi.



SHARE:

8.01.2013

Merasa Bahagia

Kalau Nita kapan merasa paling bahagia?

Satu pertanyaan dari sekitar tujuh pertanyaan yang ia lontarkan kepada saya saat kami menunggu pintu studio 2 terbuka. Ia, teman dekat kakak sepupu saya, menimpali saya sebuah pertanyaan tentang kebahagiaan ketika kami mulai membahas isu tren kaum metropolis: passion.

Butuh jeda lima belas detik untuk bisa menjawab pertanyaannya. Jawaban pun sudah ada di hati dan di kepala.  Jawaban yang bakal buat mata saya berair.





Selama dua puluh tahun lebih tujuh bulan saya hidup, saya merasa paling bahagia sewaktu mendapat kabar adik saya lulus Ujian Nasional dan mendapati dirinya lebih baik. Mungkin kedengarannya ini adalah hal yang biasa bagi seorang kakak. Tapi tidak buat saya.

Waktu itu adik saya kelas enam SD dan saya kelas tiga SMA. Adik saya dikenal bandel bahkan sempat akan
SHARE:

6.10.2013

Apa kabar hati?


Tiga hari lalu, saya menemukan coklat chacha di dalam lemari pakaian. Ada sebuah surat  yang tertempel dan bertengger pada bagian topi chacha.
“Niwak (Nita Wakan), apa kabar hati hari ini?”

Sebuah pertanyaan yang bahkan belum pernah saya tanyakan pada entitas tertunjuk (hati). Si pengirim surat tampak lebih peduli dari si pemilik hati.

Apa kabar hati hari ini? Sebuah pertanyaan yang mulai saya tanyakan pada hati saya sejak tiga puluh enam jam yang lalu. Bagi saya, itu adalah sebuah pertanyaan yang lebih sulit dibanding pertanyaan tentang pajak yang ditangguhkan (indeferred tax)

Mengenali hati sendiri masih menjadi PR buat saya hingga hari ini dan membuat saya lebih suka jadi penyendiri. Orang-orang di sekitar pun sadar akan hal ini. Atau mereka yang terlalu peduli?

“Senyum Niwak yang hilang.”

“Jadi pendiam.”

“Nggak kedengeran lagi suaranya.”

Tentu bukan tanpa sebab. Entah fase apa yang sedang saya alami saat ini. Saya jadi suka berjalan sendirian, memotret, bercakap dengan tukang parkir, pedagang, anak-anak kecil yang sedang bermain sepak bola, dan manusia-manusia lain yang belum pernah saya kenal.

Mungkin ini adalah bagian dari pemberhentian sejenak pelbagai rutinitas dan sistem yang melekat.

Jadi, apa kabar hati hari ini?
SHARE:

10.08.2012

Menjadi SRIKANDI




SRIKANDI, sosok the ultimate model of independent womanhood dalam pewayangan jawa; sebagai simbol kekuatan dan keberanian. Srikandi dijadikan suri tauladan karena menjadi prajurit wanita yang berhasil mengalahkan Bisma dengan panah dahsyatnya, Hrusangkali. Itulah mengapa Srikandi menjadi inspirator bagi kami, peserta PPSDMS Regional 3 Yogyakarta Putri.

9 Juli 2012 menjadi hari pertama bagi saya menginjakkan kaki di BarbieDorm—julukan bagi asrama kami yang bercat merah jambu dan ungu. Kedatangan saya yang terlambat dibandingkan teman-teman lain membuat rasa takut itu hadir menjadi-jadi; ketakutan tidak bisa beradaptasi, tidak tahan dengan program-program yang diwajibkan, sampai takut  tidak memiliki sahabat. Semua ketakutan itu benar-benar ada.

Saya melangkah masuk sambil mengucap bismillah dalam hati. Saat itu, asrama sepi dan pintu memang tidak terkunci. Saya sejenak berhenti di balik pintu dan memperhatikan ruangan di dalam. Ada lima pintu kayu di bawah dan anak-anak tangga menuju lantai dua tempat kamar saya berada.

Saya menaiki anak-anak tangga itu. Semakin tinggi saya naik, semakin hilang rasa takut itu. Terlebih lagi, hati saya berkata ini bukan asrama, tapi rumah.

Ternyata benar. Banyak program yang wajib diikuti, seperti waktu berkah shubuh, apel pagi, deep introduction, family meeting, kajian pekanan, kajian bulanan, piket bersih-bersih sampai piket masak untuk sahur.

Banyak teman dan senior yang melontarkan candaan kepada saya ketika mereka tahu saya harus kembali ke asrama pukul tujuh malam, “Jam segitu mah banci baru mandi!”

Atau ketika mereka tahu ini adalah pendidikan dengan nilai islam yang kental, “Wah kalau main ke asramamu, aku harus pakai gamis ya?” “Yah kita engga bisa hang out sampe malem lagi dong, Nit.”

Mendadak, saya menjadi orang yang tidak peduli dengan hal-hal itu.

Secara sadar atau tidak, ada perasaan kuat yang saya dapatkan dari tiga puluh satu wanita yang hidup bersama saya di BarbieDorm: persaudaraan (ukhuwah).

Ketika saya sakit, mereka memberikan saya selimut, menemani berobat, bahkan membuatkan segelas teh hangat. Ketika saya tidur terlalu lelap, mereka membangunkan saya untuk ikut sembahyang berjamaah. Ketika ada yang berulang tahun, mereka menyiapkan surprise dan kue manis nan lezat.

Sungguh, saya berharap bisa melihat tiga puluh satu senyum yang sama dua tahun kemudian.

Saya berharap persaudaraan ini bisa terjaga dan mampu mengalahkan self-oriented yang  datang mencekam ketika terompet kompetisi ditiupkan.




Tiga puluh satu wanita itulah srikandi yang membuat saya ingin ikut menjadi srikandi. Mereka membawa panah-panah yang berbeda namun kami belajar bersama-sama untuk bisa melesatkan panah itu sedahsyat Hrusangkali. Bahkan lebih.

Bismillahirrahmanirrahim.
SHARE:

1.20.2012

Terimakasih Aisyah

Sebuah tulisan dari seorang sahabat, hadiah terindah (lagi) untuk angka 19:
 

Nur'aini Yuwanita Wakan

Dia adalah seorang perempuan yang begitu mempesona.
Sebagai seorang penulis, dia adalah seorang penulis yang menginspirasi. Setiap kata yang dituliskannya bisa menghasilkan motivasi dan memberi banyak informasi.

Sebagai seorang pemimpin, dia adalah pemimpin yang baik. Dia mau membaur dengan semua yang ada di bawahnya. Dia tidak lantas tegak berdiri paling depan, tapi mau mundur ke belakang.

Sebagai seorang kakak, dia adalah kakak yang sangat sayang pada adiknya. Mungkin, kalau aku jadi Faris, aku akan sangat bahagia sekali karena punya kakak yang baik seperti dia.
Sebagai individualis, dia adalah individu yang sangat bekerja keras dan bermimpi tinggi. Dia mau berusaha lebih dari sekedar yang dia mampu untuk mewujudkan semua cita cita dan mimpinya.
Dan sebagai seorang teman, dia sangat luar biasa. Dia adalah teman yang mau mendengarkan. Dia adalah teman yang sangat baik dan setia. Dan bagiku, dia lebih dari sekedar teman, dia adalah sahabat, dan dia adalah saudara. Dan bagiku dia sangat special, karena dia mengalami banyak hal pahit bersamaku.

Hari ini genap sudah bertambah usiamu. Semoga kau bisa tetap menjadi seorang Nuraini Yuwanita Wakan yang luar biasa di segala hal yaa.

Kau seperti kertas origami,
Yang selalu penuh warna dan warni,
Yang bisa dilipat menjadi berbagai macam bentuk yang unik,
Yang meskipun sudah lecek, tetap saja bisa menjadi bentuk yang bagus,
Bagiku kau adalah kertas origami,
Yang bisa menemani siapapun, dalam bentuk apapun,
dengan warna yang indah..


Selamat ulang tahun kawan.. semoga umurmu semakin berkah dan bermanfaat.

Bekasi, 6 Januari 2012.
sahabatmu, Aisyah.






#1

Terimakasih, Aisyah. Tentu saja kau begitu berlebihan dalam menilaiku.

Kamu harus tahu, duduk sebangku dengan mu rasanya seperti mimpi. Karena aku sudah mengenal namamu tujuh tahun sebelumnya!

Aisyah, nama yang selalu tertera sebagai daftar murid berprestasi dengan peringkat tertinggi. Aku selalu mencari tahu seperti apa kamu, peringkat satu: kelas, sekolah, sampai yayasan.

Dan saat itu aku sudah mengagumimu.  Ya, semenjak kelas satu SD.

Dalam do’aku, semoga jalan kita bersimpangan.

Ternyata Allah baik sekali, Ia membuat kita dekat dengan cara yang indah. Aku bisa mengenal dan belajar banyak hal darimu.

Dimulai dari tahun 2008, saat satu team dalam lomba cerdas cermat antar kelas hingga team International Junior Sains Olympiade. Dua hari bersamamu di Van Deventer tak akan aku lupa, sayang sekali aku sakit waktu itu. Maaf menjadi teman perjalanan yang menyusahkan.
Masih ingatkah mimpi untuk berdiri di podium bersama dan memegang medali emas? Aku akan wariskan mimpi kita pada generasiku, aku akan ceritakan tentang perjalanan kita pada anak cucuku nanti.

Membangun mimpi dan mengejarnya bersama, tentu saja perjuangan kita belum usai. See you on the top, Aisyah. Terimakasih karena kamu telah memberi pijakan tangga yang kuat padaku untuk selalu melangkah.


#2
Ada lagi, Aisyah. Sebelum aku mengenal Eiji Yoshikawa, Paulo Coelho, dan Haruki Murakami, aku telah mengenalmu lebih dulu sebagai seorang penulis. Aku sangat suka saat kau membuat puisi-puisi sederhana dan membacakannya di depan kelas. Atau saat kau mengenalkanku pada sosok Gie.

Kamulah orang pertama yang memberiku inspirasi untuk larut dalam dunia menulis.

Jadi tidak berlebihan bukan kalau aku mengagumimu, sahabatku?

SHARE:

Dear, Kamu.




Dear Kamu,

Terimakasih untuk selingkar strawberry cheesecake yang kamu kirim di hari spesial itu. Meski bukan kamu yang membawanya dan bukan kamu yang memilih bentuknya untukku, tapi itu lebih dari cukup. Karena bukan hanya kue, tapi juga sebuah baju.

Aku tidak mengerti,

Setelah lebih dari tiga tahun kita tak saling menyapa, kamu datang dengan kebaikan yang sangat.

Aku bahkan tidak tahu sudah setinggi apa kamu hari ini, karena saat terakhir kita bertemu, aku hanya perlu mendongak sedikit saja untuk bisa melihat matamu.

Pernah suatu ketika, lampu rumahku padam, dan suaramu lah yang menemaniku hingga lampu menyala kembali. Sekarang aku tidak tahu seperti apa suaramu, tapi dari kalimat-kalimat yang kamu ketikkan kepadaku sebelum hari spesialku datang, itu menunjukkan bahwa kamu telah lebih dewasa.

Dan aku yakin, semua yang kamu lakukan sudah kamu pikirkan sebab-akibatnya.

Ah, kamu.

Kiriman itu membuat aku serasa menjadi Otsu dalam kisah Miyamoto Musashi.  Diantara keduanya ada ‘keyakinan’ yang membuat jarak diantara mereka, semakin jelas. Membuat entitas rasa semakin manis, seperti kisah kita bukan?

Maafkan aku untuk tetap berada pada 'candu' yang kupilih.
Dunia ini selalu penuh dengan bunyi gelombang. Ikan-ikan kecil menyerahkan diri mereka kepada gelombang, menari, menyanyi, dan bermain, tapi siapa yang bisa mengenal hati laut tiga puluh meter di bawahnya? Siapa yang kenal akan kedalamannya?
SHARE:

My 19th








You made my day special because you are so spesial in my life. I feel so lucky to have you.

I will always remember you, no matter what comes about.

You would never dream of ever changing me. You accept who i am and what i believe, but you still challenge me to be my best. You aren't afraid to set me straight. You never make jokes at my expense.

I want you to always be happy, irreguardless of how it happens,

Because no matter how tough the going gets, you never get going.
Person 1: Why are those to always together? They are nothing alike.

Person 2: Them? Nah. For some reason they are best friends
SHARE:

11.05.2011

Dorm Stuff vs Mr. Right





Wallpapernya dibuat dari karton dan origami. Ini Gieta yang buat lho! Pulang dari interview AIESEC, kaget juga ngeliat Gieta lagi sibuk ngegunting origami. Kreatif Giet!

Setelah memperhatikan, bentuknya pas banget buat ekspektasi selama kuliah ini: combination of star and love.

Star atau bintang, melambangkan dream, cita-cita, juga prestasi. Sebagai pengingat untuk selalu produktif dan engga boleh males-malesan.

Love atau cinta. Sembari mengejar cita-cita, bolehlah mencari cinta. Tapi sampai sekarang, efeknya malah bikin para penghuninya menggalau saban hari.

"Aduh, mau banget ada yang modusin"

"Yaampun Kak bla-bla-bla online!"

"Eh, ganteng tuh, ganteng, yah tapi udah punya cewe."

Ternyata setelah melakukan penelitian, kegalauan seperti ini engga hanya terjadi di kamar kami. tapi juga menghinggapi hati para wanita. Lebih tepatnya wanita-wanita single (atau jomblo?)!

Pengen juga sih ada 'seseorang' yang bisa diajak diskusi, yang nemenin ngerjain tugas sampai malem, yang bisa mengingatkan dan menasehati, yang mau diajak susah apalagi hahaha.

Ditambah ngelihat temen-temen sudah pada punya 'seseorangnya' masing-masing. Duh!

Untuk menjaga perasaan itu tetap pada jalurnya, juga mengingat hukum dalam kepercayaan yang saya anut, saya selalu percaya bahwa wanita yang baik diciptakan untuk pria yang baik, begitupun sebaliknya.

Mungkin saja saya belum dipertemukan oleh 'seseorang' itu karena dia nilainya sudah 9 sedangkan saya masih 3. Jadi Allah memberikan saya waktu untuk memperbaiki diri terlebih dahulu.

so how'll I ever find the right Man?

Forget finding the right Man, focus on being the right Woman :)
SHARE:

Enjoying College Life

[caption id="attachment_323" align="aligncenter" width="405"]college best friends: Me, Dina (Lampung), Miana (Aceh), Miftha (Banjarmasin), Adin (Solo) college best friends: Me, Dina (Lampung), Miana (Aceh), Miftha (Banjarmasin), Adin (Solo)[/caption]

[caption id="attachment_338" align="aligncenter" width="460"]Class F, Economics and Business UGM 2011 Class F, Economics and Business UGM 2011[/caption]

[caption id="attachment_384" align="aligncenter" width="460"]BEM FEB UGM 2011 BEM FEB UGM 2011[/caption]

[caption id="attachment_383" align="aligncenter" width="460"]my point of view every morning, every evening for a year my point of view every morning, every evening for a year[/caption]

 

 

it always hard for the beginning


but when i tried to enjoy it, everything seems possible.


You make me feel enjoy in Jogja, friends.


Be nice, always.

SHARE:

9.23.2011

When I'm Down (SNMPTN) Part 1

Lagi buka-buka file lama dan menemukan sebuah file dengan judul "Never Give Up" di harddisk. Ternyata sebuah tulisan yang saya buat sebelum SNMPTN Tertulis. Pas baca lagi jadi sedih dan teringat masa-masa perjuangan itu. Semoga bisa diambil pelajaran.


Never Give Up


Menjadi dokter adalah salah satu impian terbesar saya. Mimpi akan kedokteran telah saya bangun sedemikian rupa hingga terasa indah sekali untuk sekedar dibayangkan.

Tanggal 17 Mei 2011, saya dan beberapa sahabat berkumpul untuk melihat pengumuman SNMPTN Undangan bersama-sama.  Memasukkan nomer ujian dengan gemetar diselingi halaman twitter yang Alhamdulillah, penuh dengan keberhasilan teman-teman yang sudah diterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

Bismillahirrahmanirrahiim.

Saya memasukkan nomer ujian dengan perlahan dan mengkoreksi setiap angka yang saya ketik,

dan… Ya. Saya menahan nafas beberapa detik.

Saya tidak lulus seleksi.

Saya tidak lulus FK UI.

Begitu pula sahabat-sahabat saya di ruangan itu. Kami semua tidak lulus SNMPTN Undangan. Seperti sebuah takdir yang mempertemukan kami untuk saling menguatkan saat itu.

Sungguh, saya tidak tahan untuk tidak menangis. Sambil menahan air mata, saya pamit sebentar untuk memberi kabar orang-orang di rumah. Saya berlari menuju rumah ditemani angin malam yang kencang.

Di sepanjang jalan, saya menangis. Saya tidak peduli lagi dengan orang-orang di jalan yang memperhatikan saya.

Sesampainya di rumah, saya langsung bersujud di kaki kedua orang tua, di kaki mama dan ayah. Di bawah kaki mereka, saya terus menangis. Menangis sejadi-jadinya. Ayah langsung menarik saya berdiri sambil menyeka air mata yang juga turun dari kedua matanya.

Lima hari saya mengurung diri di kamar. Keluar kamar pun hanya sesekali. Menghampiri mama lalu menangis. Mental saya jatuh. Jatuh sejatuh-jatuhnya. Mungkin terlihat berlebihan, tapi sungguh, itu yang terjadi.  Saya takut menghadapi kegagalan. Saya takut untuk menghadapi kegagalan lagi di ujian selanjutnya: SNMPTN Tertulis. Yang hanya berselang 2 minggu dari pengumuman.

Saya belum siap untuk menghadapi kenyataan kalau saya….tidak menjadi dokter.

Sampai suatu malam, ayah memanggil saya. Lalu mulai berkata,

 Ayah dan mama atau siapapun, engga ada yang bisa ngebantu kakak. Cuma kakak yang bisa bantu diri kakak sendiri. Ayah dan mama hanya bisa berdoa.

Kak, kalaupun ayah dan mama berdoa, tapi dalam diri kakak sendiri tidak ada keyakinan kalau kakak bisa, semuanya itu percuma. Ibaratnya, mama dan ayah sudah memberi aliran listrik 10000 mega ampere  tapi daya kakak cuma 2 watt.  Instalasi nya engga nyambung.

Kak, ayah engga berharap apa-apa lagi kecuali keyakinan diri kakak kembali. Inget Kak, bukan kemenangan mendapatkan kursi di PTN aja yang kaka perjuangin. Tapi lebih dari itu, KEMENANGAN MENTAL.

Waktu ayah menghadapi tes wawancara dengan kondisi ayah yang engga bisa mendengar lagi (tuli), kakak yang selalu semangatin ayah dan bilang kalau ayah bisa. Kakak yang selalu memotivasi ayah. Sekarang waktunya kakak untuk membuktikan ucapan kakak ke ayah dulu.

Ayah benar. Begitu mudahnya saya memotivasi orang lain. Menulis kalimat-kalimat penyemangat. Membuat cerita-cerita inspirasi. Sekarang lah saatnya bagi saya untuk mempertanggungjawabkannya.

So I’ll never give up, never give in, never let a ray of doubt slip in. And if I fall, I’ll never fade, I’ll just get up and try again.


Sekarang bukan lagi kursi PTN yang ingin ditaklukan.

Tapi mental tempe yang ada dalam diri.

bersambung.
SHARE:

9.21.2011

Lucky Roomate

Now and for several next years, i lived in Yogyakarta and sharing room with my besties, Gieta. She often cooks for us and I feel so lucky not because of her cook but also friendship among us! :)

the number of our room in UGM dormitory


Here we come


we merged our bed to minimize fearness in the night


we are here to fight to be a great accountan and diplomat


I created this photo frame when 16th Gieta's Birthday



Even I have no biological family in Jogja but for me Gieta is my sister here. She reminds me to pray, cooks fried rice, noodles, and another experiment foods, she accompanies me and it's pretty cure homesickness. Thanks Giet! :D

Taken with Blackberry Curve Camera (hope can own my slr asap :))
SHARE:

9.12.2011

Dokter Akuntan

Beberapa teman beranggapan bahwa pilihan saya melanjutkan studi ke jurusan akuntansi adalah sebuah pelarian. Pelarian dari tidak diterimanya saya di Fakultas Kedokteran di beberapa Perguruan Tinggi Negeri. Saya hanya bisa tersenyum ketika hampir seluruh teman yang saya temui menanyakan hal yang sama, "Kok jadi akuntansi, Nit?"

Untuk mereka yang mengenal saya, tentu tahu, betapa inginnya saya masuk ke sekolah kedokteran. Betapa saya menulis banyak tentang keinginan saya di kedokteran, di blog, di kertas ulangan, dan tempat-tempat umum.

Sekarang, saya hanya bisa tertawa mengingat itu semua. Betapa mudahnya saya mengucapkan mimpi tanpa diikuti dengan action yang tepat.

Di saat teman-teman seperjuangan mengerjakan soal-soal try out snmptn dan sebagainya, saya masih sibuk dengan mencari berita, menulis artikel, dan magang di beberapa majalah. Saya hanya berpikir, nothing impossible. I can have it all at once.

But I was wrong. 'Nothing impossible' also has a natural law. If you want something, go get it. Focus. Go get it. Period.

Dan pertanyaan "Kok jadi akuntansi, Nit?", jawabannya pun masih sama.

Dulu sebelum masuk ke penjurusan IPA/IPS, setiap ditanya cita-cita, saya menjawab 'ingin jadi Gubernur Bank Indonesia'. Seiring berjalannya waktu dan berkutat dengan biologi, kimia, fisika, muncullah keinginan menjadi dokter. Saya bimbel sampai malem pun mengerjakan soal-soal IPA, buku-buku soal IPA bertumpukan di meja belajar.

Ketika saya gagal masuk kedokteran melalui seleksi pertama (SNMPTN Undangan), saya bertemu teman lama, Teguh Imam Dirgantara (STEI ITB) yang mengingatkan saya akan mimpi 'Gubernur BI'.

Seperti mendapat pencerahan dan saya langsung bersemedi di dalam kamar selama lima hari untuk menentukan pilihan apa saja yang akan saya jatuhkan untuk SNMPTN tertulis. Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahiim, saya memilih kedokteran dan akuntansi.

Bagi saya, menjadi dokter akan selalu menjadi salah satu keinginan terbesar hingga kapanpun. Dan akuntansi bukanlah sebuah pelarian, melainkan sebuah pilihan dan jawaban. Menjadi Gubernur BI pun bukanlah tujuan, melainkan pembangkit semangat.

Sehingga terimakasih untuk semua teman-teman yang ada ketika saya jatuh, ketika saya tidak berani keluar kamar karena malu tidak lulus, untuk semua teman yang menemani dan menyemangati saya belajar.

Untuk semua teman yang telah percaya. Terimakasih.


SHARE:

8.28.2011

ORASI

Agustus 2009. Satu hal yang tidak pernah terbayang adalah ketika berdiri di atas mimbar lapangan sekolah untuk berorasi. Menjadi satu-satunya wanita diantara tiga pria hebat ini.





Tentu saja orasi yang tidak luar biasa dan jauh dari sempurna, Namun, terimakasih kepada lebih dari dua ratus orang yang telah memilih saya waktu itu. Seandainya saya tahu, siapa saja kalian.. Saya sungguh-sungguh ingin menjabat tangan kalian. Atau bahkan memeluk kalian.

Karena kalian telah menyadarkan saya bahwa selama ini saya tidak pernah sendiri. Bahwa selama ini, kalian yang telah diam-diam membangkitkan semangat saya.

Ketika fase jenuh datang, yang pertama saya ingat adalah kalian. Biarpun saya tidak tahu siapa kalian yang telah mencontreng foto saya di kertas pemilihan, tapi kalian telah menyumbang kontribusi besar dalam kehidupan saya hingga sekarang.

Terimakasih, sungguh.
SHARE:

8.10.2011

Reborn, Terlahir Kembali

YunanJournal* adalah blog pertama yang serius saya jalankan bersama adik saya.

Tujuan awalnya adalah supaya kami bisa saling memantau dan bercerita melalui media blog. Namun karena kegiatannya yang padat, jadilah blog tersebut didominasi oleh cerita saya sendiri.

Ternyata cukup banyak teman-teman yang mengikuti YunanJournal. Terlihat dari komentar-komentar yang mereka berikan atau jejak lain yang mereka tinggalkan. Tentu saja ini menambah semangat saya untuk menulis. Thanks all for your genuine support. Terimakasih teman-teman yang telah setia membaca YunanJournal!

Semoga melalui NitaWakan ini, saya bisa lebih memberi kontribusi yang nyata juga memberi inspirasi dan manfaat untuk teman-teman semua. Aamiin.

*klik YunanJournal untuk berkunjung

SHARE:

5.02.2011

Tetap Semangat adikku!


Hari ini saya sedih sekali, ketika mengetahui adik saya tidak bisa mengikuti tes masuk SMPN 1 Bekasi bulan Juni nanti.
Sebelumnya kami sekeluarga selalu menyemangatinya, selalu mengatakan: you can do that. Hingga akhirnya kami menerima kenyataan:

bahwa ada SATU nilai rapot adik saya: kurang SATU POINT dari permintaan pihak smp 1. Dan dapat disimpulkan adik saya tidak bisa mengikuti tes.

SMP 1 menjadi sekolah impian adik saya. Saya selalu menceritakan segala kebahagiaan yang saya rasakan selama sekolah di sana tiga tahun lalu. Mulai dari guru-guru yang hebat, gedung dan fasilitas yang bagus, hingga organisasi yang aktif berjalan.

Namun kini saya menerima kenyataan pahit. Bahwa sekolah yang selalu saya banggakan tidak memberi kesempatan adik saya untuk mengikuti tes.

Tapi saya yakin ini adalah ketentuan Allah yang terbaik. ketika saya memeluknya begitu sedih, adik saya berbisik "masih banyak smp yang bagus kak!"

ya Allah, terimakasih atas keteguhan hati yang Engkau berikan kepada adik saya.

Saya berjanji untuk menemaninya belajar seminggu ini, menjelang UASBN SD tanggal 10 Mei nanti. Do your best, my brother! I always support you and believe that you can do it.

Mohon doanya yah teman-teman :)
SHARE:

12.31.2010

My Wish List : BOOKS (update)

A room without books is like a body without soul
-Cicero-

Semoga di tahun 2011, saya bisa membaca buku-buku ini dan ada rezeki untuk memilikinya sendiri. Sebagai pengakuan, saya lebih sering meminjam buku dari perpustakaan atau teman ketimbang beli sendiri :D
Tapi insha allah ada perubahan yang baik ya di tahun 2011 ini :)

(Nah berhubung tanggal 6 Januari nanti saya genap berusia 18 tahun, teman-teman bisa nih mengirimkan salah satu buku dari daftar di bawah ini ke rumah saya :D)

#1 MUSASHI (Eiji Yoshikawa) Checklist:sedang di baca:)



Sudah 2 tahun lebih, saya mengidam-ngidamkan buku ini. Karena kepentok dengan harga dan masih ada keperluanyang lain jadi saya memutuskan untuk menundanya dulu.

Setengah tahun yang lalu saya melihat buku mushashi yang terbuka bungkusnya di Gramedia. Otak hemat saya waktu itu langsung bekerja. Setiap pulang sekolah dalam seminggu, saya menyempatkan diri untuk mampir membaca Musashi di Gramedia. Alhasil,

mas-mas penjaga tas sampai hafal dengan saya :D
Namun di hari ke-8 buku itu sudah tidak ada di rak nya :’(

Sebagai gambaran, Musashi ingin membuktikan bahwa kekuatan dan keterampilan bukan satu-satunya yang bisa diandalkan untuk menentukan kemenangan melalui ilmu samurai yang dimilikinya.

Status: Saya masih berharap buku ini tiba-tiba turun dari langit :D

#2 DUNIA SOPHIE Gold Edition-Mizan (Jostein Gaarder)



Saya sudah membacanya 2 tahun lalu dari perpustakaan sekolah. Buku ini menggambarkan kehidupan Sophie dan penulis surat dari kacamata filsafat. Sungguh menyenangkan menyelami pemikiran si penulis surat!

Dan ketika 3 minggu kemarin main ke Gramedia, saya lihat ada sesuatu yang bersinar-sinar dari salah satu rak buku. Sesuai namanya, Dunia Sophie Gold Edition yang menyilaukan mata membuat saya jatuh cinta.
Yang berbeda dari edisi sebelumnya adalah adanya ilustrasi para tokoh. Cerita menjadi lebih hidup!

Status: Semoga lancar rezeki untuk beli buku ini. Aaamiiin.

#3 Your Job is not Your Career Checklist




Ini ditulis oleh Rene Suhardono yang akrab disapa ReneCC, coach di hardrock FM. Seperti biasa, buku yang memenuhi rak buku saya adalah buku-buku motivasi seperti ini.
Untuk menjadi penyemangat saya mengejar cita-cita: dokter.

Status: Sedang menabung untuk beli buku ini :)

#4 Totto-chan's Children: A Goodwill Journey to the Children of the World



Setiap buku mengenai kegiatan atau perjalanan kemanusiaan sangat saya sukai. Seperti yang dilakukan Totto Chan dalam bukunya ini. Tentu ini akan menambah semangat saya untuk lebih banyak berbagi dan mensyukuri kehidupan yang saya miliki.

Status: mecahin celengan…enggak….mecahin celengan…..enggak….enggak….engg…

#5 SAMAN (Ayu Utami) Checklist!



Saya sudah jatuh cinta dengan tulisan-tulisan, pemikiran dan pandangan mba ayu utami semenjak rajin membaca kolomnya di Koran Seputar Indonesia kelas 1 SMA lalu.
Jadi saya yakin novel mba Ayu tidak akan mengecewakan saya. Bagaimana tidak, SAMAN menjadi salah satu novel Indonesia terbaik.
Semoga kita bisa berdiskusi bersama ya mba ayu suatu hari nanti!

Status: ada yang punya enggak?

#6 NAGABUMI (Seno Gumira A.)



Hampir semua cerpennya menarik. Memiliki ending yang tak bisa di tebak. Salah satu cerpen beliau yang saya suka adalah Cappucino dalam Rembulan.
Kemudian, beliau menulis Nagabumi yang tebalnya hampir sama dengan Musashi. Dan harganya juga hampir sama, aaaaaa

Status: membuat prioritas.


Itulah 6 buku yang insha allah saya baca di tahun 2011 ini,
Nanti akan saya share nilai-nilai positif apa saja yang bisa diambil.
Sekaligus menjadi inspirasi saya untuk mulai menulis buku. Doakan ya!

SHARE:

12.24.2010

Kisah iPad, Nokia, & BlackBerry

Ini tentang kisah iPad, Nokia & BlackBerry yang jatuh ke tangan seorang manusia biasa. Yang diantara ketiganya punya cerita tersendiri.


Kisah iPad
Untuk mengetahui apa itu iPad, silahkan klik --> iPad.



Setiap kali mendengar, melihat, bahkan mengetik huruf yang membentuk kata iPad, hati saya bergidik. Sore menjelang senja waktu itu, saya menerima kiriman sms yang menyatakan saya berhasil memenangkan sebuah kontes menulis yang diselenggarakan oleh Pesta Blogger bekerjasama dengan JCU Singapore. Saya mendapat kategori most creative writing atau tulisan paling kreatif. Dan itu artinya saya berhak mendapat sebuah iPad!

Klik --> tulisan (untuk membaca tulisan yang saya lombakan)
Klik --> pengumuman (untuk melihat hasil pemenang)


Saya langsung sujud syukur. Alhamdulillahirabbil alamin, sebut saya terus menerus dalam hati. Saya jadi agak heboh dan lepas kendali. Meski di rumah seorang teman, saya tetap teriak-teriak kegirangan, “Dina, Nurul, aku dapat iPad, iPad!!!”

Ibu teman saya pun sampai bertanya, “Din, itu teman kamu kenapa?” Mirisnya, saya jadi kehilangan etika dan moral bertamu di rumah orang karena teriakan-teriakn yang menganggu.

Sepersekian menit dari luapan emosi kebahagiaan yang saya tunjukkan, sebuah sms dari pengirim yang sama masuk, ia memberitahukan bahwa hadiah di oper ke peringkat 2 karena saya tidak menghadiri acara pengumuman pemenang dan penyerahan hadiah. Karena saya tidak menghadiri acara pengumuman pemenang sekaligus penyerahan hadiah maka saya TIDAK mendapat hadiah (baca: iPad).



Entahlah, seperti tersambar petir, kilat, badai, dan hal-hal menakutkan lainnya. Hal mengejutkan masih datang bertubi-tubi karena si pengirim sms itu ternyata adalah orang yang berada di peringkat 2, Kak Lily-teman sekelas saya!


Duaaaaaarrrrr-seperti genderang mau pecah. Saya benar-benar bingung. Apa yang harus saya lakukan. Apa, apa yang harus saya lakukan?


Di tengah kebingungan yang mencekam, Kak Lily memberikan tawaran untuk menjual iPad tersebut kemudian hasil penjualan akan dibagi dua. Tanpa berpikir panjang, saya membalas: OKE.


Hei, kenapa saya balas oke?! Bukankah akan lebih bijaksana kalau saya mengatakan, “Tidak perlu, kak. Itu milik Kak Lily. Rezekinya Kak Lily. Saya ikhlas, kak.”
(Wee heng, Juri asal Singapore menghibur kesedihan saya:D)

Tapi seburuk apapun saya, sedikit apapun amal perbuatan saya di dunia yang fana ini, saya hanyalah manusia biasa yang tidak luput dari dosa, juga dari nafsu duniawi. Astaghfirullah aladzim alladzi laa illaha illa huwal hayyul qayyum wa atuubu ilaih.


Dan tidak lupa saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Kak Lily yang bersedia membagi rezekinya dengan saya. Semoga Allah SWT membalas perbuatannya. Ini akan selalu saya ingat, Kak :)

#Moral: Selalu hadiri acara pengmuman pemenang dan penyerahan hadiah apapun meski kamu enggak yakin menang. Karena sebuah ketidakyakinan adalah keyakinan.



Kisah Nokia & Black Berry (BB)

Berbekal kesalahan di minggu sebelumnya, saya langsung tancap gas ke Gedung Pusat Telkomsel untuk menghadiri acara penyerahan hadiah ‘Program be a Reporter’ Telkomsel. Lomba essay tingkat pelajar dan mahasiswa se-Jabodetabek dengan tema ‘Aku Cinta Indonesia’.




Alhamdulillahirabbil alamin, saya mendapat sebuah BlackBerry. Itu artinya saya harus mengucapkan selamat tinggal kepada Pasangan jiwa saya: Nokia 6630 Silver.

Sebagai perkenalan, Nokia 6630 Silver yang telah menemani saya selama 5 tahun, memang sudah mengalami penuaan. Keypad atasnya telah rusak 2 tahun yang lalu. Namun karena kesetiaan yang saya miliki, saya tetap menerima ia apa adanya. Saya menerima ia SEUTUHNYA. Ini terbukti dengan casing asli, baterai asli, memory 64 MB asli, dan semuanya UTUH saya pakai selama 5 tahun.


Sempat terlontar sebuah lelucon dari teman saya, “HP lo boleh jadul nit, tapi punya iPad, HA-HA-HA.” maklum dia tidak tahu kisah-kasih saya dengan iPad yang berliku-liku.

Atau, “Ganti HP dong, Nit.” “Pakai BB dong, Nit.” “iPhone lah,Nit. iPhone.”



Dengan tegas dan penuh pengertian, saya membalas semua apa yang mereka lontarkan itu dengan, “Iya nih belum mau ganti, masih setia. 5 tahun lho!” Meski sebenarnya banyak sekali alasan lain di luar sebuah kesetiaan.

Sekarang dengan berat hati, sekali lagi saya harus mengakui, bahwa saya hanyalah MANUSIA biasa, yang juga ingin merasakan teknologi baru yang membuat beberapa teman saya keranjingan.

“Welcome home, BlackBerry Girl!” ucap beberapa teman saya di Messenger.

“Mana kesetiaan lo, Nit? Mana Nita yang gue kenal dulu. Yang setia, kuat, ceria……HA-HA-HA.” Ucap seorang teman di tengah ujian akhir semester.

#Moral: Manusia tidak pernah puas meski mengaku setia.
SHARE:
© Mettle in Perspective. All rights reserved.
Blogger Templates made by pipdig