11.05.2014
Nawa Cita dan Tenaga Kerja Indonesia
Oleh Nur'aini Yuwanita Wakan, Founder Youth Finance Indonesia
“Kenapa sih banyak orang Indonesia tidak bisa pakai toilet? Toilet selalu jadi kotor setelah kalian pakai.”
Pertanyaan sekaligus pernyataan pedas tersebut datang dari seorang cleaning service yang saya temui di Abu Dhabi International Airport pada akhir tahun 2013 lalu. Ia menunjukkan rasa kesalnya karena harus membershikan lantai toilet yang basah setiap kali (kebanyakan) orang Indonesia menggunakan toilet bandara tersebut. Kebetulan saat di bandara, saya bertemu rombongan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang akan kembali ke tanah air setelah beberapa tahun bekerja di Uni Emirat Arab. Saat saya masuk toilet, mbak cleaning service itu pun langsung meminta saya menggunakan toilet dengan benar. Tentu dalam bahasa inggris dan dengan nada yang tidak bersahabat.
Seorang TKI berumur paruh baya menghampiri saya dan menceritakan hal yang sama. Ia tidak berani menggunakan toilet karena merasa dimarahi oleh sang cleaning service. Ia rupanya tidak paham apa penyebab sang cleaning service marah-marah. Akhirnya, saya berusaha menjelaskan sekaligus menunjukkan cara bagaimana menggunakan toilet agar tetap kering.
Kejadian tersebut mengajarkan saya soal pentingnya dua hal: komunikasi dan kompetensi. Dua hal inilah yang wajib dimiliki oleh TKI yang akan bekerja di luar negeri. Jika TKI dapat berkomunikasi dengan baik dalam bahasa inggris ataupun bahasa negara yang dituju, kemungkinan terjadinya konflik akan
10.02.2014
Sharing Session bersama BKLASS mengenai 'Achievement'
Tulisan ini dibuat oleh Kak Reza Amaludin (CEO StudentsXCEO Yogyakarta Representative 2013). Matur nuwun, Kak, sudah diberikan kesempatan untuk bisa sharing dengan teman-teman BKLASS (Balairung Klaten Association) bulan Juni 2014 lalu.
Semoga bermanfaat, ya. :)
Berawal dari keinginanya memiliki gadget impian “IPAD” dan “BB”, ia memulai perjalanan prestasinya. Nita memiliki latar belakang keluarga yang memang tidak memfasilitasinya untuk mempunyai gadget yang terbilang mahal tersebut. Ia juga berada di lingkungan pertemanan yang membuatnya “iri” untuk memiliki gadget tersebut, menimbulkan keinginan untuk mendapatkanya dengan jalan lain, yaitu dengan mengikuti lomba. Pada akhirnya, IPAD dan BB idaman berhasil didapatkanya dari menjuarai dua lomba yang berbeda.
Namun, pandanganya mengenai prestasi berubah saat ia menjadi bagian dari PPSDMS Nurul Fikri Yogyakarta. Di sana ia dilatih agar tidak menjadi “Balon Kosong”, yaitu istilah untuk orang yang berprestasi namun hanya asal juara dan terkesan hanya mencari “hadiah”. Akhirnya ia mengubah haluan dengan mengikuti lomba yang memang sesuai bidang dan cita-citanya, yaitu menjadi guru dan konsultan bisnis.
Nita menyarankan kita untuk menguasai dua hal, yaitu “Bahasa Inggris” dan “Media”. Karena dua hal itu yang membuatnya mengetahui peluang-peluang event, conference atau lomba bergengsi yang bertaraf Internasional. Salah satu website rekomendasinya adalah http://conferencealerts.com. Menurutnya, penting bagi mahasiswa untuk mengikuti kegiatan yang bukan hanya tingkat nasional, namun juga Internasional.
Question & Answer
Apakah pernah merasa gagal?
Pernah, sering malah. Kegagalan terbesar adalah saat saya kelas 3 SMA. Waktu itu saya ingin sekali masuk ke Fakultas Kedokteran UI, saya merasa mampu saat itu, namun ternyata saya gagal. Teman saya yang nilainya sedikit di bawah saya justru yang diterima. Karena waktu itu saya terlalu pede dan malah tidak belajar, magang di Kompas MuDA dan Provoke! Magazine. Waktu itu saya merasa down. Malu. Hingga tidak ingin keluar kamar.
Saya berubah saat ayah saya berkata kepada saya “Kakak, sejauh ini ketika Ayah jatuh dan tidak bisa mendengar lagi (tuli), Kakak yang selalu semangatin Ayah, sekarang gantian, Kakak jatuh, kakak juga harus bisa semangat. Apa artinya jika Ayah dan Mamah mempunyai doa yang tinggi untuk Kakak, kalau Kakak tidak semangat, doanya ga akan sampai. Tegangan doanya ga sinkron. Kakak juga harus semangat.”
Seketika itu saya ubah mental saya, saya putar lagu-lagu penyemangat, saya pasang target-target yang membuat saya yakin bahwa saya bisa. Saat itu adalah turning point saya.
Saat itu saya sadar dan percaya bahwa tidak ada kegagalan, yang ada hanyalah proses belajar untuk memperbaiki kesalahan.
Adakah saran untuk mahasiswa yang memiliki passion dan background ilmu yang berbeda?
Kita sebagai mahasiswa, terlebih sebagai seorang muslim, harus bisa profesional. Kita harus bisa berprestasi, namun akademik juga harus bagus. Jika belum tahu mana yang terbaik, apakah akan mengejar passion atau ikut jalur profesional, cobalah untuk
Semoga bermanfaat, ya. :)
Bklass Sharing Shareng : Achievements with Nita Wakan
Berawal dari keinginanya memiliki gadget impian “IPAD” dan “BB”, ia memulai perjalanan prestasinya. Nita memiliki latar belakang keluarga yang memang tidak memfasilitasinya untuk mempunyai gadget yang terbilang mahal tersebut. Ia juga berada di lingkungan pertemanan yang membuatnya “iri” untuk memiliki gadget tersebut, menimbulkan keinginan untuk mendapatkanya dengan jalan lain, yaitu dengan mengikuti lomba. Pada akhirnya, IPAD dan BB idaman berhasil didapatkanya dari menjuarai dua lomba yang berbeda.
Namun, pandanganya mengenai prestasi berubah saat ia menjadi bagian dari PPSDMS Nurul Fikri Yogyakarta. Di sana ia dilatih agar tidak menjadi “Balon Kosong”, yaitu istilah untuk orang yang berprestasi namun hanya asal juara dan terkesan hanya mencari “hadiah”. Akhirnya ia mengubah haluan dengan mengikuti lomba yang memang sesuai bidang dan cita-citanya, yaitu menjadi guru dan konsultan bisnis.
Nita menyarankan kita untuk menguasai dua hal, yaitu “Bahasa Inggris” dan “Media”. Karena dua hal itu yang membuatnya mengetahui peluang-peluang event, conference atau lomba bergengsi yang bertaraf Internasional. Salah satu website rekomendasinya adalah http://conferencealerts.com. Menurutnya, penting bagi mahasiswa untuk mengikuti kegiatan yang bukan hanya tingkat nasional, namun juga Internasional.
Question & Answer
Apakah pernah merasa gagal?
Pernah, sering malah. Kegagalan terbesar adalah saat saya kelas 3 SMA. Waktu itu saya ingin sekali masuk ke Fakultas Kedokteran UI, saya merasa mampu saat itu, namun ternyata saya gagal. Teman saya yang nilainya sedikit di bawah saya justru yang diterima. Karena waktu itu saya terlalu pede dan malah tidak belajar, magang di Kompas MuDA dan Provoke! Magazine. Waktu itu saya merasa down. Malu. Hingga tidak ingin keluar kamar.
Saya berubah saat ayah saya berkata kepada saya “Kakak, sejauh ini ketika Ayah jatuh dan tidak bisa mendengar lagi (tuli), Kakak yang selalu semangatin Ayah, sekarang gantian, Kakak jatuh, kakak juga harus bisa semangat. Apa artinya jika Ayah dan Mamah mempunyai doa yang tinggi untuk Kakak, kalau Kakak tidak semangat, doanya ga akan sampai. Tegangan doanya ga sinkron. Kakak juga harus semangat.”
Seketika itu saya ubah mental saya, saya putar lagu-lagu penyemangat, saya pasang target-target yang membuat saya yakin bahwa saya bisa. Saat itu adalah turning point saya.
Saat itu saya sadar dan percaya bahwa tidak ada kegagalan, yang ada hanyalah proses belajar untuk memperbaiki kesalahan.
Adakah saran untuk mahasiswa yang memiliki passion dan background ilmu yang berbeda?
Kita sebagai mahasiswa, terlebih sebagai seorang muslim, harus bisa profesional. Kita harus bisa berprestasi, namun akademik juga harus bagus. Jika belum tahu mana yang terbaik, apakah akan mengejar passion atau ikut jalur profesional, cobalah untuk
7.24.2013
Mengapresiasi Pariwisata Indonesia
![]() |
| Pantai Indrayanti, Yogyakarta | Foto: Nita Wakan |
Keberagaman sumber daya alam dan budaya merupakan daya tarik pariwisata suatu negara. Dunia pariwisata merupakan salah satu sumber devisa bagi negara. Di Indonesia, terhadap komoditas ekspor lainnya, pariwisata merupakan sektor ekonomi yang penting (sumber devisa) setelah minyak dan gas bumi.
Wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Indonesia akan menukarkan uang atau valuta negaranya dengan rupiah sebagai alat pembayaran domestik. Valuta asing dari sektor pariwisata tersebut merupakan devisa negara sehingga sektor pariwisata perlu dikelola dengan baik.
Indonesia adalah satu-satunya negara di dunia yang memiliki 17.508 pulau dengan 719 bahasa daerah. 18% terumbu karang dunia ada di Indonesia dengan 600 titik selam tersebar dari Sabang hingga Marauke. Lokasi penyelaman Indonesia menawarkan keindahan dunia bawah laut, seperti Wakatobi, Karimunjawa, Nusa Penida, Derawan, dan Kepulauan Seribu.
6 dari 50 taman nasional di Indonesia masuk dalam situs Warisan Dunia UNESCO. Taman Nasional Kelimutu di Flores memiliki danau kawah tiga warna. Taman Nasional Lorentz di Papua punya salju abadi di puncak Gunung Jayawijaya.
3.12.2013
Sebuah Hibrida: Digitalisasi Pasar Tradisional
Pasca 1995, manusia mulai berteman akrab dengan perangkat digital. Ponsel canggih, kamera anti air, layar sentuh, komputer mini,dan perangkat sejenisnya yang membuat kehidupan manusia semakin termobilisasi. Mobilisasi yang semestinya memudahkan gerak manusia justru membuat manusia terjebak dalam paradoks kepadatan arus informasi. Mereka sibuk mengetikkan jari saat makan, berjalan, bahkan berkendara. Kebanyakan mereka tenggelam dalam kehidupan yang serba cepat dan praktis. Generasi ini, seperti yang disebut oleh Radar Panca Dahana, adalah generasi digital.
Generasi ini senang berkelindan dengan teknologi. Maka tak jarang entitas-entitas dengan sedikit atau ketiadaan unsur teknologi menjadi rapuh. Misalnya, tradisionalitas maupun lokalitas yang mulai tergerus oleh modernitas. Hal ini memunculkan para simpatisan yang sadar akan eksistensi tradisionalitas maupun lokalitas sebagai aset berkearifan, salah satunya ada pada pasar tradisional.
Pasar tradisional sebagai penggerak roda perekonomian negara, jaring penyelamat dan penyedia lapangan kerja bagi sebagian masyarakat, memiliki kapasitas kuat untuk bertahan pada situasi ekonomi makro yang tidak menentu. Adanya budaya tawar menawar, hubungan penjual dan pembeli yang terbentuk secara langsung dan indigenous semakin memperkaya pasar tradisional.
Dalam pasar tradisional, rakyat menjadi subjek dan objek yang utama sehingga sebagian kalangan menyebutnya sebagai pasar rakyat. Sebagian lagi dengan sengaja meninggalkan kata tradisional karena identik dengan kumuh, becek ataupun semrawut.
Baik pasar rakyat maupun pasar tradisional perlu mengambil langkah untuk menghadapi era digital. Generasi digital mungkin saja mengusung konsep baru: Pasar Digital. Bukan tidak mungkin ketika Pasar Gede di Solo mulai memasang papan elektronik informasi harga. Papan yang mencantumkan tujuh belas harga makanan ini dipasang di pintu masuk agar tidak terjadi kesimpangsiuran harga antara pedagang dan pembeli.
Generasi digital agaknya perlu hati-hati dalam usaha mendekatkan teknologi dengan pasar tradisional. Papan elektronik ini bisa jadi malah meredupkan budaya tawar menawar yang secara tidak langsung merusak karakter pasar tradisional. Lagi-lagi, generasi digital dengan semangat perbaikan masih berada pada situasi yang sulit. Pasar digital, sebuah hibridisasi pasar tradisional dan digital, mungkinkah memiliki eksistensi?
*artikel singkat ini menjadi bagian dari Buku Sekolah Pasar yang disusun oleh Sekolah Pasar, Pusat Studi Ilmu Ekonomi Kerakyatan UGM
3.11.2013
Mengendalikan Uang
Kehabisan uang saku sebelum akhir bulan tiba adalah pertanda lemahnya kita dalam mengatur uang. Metode preventif yang dapat kita lakukan agar tidak kehabisan uang saku adalah kemampuan mengatur atau perencanaan keuangan (financial plan ability). Pengaturan uang sebaiknya dilakukan sebelum kita mengeluarkan uang untuk pertama kalinya setelah cash money kita terima.
Ada beberapa cara yang bisa kita gunakan. Pertama, menyisihkan uang di awal. Misalnya ketika kita menerima uang sebesar Rp500,000,- baik secara cash maupun yang mengendap di mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Sisihkan paling tidak sedikitnya 10% dari uang yang kita terima. Uang sebesar Rp50.000,- (10%x500.000) ini kita pisahkan, misalnya kita letakkan pada dompet yang berbeda atau ATM yang berbeda. Saya pribadi memiliki dua buah kartu ATM, satu digunakan untuk opersional kebutuhan sehari-hari, satu lagi hanya digunakan untuk menyimpan uang sisihan.
Kedua, berhemat tapi jangan sampai menyiksa diri sendiri. Berhemat adalah salah satu bagian paling penting dari proses perencanaan keuangan. Gunakan dahulu uang untuk apa yang kita perlukan (kebutuhan) bukan untuk yang kita inginkan.
Ketiga, mencari pemasukan (income) selain dari uang orang tua (love money). Tambahan pemasukan bisa kita peroleh dari beasiswa, berwirausaha atau bekerja paruh waktu. Kemampuan merencanakan keuangan dikolaborasikan dengan kemampuan kita menangkap peluang (seize opportunities).
Jika ketiga tahap tersebut tidak kita lalui dengan baik, terutama tahap kesatu dan kedua, keuangan kita akan tersendat. Kita bisa mengalami kehabisan uang sebelum akhir bulan tiba, meminjam istilah besar pasak daripada tiang.
Untuk menutupi lubang kekurangan itu, ada banyak pilihan yang bisa kita ambil. Diantaranya berhutang (debt) kepada teman, menggadaikan barang, atau bahkan berpuasa. Sesekali ada baiknya kita merasakan hal tersebut sebagai refleksi bahwa uang didapatkan dengan pengorbanan.
Namun setelah itu, jadilah dewasa tidak hanya secara lahir. Kendalikan uang, jangan sampai uang yang mengendalikan kita. Jika dalam mengelola uang pribadi saja kita tidak bisa, bagaimana di masa depan nanti kita mengelola bangsa ini, wahai mahasiswa?
*artikel ini dimuat dalam Okezone,com
Ada beberapa cara yang bisa kita gunakan. Pertama, menyisihkan uang di awal. Misalnya ketika kita menerima uang sebesar Rp500,000,- baik secara cash maupun yang mengendap di mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Sisihkan paling tidak sedikitnya 10% dari uang yang kita terima. Uang sebesar Rp50.000,- (10%x500.000) ini kita pisahkan, misalnya kita letakkan pada dompet yang berbeda atau ATM yang berbeda. Saya pribadi memiliki dua buah kartu ATM, satu digunakan untuk opersional kebutuhan sehari-hari, satu lagi hanya digunakan untuk menyimpan uang sisihan.
Kedua, berhemat tapi jangan sampai menyiksa diri sendiri. Berhemat adalah salah satu bagian paling penting dari proses perencanaan keuangan. Gunakan dahulu uang untuk apa yang kita perlukan (kebutuhan) bukan untuk yang kita inginkan.
Ketiga, mencari pemasukan (income) selain dari uang orang tua (love money). Tambahan pemasukan bisa kita peroleh dari beasiswa, berwirausaha atau bekerja paruh waktu. Kemampuan merencanakan keuangan dikolaborasikan dengan kemampuan kita menangkap peluang (seize opportunities).
Jika ketiga tahap tersebut tidak kita lalui dengan baik, terutama tahap kesatu dan kedua, keuangan kita akan tersendat. Kita bisa mengalami kehabisan uang sebelum akhir bulan tiba, meminjam istilah besar pasak daripada tiang.
Untuk menutupi lubang kekurangan itu, ada banyak pilihan yang bisa kita ambil. Diantaranya berhutang (debt) kepada teman, menggadaikan barang, atau bahkan berpuasa. Sesekali ada baiknya kita merasakan hal tersebut sebagai refleksi bahwa uang didapatkan dengan pengorbanan.
Namun setelah itu, jadilah dewasa tidak hanya secara lahir. Kendalikan uang, jangan sampai uang yang mengendalikan kita. Jika dalam mengelola uang pribadi saja kita tidak bisa, bagaimana di masa depan nanti kita mengelola bangsa ini, wahai mahasiswa?
*artikel ini dimuat dalam Okezone,com
10.12.2012
Dana Pembangunan Daerah Sia-sia
| Urbanisasi sebenarnya bagian dari proses kita beradaptasi terhadap perubahan. Proses ini menjadikan banyak hal yang dahulu bersifat tradisional ke arah modern sehingga orang sering mereduksikannya sebagai perubahan sifat atau tempat dari suasana desa ke kota. Perubahan ini pasti terjadi di setiap daerah,namun yang membedakan adalah sikap setiap daerah terhadap perubahan tersebut tidaklah sama. Perbedaan sikap ini yang nantinya memunculkan ketimpangan dari berbagai sektor. Salah satu ketimpangan yang paling terlihat adalah tata kelola suatu kota. Kota yang dikatakan maju umumnya memiliki banyak gedung pencakar langit, sekolah, pusat perbelanjaan, fasilitas publik, dan jalan-jalan yang banyak dilalui kendaraan. Tapi di sisi lain, masih terdapat daerahdaerah kumuh yang tepat bersebelahan dengan pusat kota tersebut sehingga tata kota pun terlihat semrawut. Begitu pula dengan masih adanya kota yang minim gedung dan fasilitas publik. Tata kota yang masih buruk salah satunya disebabkan oleh tidak cakapnya pengelolaan dana untuk membangun daerah. Berdasarkan data Kementrian Keuangan, anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) yang mengendap di bank pada akhir 2002 dan akhir 2009 masing-masing senilai Rp22,18 triliun dan Rp59,81 triliun. Per akhir Desember 2011 nilainya semakin meroket menjadi Rp80,4 triliun dengan rincian Rp13,12 triliun di simpanan berjangka,Rp45,77 triliun di rekening giro,dan Rp919 miliar di tabungan. Dana yang tidak terserap itu umumnya belanja modal yang mayoritas untuk pembangunan infrastruktur.Padahal berbagai studi menunjukkan pembelanjaan di bidang infrastruktur memiliki korelasi positif dengan pertumbuhan ekonomi. Berarti dengan tersia-siakannya anggaran di daerah sama saja terjadi opportunity lost pada penduduk di daerah yang sebenarnya sangat membutuhkan kemajuan. Hal ini menunjukkan bahwa hak kita untuk menikmati pembangunan pun setiap tahunnya dibajak oleh pemerintah. Semestinya APBD ini dapat dicairkan untuk kesejahteraan rakyat, meningkatkan pelayanan publik, dan membangun kotakota yang masih tertinggal. Keadaan ini juga perlu ditopang dengan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni dengan harapan setiap kota dapat menyikapi urbanisasi dengan baik.● NUR’AINI YUWANITA WAKAN Mahasiswa S-1 Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Penerima Beasiswa PPSDMS Nurul Fikri |
10.13.2011
Meja Makan Made in Holland
Artikel ini dimuat dalam studiddibelanda.com
Alhamdulillah artikel ini membuat saya bisa mentraktir beberapa teman makan di resto yang cukup mewah (terpaksa -_-) dan mengantarkan pertemuan saya dengan mas-mas yang, subhanallah, baca Alquran sembari menunggu bus di daerah Blok M, Jakarta. Benar-benar mengalihkan dunia!
Anak-anak adalah sumber daya yang paling bernilai. Hingga berbagai pihak pun berusaha merawat dan menjaga mereka sebaik-baiknya dengan memberikan pendidikan yang bermutu, membangun fasilitas untuk mengembangkan bakat, dan sebagainya. Namun hidup anak-anak bukan hanya sebuah ajang mengukir prestasi. Hidup mereka lebih dari itu: merasakan kebahagiaan.
Di tengah dunia yang semakin kompetitif ini, Belanda memberikan pelajaran kepada kita soal kebahagiaan anak-anak. Bayangkan, lebih dari 90% anak-anak di Belanda merasa bahagia. Bahkan mereka tidak minum-minuman, merokok, atau berhubungan seks sebelum waktunya.
Inilah yang mengantarkan Belanda menyandang gelar The happiest kids in Europe, Anak paling Bahagia di Eropa berdasarkan survey yang diadakan oleh WHO, UNICEF International, dan German UNICEF Foundation. Apa rahasianya?

Hal menarik yang saya tangkap, salah satu rahasia kebahagiaan mereka ada pada sebuah meja makan. Meja makan dalam hal ini adalah sebutan untuk apapun tempat meletakkan dan menyantap makanan.
Mulai dari sebuah meja makanlah, anak-anak Belanda belajar kebersamaan juga kebebasan. Di depan meja makan, orangtua, anak, dan kerabat dekat saling bertemu. Sekitar 70% orang tua di Belanda selalu memiliki waktu untuk keluarga dan anak-anak. Mereka menyantap makanan bersama-sama. Makan bersama telah menjadi bagian hidup sebuah keluarga di Belanda sejak lama bahkan menjadi sebuah budaya.
Banyak ilmuwan sosial juga studi lebih lanjut dalam Archives of Family Medicine mengatakan bahwa makan bersama, bekerja seperti sebuah vaksin. Melindungi anak-anak dari segala macam bahaya. Studi itu menunjukkan bahwa anak-anak yang makan bersama lebih sedikit kemungkinannya untuk merokok, minum-minuman, dan obat-obatan terlarang. Mereka biasanya memiliki reputasi yang baik di sekolah. Dan Belanda pun berhasil membuktikannya.
Meja makan, salah satu tempat keluarga Belanda membangun identitas dan budaya. Cerita diturunkan, canda dan tawa pun dibagikan. Anak-anak mempelajari percakapan. Mereka mendengar bagaimana masalah dipecahkan, belajar mendengarkan masalah orang lain dan menghormati selera makan saudaranya.
Sebuah seni mendidik yang membawa anak-anak Belanda menjadi anak paling bahagia di tanah Eropa.
Pendidikan berkualitasdi meja makan tentang hidup yang telah diajarkan sejak dini, membawa Belanda menjadi salah satu negara terbaik untuk hidup (11th Best Country to Live, magazine of International Living). Juga menjadikan Belanda sebagai tempat tinggal paling bahagia (1st in Happiest Living, Gallup World Poll Survey). Hingga masuk dalam 10 negara terbaik dalam berbagai macam hal.
Maka tidaklah heran jika Belanda masih menjadi salah satu negara impian yang ingin disambangi oleh para pelajar dan wisatawan di seluruh dunia.
Seni mendidik sederhana dari meja makan Belanda ini semoga bisa menginspirasi keluarga di Indonesia.
Referensi:
http://www.dutchdailynews.com/dutch-kids-happiest/
http://www.dw-world.de/dw/article/0,,2356219,00.html
http://news.bbc.co.uk/go/pr/fr/-/1/hi/world/europe/6360517.stm
http://www.time.com/time/magazine/article/0,9171,1200760,00.html
http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/mendidik-ala-belanda-dengar-pendapat-anak
Gambar:
tdwclub.com
Alhamdulillah artikel ini membuat saya bisa mentraktir beberapa teman makan di resto yang cukup mewah (terpaksa -_-) dan mengantarkan pertemuan saya dengan mas-mas yang, subhanallah, baca Alquran sembari menunggu bus di daerah Blok M, Jakarta. Benar-benar mengalihkan dunia!
Meja Makan Made in Holland
Anak-anak adalah sumber daya yang paling bernilai. Hingga berbagai pihak pun berusaha merawat dan menjaga mereka sebaik-baiknya dengan memberikan pendidikan yang bermutu, membangun fasilitas untuk mengembangkan bakat, dan sebagainya. Namun hidup anak-anak bukan hanya sebuah ajang mengukir prestasi. Hidup mereka lebih dari itu: merasakan kebahagiaan.
Achieving is important, but there is no sense in overdoing it
-Gellauf
Di tengah dunia yang semakin kompetitif ini, Belanda memberikan pelajaran kepada kita soal kebahagiaan anak-anak. Bayangkan, lebih dari 90% anak-anak di Belanda merasa bahagia. Bahkan mereka tidak minum-minuman, merokok, atau berhubungan seks sebelum waktunya.
Inilah yang mengantarkan Belanda menyandang gelar The happiest kids in Europe, Anak paling Bahagia di Eropa berdasarkan survey yang diadakan oleh WHO, UNICEF International, dan German UNICEF Foundation. Apa rahasianya?
Hal menarik yang saya tangkap, salah satu rahasia kebahagiaan mereka ada pada sebuah meja makan. Meja makan dalam hal ini adalah sebutan untuk apapun tempat meletakkan dan menyantap makanan.
Mulai dari sebuah meja makanlah, anak-anak Belanda belajar kebersamaan juga kebebasan. Di depan meja makan, orangtua, anak, dan kerabat dekat saling bertemu. Sekitar 70% orang tua di Belanda selalu memiliki waktu untuk keluarga dan anak-anak. Mereka menyantap makanan bersama-sama. Makan bersama telah menjadi bagian hidup sebuah keluarga di Belanda sejak lama bahkan menjadi sebuah budaya.
Banyak ilmuwan sosial juga studi lebih lanjut dalam Archives of Family Medicine mengatakan bahwa makan bersama, bekerja seperti sebuah vaksin. Melindungi anak-anak dari segala macam bahaya. Studi itu menunjukkan bahwa anak-anak yang makan bersama lebih sedikit kemungkinannya untuk merokok, minum-minuman, dan obat-obatan terlarang. Mereka biasanya memiliki reputasi yang baik di sekolah. Dan Belanda pun berhasil membuktikannya.
Meja makan, salah satu tempat keluarga Belanda membangun identitas dan budaya. Cerita diturunkan, canda dan tawa pun dibagikan. Anak-anak mempelajari percakapan. Mereka mendengar bagaimana masalah dipecahkan, belajar mendengarkan masalah orang lain dan menghormati selera makan saudaranya.
Sebuah seni mendidik yang membawa anak-anak Belanda menjadi anak paling bahagia di tanah Eropa.
Pendidikan berkualitasdi meja makan tentang hidup yang telah diajarkan sejak dini, membawa Belanda menjadi salah satu negara terbaik untuk hidup (11th Best Country to Live, magazine of International Living). Juga menjadikan Belanda sebagai tempat tinggal paling bahagia (1st in Happiest Living, Gallup World Poll Survey). Hingga masuk dalam 10 negara terbaik dalam berbagai macam hal.
Maka tidaklah heran jika Belanda masih menjadi salah satu negara impian yang ingin disambangi oleh para pelajar dan wisatawan di seluruh dunia.
Seni mendidik sederhana dari meja makan Belanda ini semoga bisa menginspirasi keluarga di Indonesia.
Other things may change us, but we start and end with the family.
-Anthony Brandt
Referensi:
http://www.dutchdailynews.com/dutch-kids-happiest/
http://www.dw-world.de/dw/article/0,,2356219,00.html
http://news.bbc.co.uk/go/pr/fr/-/1/hi/world/europe/6360517.stm
http://www.time.com/time/magazine/article/0,9171,1200760,00.html
http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/mendidik-ala-belanda-dengar-pendapat-anak
Gambar:
tdwclub.com
9.17.2011
Most Creative Entry @Pesta Blogger 2010
Sorry for this quick re-post, i just want to make a data here. please enjoy.
I got an Apple Ipad from the article i have written about my dream and JCU Singapore in Pesta Blogger 2010 event. Alhamdulillahirabbil alamin.
Here is my article on my old blog
Here is the announcement as Most Creative Entry
And there was also the long story enough behind me and an ipad, if you want to take a look, here
Hope there's a chance again to get another PC Tablet. Aamiin :)
I got an Apple Ipad from the article i have written about my dream and JCU Singapore in Pesta Blogger 2010 event. Alhamdulillahirabbil alamin.
Here is my article on my old blog
Here is the announcement as Most Creative Entry
And there was also the long story enough behind me and an ipad, if you want to take a look, here
Hope there's a chance again to get another PC Tablet. Aamiin :)
8.28.2011
Article on Deinblick Magazine German
Deinblick is a Germany International open-platform magazine. Currently read in 32 countries, deinblick is the first international user-generated life magazine. For more info: www.deinblick.com
Here is my article on Deinblick Magazine, January 2011:
Author Nur'aini Yuwanita Wakan (Nita Wakan) // Indonesia
PhotoM61 Jakarta High School, Indonesia
I am 17 years old right now and I always had good experience especially with all of my friends shown on this photo. We had been Nityameti Subha Pratijna school representatives and wearing a special uniform. the vest had our name and position printed on it.
I was a vice leader of them. Together we organized many events. Therefore we knew each other very well. We knew who had a big ego, was moody, a problem solver, or a pretty punctual person. No matter we often had different ideas and opinion, we shared one vision and mission: To give all our best to make our event successful. So there was not only smile but also tears. They personally made me to be a mature person, to have a best skill in leadership. Thanks from the deep of my heart, for teaching me to be strong like a rock. All you guys taught me to hear what I couldn't hear before.

Time went by too fast and there was a change of positions. It's been so sad because we knew we would never make an event together again. We wear off our vests and threw them up into the sky to show we are ready to move on and live in the different way. We strongly believe that we became a New Generation with this entire lesson that we learned from this school representatives' experience.
Your rock, Nityameti Subha Pratijna.
Here is my article on Deinblick Magazine, January 2011:
NOT ME, BUT WE ARE THE NEW GENERATION
Author Nur'aini Yuwanita Wakan (Nita Wakan) // Indonesia
PhotoM61 Jakarta High School, Indonesia
I am 17 years old right now and I always had good experience especially with all of my friends shown on this photo. We had been Nityameti Subha Pratijna school representatives and wearing a special uniform. the vest had our name and position printed on it.
I was a vice leader of them. Together we organized many events. Therefore we knew each other very well. We knew who had a big ego, was moody, a problem solver, or a pretty punctual person. No matter we often had different ideas and opinion, we shared one vision and mission: To give all our best to make our event successful. So there was not only smile but also tears. They personally made me to be a mature person, to have a best skill in leadership. Thanks from the deep of my heart, for teaching me to be strong like a rock. All you guys taught me to hear what I couldn't hear before.
Time went by too fast and there was a change of positions. It's been so sad because we knew we would never make an event together again. We wear off our vests and threw them up into the sky to show we are ready to move on and live in the different way. We strongly believe that we became a New Generation with this entire lesson that we learned from this school representatives' experience.
Your rock, Nityameti Subha Pratijna.
Langganan:
Postingan (Atom)
©
Mettle in Perspective. All rights reserved.



