9.25.2015

Semangat dari Sendai


“Ayah setuju Kak, dengan keputusan Kakak untuk ikut exchange program.
Itu seperti Kakak sedang mengambil posisi ancang-ancang untuk berlari kencang.
Kakak menunda kuliah satu tahun, itu seperti satu kaki Kakak mundur ke belakang tapi setelah itu Ayah yakin Kak, insya Allah Kakak bisa berlari jauh. Jauh lebih kencang.”
kata-kata Ayah sore itu membuat hati semakin mantap untuk mengirim berkas aplikasi ke Tohoku University di Sendai, Jepang

Sejak kecil, saya ingin sekali merasakan ‘hidup’ di luar negeri. Saya ingin tahu.. seperti apa rasanya hidup sebagai minoritas, belajar di kelas, di tengah teman-teman yang berbeda bahasa dan budaya.
Seperti apa rasanya mengalahkan ketidakpercayaan diri untuk bisa presentasi seorang diri dalam bahasa inggris berkali-kali.
Seperti apa rasanya bermain ski di musim salju, piknik di bawah pohon sakura, shalat di pinggir jalan, pergi ke taman dengan orang Brazil, melihat ratusan bintang dengan orang Kazakhistan, mengajak orang Prancis ikut buka puasa bersama, dan hal-hal lain yang tidak bisa dikonversikan dalam mata uang manusia.
Hingga akhirnya memberanikan diri pada keputusan krusial untuk cuti satu tahun dan mengikuti exchange program di Jepang.


Hari-hari terakhir

Siang itu di Global Learning Centre, Main Library Tohoku University, saya membuka presentasi terakhir dengan
dua buah foto. 

(sebenarnya dipresentasikan dalam Bahasa Inggris)
“Foto pertama ini adalah foto saya bersama keluarga Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Sendai saat matsuri. Kami membuka boothstand dan mengenalkan makanan serta kebudayaan Indonesia. Mereka ini seperti keluarga saya sendiri. Bantuan dan kebaikan mereka tidak akan pernah saya lupakan.



Foto kedua, jika teman-teman masih ingat, ini adalah foto kita saat christmast party. Inilah pertama kalinya saya mendapat hadiah-hadiah christmast yang lucu-lucu dari kalian. Saya minta maaf karena tidak bisa secara langsung membalas hadiah-hadiah itu.
Nah disini, hanya saya yang mengenakan hijab. Berbeda sekali dengan foto yang pertama, yah.





Sebagai seorang muslim, karena perbedaan dan adanya prinsip yang saya pegang itu… kepada teman-teman saya minta maaf.. karena
SHARE:

6.27.2015

Semoga Kamu Ingat


S: Hahah. Challenge aku dong Nit. Disemangatin orang-orang yang udah lulus doang ga mempan.

N: Aku ga mau challenge ataupun semangatin kamu. Inget kata Bang Arief Munandar? Pemimpin itu mereka yang udah selesai sama dirinya. Kalau mereka gabisa nyemangatin diri sendiri, payaaahhhhh. So I put trust that you already finish with you.

S: OMG! Nitaaaaaa. Well fine. Aku speechless.

Itu percakapan kita di LINE delapan hari sebelum ulang tahunmu.



Light Decoration from @LilMS_Sunshine8 tweet



Semoga kamu ingat kembali pada hari-hari dimana kamu yang penuh semangat tiap pagi memanaskan mobilmu untuk siap kamu bawa ke kampus. Berkali-kali aku nebeng di mobilmu dan kita suka pulang larut, kira-kira jam dua malam, mengendap-ngendap lewat
SHARE:

3.01.2015

Sahabat (Pertama Kalinya)


People come, people go – they’ll drift in and out of your life, almost like characters in a favorite book. When you finally close the cover, the characters have told their story and you start up again with another book, complete with new characters and adventures. Then you find yourself focusing on the new ones, not the ones from the past.


Nicholas Spark dalam The Rescue ada benarnya.

Akhir-akhir ini begitu banyak orang yang hadir dan pergi begitu cepat. Bak membaca belasan novel secara marathon di penghujung winter break. Orang-orang ini, yang begitu membekas kehadirannya pun kepergiannya dalam hidup kita, mirip seperti karakter favorit dalam novel favorit. 

Dalam kehidupan nyata, karakter favorit ini bisa punya nama lain: keluarga, sahabat, pasangan hidup, orang yang kita kagumi diam-diam pun orang asing yang menginspirasi.
Sahabat (pertama kalinya), menjadi karakter favorit yang ingin saya ceritakan kali ini.







Saya tidak pernah membayangkan akan memiliki sahabat yang bahasa ibunya berbeda dengan bahasa saya. Sahabat yang berasal dari tanah kelahiran yang berbeda dengan saya. Sahabat yang terkejut setelah mengetahui saya harus ibadah lima kali sehari dan harus bangun jam lima pagi. 

Inilah pertama kalinya, saya menangisi kepergian seorang wanita muda China dan seorang wanita muda Vietnam di bandara.

Kami bertemu dalam program pertukaran pelajar di Jepang. Sayang, mereka hanya mengambil short program (enam bulan) sedang saya mengambil waktu satu tahun. Artinya mereka meninggalkan Jepang dan kembali ke negara asal lebih dulu. Menjadi pihak yang ditinggalkan, membuat saya jadi melo dramatic.


Saya rindu perhatian-perhatian kecil mereka.
Seperti suatu sore saat salju turun begitu lebat. Tidak ada bus dan taksi yang beroperasi. Kami harus pergi ke farewell party dengan jalan kaki melawan suhu udara yang begitu dingin. Summer, sahabat saya dari China, terus membersihkan salju yang jatuh ke coat saya. Tangannya dengan sigap membersihkan setumpuk salju yang jatuh ke tas, pundak dan punggung saya sepanjang perjalanan menuju Sendai Eki. 

Atau saat Hien, sahabat saya dari Vietnam yang tidak pernah bosan mengingatkan saya untuk menandatangani Jasso Scholarship setiap awal bulan. Jika lupa tanda tangan, saya tidak akan mendapat beasiswa pada bulan tersebut. “Nanti kalau aku pulang (ke Vietnam), kamu enggak boleh lupa buat tanda tangan lagi ya.” pesannya pada saya. 

Juga saat kami melintasi Aoba-dori dan saya mulai bercerita tentang rencana saya untuk memulai bisnis. Mereka langsung menawarkan diri jadi investor dan bilang kalau mereka tidak bercanda dan menunggu saya mengeksekusi rencana saya yang mereka anggap menggiurkan.


Kini Summer sedang melanjutkan studinya di Beijing, Hien di Hanoi, dan saya masih akan tinggal di Sendai hingga bulan kedelapan tahun ini. 

“Nita, please send me a message when you have time.” ucap Hien melalui voice message.


“My dear, send email to me. It would be hard for me to use facebook in China.” pinta Summer di group chat kami, Wonder Women. 

Saya rindu saat-saat dimana kami pergi ke Seiyu Supermarket setiap Rabu siang usai Nihongo Class kemudian masak bersama. Mereka akan jadi orang yang paling sibuk, cerewet, dan teliti untuk memastikan bahwa bumbu dan makanan yang kami beli tidak mengandung pork dan alkohol. 



Sambil masak dan makan hot pot, takoyaki, sushi, tahu isi, nasi goreng, kami akan mulai membicarakan rencana kehidupan kami setelah program exchange. Summer akan menyelesaikan studi S1-nya dan langsung mengambil master di China. Ia mendapat beasiswa penuh di salah satu universitas terbaik di Beijing. Hien masih harus menyelesaikan empat semester kuliahnya dan berencana untuk melanjutkan studi di UK bersama sang kekasih yang begitu setia. Oh, every night they must meet at skype. 

Saya? Saya bilang ke mereka kalau usai lulus S1, saya berencana untuk menikah dan plan selanjutnya dirancang bersama suami nanti. Ekspresi mereka kaget. “It’s too fast. You need more time for your own career. Did you already find your right man? ”

Biarpun kami punya mindset yang berbeda soal masa depan juga keyakinan yang berbeda, tapi selera lidah kami sama: we like spicy food and sweet cakes!


Selain itu, kami juga bersepakat untuk saling mengunjungi pernikahan masing-masing.

“I will find a rich guy so he can buy tickets for you to come to our wedding in China!!” seru Summer, anak pemilik tujuh puluh pohon cherry di Beijing.


Kami tertawa. 


Dalam hati, saya berdoa, semoga kami bisa bertemu lagi.



SHARE:

5.08.2013

Narasi Evaluasi

Dalam sebuah lingkaran sederhana, saya diminta untuk menceritakan tentang sebuah ‘evaluasi’ yang pernah saya alami.

Hanya dua kalimat yang saya sebutkan. Saya ditertawakan. Kesempatan untuk ‘bercerita tentang evaluasi’ pun dipindahkan ke mulut teman yang lain.

Apa ada yang salah dengan pendapat saya soal ‘evaluasi’? Sehingga saya harus minum obat dan merasionalkan pikiran saya seperti yang diceletukkan oleh salah satu teman yang mendengar? Atau karena nada bicara saya yang tidak serius?

“Bagi saya, evaluasi membuat kita mengetahui keberadaan kita.” (teman-teman tertawa)

“Evaluator bisa melihat sisi yang tidak kita lihat.” (teman-teman tertawa lagi)

Tawa mereka sama sekali tidak menghibur saya tapi mengevaluasi diri saya sampai ke dalam hati.
***

Bagi saya, evaluasi membuat kita mengetahui keberadaan kita.

Ketika mengucapkan kalimat itu, seorang teman berusaha menyempurnakannya (di tengah
SHARE:

1.20.2012

Terimakasih Aisyah

Sebuah tulisan dari seorang sahabat, hadiah terindah (lagi) untuk angka 19:
 

Nur'aini Yuwanita Wakan

Dia adalah seorang perempuan yang begitu mempesona.
Sebagai seorang penulis, dia adalah seorang penulis yang menginspirasi. Setiap kata yang dituliskannya bisa menghasilkan motivasi dan memberi banyak informasi.

Sebagai seorang pemimpin, dia adalah pemimpin yang baik. Dia mau membaur dengan semua yang ada di bawahnya. Dia tidak lantas tegak berdiri paling depan, tapi mau mundur ke belakang.

Sebagai seorang kakak, dia adalah kakak yang sangat sayang pada adiknya. Mungkin, kalau aku jadi Faris, aku akan sangat bahagia sekali karena punya kakak yang baik seperti dia.
Sebagai individualis, dia adalah individu yang sangat bekerja keras dan bermimpi tinggi. Dia mau berusaha lebih dari sekedar yang dia mampu untuk mewujudkan semua cita cita dan mimpinya.
Dan sebagai seorang teman, dia sangat luar biasa. Dia adalah teman yang mau mendengarkan. Dia adalah teman yang sangat baik dan setia. Dan bagiku, dia lebih dari sekedar teman, dia adalah sahabat, dan dia adalah saudara. Dan bagiku dia sangat special, karena dia mengalami banyak hal pahit bersamaku.

Hari ini genap sudah bertambah usiamu. Semoga kau bisa tetap menjadi seorang Nuraini Yuwanita Wakan yang luar biasa di segala hal yaa.

Kau seperti kertas origami,
Yang selalu penuh warna dan warni,
Yang bisa dilipat menjadi berbagai macam bentuk yang unik,
Yang meskipun sudah lecek, tetap saja bisa menjadi bentuk yang bagus,
Bagiku kau adalah kertas origami,
Yang bisa menemani siapapun, dalam bentuk apapun,
dengan warna yang indah..


Selamat ulang tahun kawan.. semoga umurmu semakin berkah dan bermanfaat.

Bekasi, 6 Januari 2012.
sahabatmu, Aisyah.






#1

Terimakasih, Aisyah. Tentu saja kau begitu berlebihan dalam menilaiku.

Kamu harus tahu, duduk sebangku dengan mu rasanya seperti mimpi. Karena aku sudah mengenal namamu tujuh tahun sebelumnya!

Aisyah, nama yang selalu tertera sebagai daftar murid berprestasi dengan peringkat tertinggi. Aku selalu mencari tahu seperti apa kamu, peringkat satu: kelas, sekolah, sampai yayasan.

Dan saat itu aku sudah mengagumimu.  Ya, semenjak kelas satu SD.

Dalam do’aku, semoga jalan kita bersimpangan.

Ternyata Allah baik sekali, Ia membuat kita dekat dengan cara yang indah. Aku bisa mengenal dan belajar banyak hal darimu.

Dimulai dari tahun 2008, saat satu team dalam lomba cerdas cermat antar kelas hingga team International Junior Sains Olympiade. Dua hari bersamamu di Van Deventer tak akan aku lupa, sayang sekali aku sakit waktu itu. Maaf menjadi teman perjalanan yang menyusahkan.
Masih ingatkah mimpi untuk berdiri di podium bersama dan memegang medali emas? Aku akan wariskan mimpi kita pada generasiku, aku akan ceritakan tentang perjalanan kita pada anak cucuku nanti.

Membangun mimpi dan mengejarnya bersama, tentu saja perjuangan kita belum usai. See you on the top, Aisyah. Terimakasih karena kamu telah memberi pijakan tangga yang kuat padaku untuk selalu melangkah.


#2
Ada lagi, Aisyah. Sebelum aku mengenal Eiji Yoshikawa, Paulo Coelho, dan Haruki Murakami, aku telah mengenalmu lebih dulu sebagai seorang penulis. Aku sangat suka saat kau membuat puisi-puisi sederhana dan membacakannya di depan kelas. Atau saat kau mengenalkanku pada sosok Gie.

Kamulah orang pertama yang memberiku inspirasi untuk larut dalam dunia menulis.

Jadi tidak berlebihan bukan kalau aku mengagumimu, sahabatku?

SHARE:

My 19th








You made my day special because you are so spesial in my life. I feel so lucky to have you.

I will always remember you, no matter what comes about.

You would never dream of ever changing me. You accept who i am and what i believe, but you still challenge me to be my best. You aren't afraid to set me straight. You never make jokes at my expense.

I want you to always be happy, irreguardless of how it happens,

Because no matter how tough the going gets, you never get going.
Person 1: Why are those to always together? They are nothing alike.

Person 2: Them? Nah. For some reason they are best friends
SHARE:

12.24.2011

Video Hello ASEAN dan BEM FEB UGM

#1

Ini video amatir pertama yang saya buat untuk mengenalkan acara Hello ASEAN yang diselenggarakan di Jakarta dan Bali, 24Oktober-25 November 2011.


Terimakasih untuk teman-teman yang telah membantu: Gieta sebagai komunikator, Tika sebagai model dan bersedia di shoot saat hujan, 'bule-bule' exchange students, dan teman-teman asrama UGM Bulaksumur Residence .

Pihak @helloASEAN pun mengirim iPad 2 white sebagai balasannya. Alhamdulillah akhirnya bisa baca eBooks dengan lebih nyaman, terimakasih! :)

#2

Video kedua adalah parodi sederhana dari anak-anak 2011 yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FEB UGM untuk kakak-kakak 2009 yang sebentar lagi lengser dari jabatannya. Film 8 menit ini diputar saat Farewell Party, 23 Desember 2011 di rumah Mas Graha Ganindra Goutama, Ketua BEM FEB UGM 2011.

(belum diupload di youtube)

Karena baru dihubungi oleh Bintang Prasodjo H-2 sempat ragu untuk bisa finish tepat waktu karena terbentur tugas paper dan UAS. Proses shoot nya juga baru dilakukan H-1. Alhamdulillah, Febrianto Ramadhan datang dan ikut membantu sampai akhir.

Terimakasih Febri, Bintang, Muja yang mau bolak-balik, Irah yang bantu menyusun format, Puput untuk ide dan masukannya, teman-teman BEM yang jadi artis dan mau di shoot sampe jam 10 malam juga Dinawaya Widarasti yang kirim sms "semangat"

Akhirnya selesai jam 8 malam dan langsung jalan ke rumah Mas Graha. Sempat takut kalau filmya bakal 'krik-krik-krik' tapi ternyata semua yang nonton ikut tertawa dan terhibur.

Terimakasih dan Alhamdulillah :)
SHARE:

11.05.2011

Enjoying College Life

[caption id="attachment_323" align="aligncenter" width="405"]college best friends: Me, Dina (Lampung), Miana (Aceh), Miftha (Banjarmasin), Adin (Solo) college best friends: Me, Dina (Lampung), Miana (Aceh), Miftha (Banjarmasin), Adin (Solo)[/caption]

[caption id="attachment_338" align="aligncenter" width="460"]Class F, Economics and Business UGM 2011 Class F, Economics and Business UGM 2011[/caption]

[caption id="attachment_384" align="aligncenter" width="460"]BEM FEB UGM 2011 BEM FEB UGM 2011[/caption]

[caption id="attachment_383" align="aligncenter" width="460"]my point of view every morning, every evening for a year my point of view every morning, every evening for a year[/caption]

 

 

it always hard for the beginning


but when i tried to enjoy it, everything seems possible.


You make me feel enjoy in Jogja, friends.


Be nice, always.

SHARE:

9.23.2011

When I'm Down (SNMPTN) Part 1

Lagi buka-buka file lama dan menemukan sebuah file dengan judul "Never Give Up" di harddisk. Ternyata sebuah tulisan yang saya buat sebelum SNMPTN Tertulis. Pas baca lagi jadi sedih dan teringat masa-masa perjuangan itu. Semoga bisa diambil pelajaran.


Never Give Up


Menjadi dokter adalah salah satu impian terbesar saya. Mimpi akan kedokteran telah saya bangun sedemikian rupa hingga terasa indah sekali untuk sekedar dibayangkan.

Tanggal 17 Mei 2011, saya dan beberapa sahabat berkumpul untuk melihat pengumuman SNMPTN Undangan bersama-sama.  Memasukkan nomer ujian dengan gemetar diselingi halaman twitter yang Alhamdulillah, penuh dengan keberhasilan teman-teman yang sudah diterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

Bismillahirrahmanirrahiim.

Saya memasukkan nomer ujian dengan perlahan dan mengkoreksi setiap angka yang saya ketik,

dan… Ya. Saya menahan nafas beberapa detik.

Saya tidak lulus seleksi.

Saya tidak lulus FK UI.

Begitu pula sahabat-sahabat saya di ruangan itu. Kami semua tidak lulus SNMPTN Undangan. Seperti sebuah takdir yang mempertemukan kami untuk saling menguatkan saat itu.

Sungguh, saya tidak tahan untuk tidak menangis. Sambil menahan air mata, saya pamit sebentar untuk memberi kabar orang-orang di rumah. Saya berlari menuju rumah ditemani angin malam yang kencang.

Di sepanjang jalan, saya menangis. Saya tidak peduli lagi dengan orang-orang di jalan yang memperhatikan saya.

Sesampainya di rumah, saya langsung bersujud di kaki kedua orang tua, di kaki mama dan ayah. Di bawah kaki mereka, saya terus menangis. Menangis sejadi-jadinya. Ayah langsung menarik saya berdiri sambil menyeka air mata yang juga turun dari kedua matanya.

Lima hari saya mengurung diri di kamar. Keluar kamar pun hanya sesekali. Menghampiri mama lalu menangis. Mental saya jatuh. Jatuh sejatuh-jatuhnya. Mungkin terlihat berlebihan, tapi sungguh, itu yang terjadi.  Saya takut menghadapi kegagalan. Saya takut untuk menghadapi kegagalan lagi di ujian selanjutnya: SNMPTN Tertulis. Yang hanya berselang 2 minggu dari pengumuman.

Saya belum siap untuk menghadapi kenyataan kalau saya….tidak menjadi dokter.

Sampai suatu malam, ayah memanggil saya. Lalu mulai berkata,

 Ayah dan mama atau siapapun, engga ada yang bisa ngebantu kakak. Cuma kakak yang bisa bantu diri kakak sendiri. Ayah dan mama hanya bisa berdoa.

Kak, kalaupun ayah dan mama berdoa, tapi dalam diri kakak sendiri tidak ada keyakinan kalau kakak bisa, semuanya itu percuma. Ibaratnya, mama dan ayah sudah memberi aliran listrik 10000 mega ampere  tapi daya kakak cuma 2 watt.  Instalasi nya engga nyambung.

Kak, ayah engga berharap apa-apa lagi kecuali keyakinan diri kakak kembali. Inget Kak, bukan kemenangan mendapatkan kursi di PTN aja yang kaka perjuangin. Tapi lebih dari itu, KEMENANGAN MENTAL.

Waktu ayah menghadapi tes wawancara dengan kondisi ayah yang engga bisa mendengar lagi (tuli), kakak yang selalu semangatin ayah dan bilang kalau ayah bisa. Kakak yang selalu memotivasi ayah. Sekarang waktunya kakak untuk membuktikan ucapan kakak ke ayah dulu.

Ayah benar. Begitu mudahnya saya memotivasi orang lain. Menulis kalimat-kalimat penyemangat. Membuat cerita-cerita inspirasi. Sekarang lah saatnya bagi saya untuk mempertanggungjawabkannya.

So I’ll never give up, never give in, never let a ray of doubt slip in. And if I fall, I’ll never fade, I’ll just get up and try again.


Sekarang bukan lagi kursi PTN yang ingin ditaklukan.

Tapi mental tempe yang ada dalam diri.

bersambung.
SHARE:

9.21.2011

Lucky Roomate

Now and for several next years, i lived in Yogyakarta and sharing room with my besties, Gieta. She often cooks for us and I feel so lucky not because of her cook but also friendship among us! :)

the number of our room in UGM dormitory


Here we come


we merged our bed to minimize fearness in the night


we are here to fight to be a great accountan and diplomat


I created this photo frame when 16th Gieta's Birthday



Even I have no biological family in Jogja but for me Gieta is my sister here. She reminds me to pray, cooks fried rice, noodles, and another experiment foods, she accompanies me and it's pretty cure homesickness. Thanks Giet! :D

Taken with Blackberry Curve Camera (hope can own my slr asap :))
SHARE:

9.12.2011

Dokter Akuntan

Beberapa teman beranggapan bahwa pilihan saya melanjutkan studi ke jurusan akuntansi adalah sebuah pelarian. Pelarian dari tidak diterimanya saya di Fakultas Kedokteran di beberapa Perguruan Tinggi Negeri. Saya hanya bisa tersenyum ketika hampir seluruh teman yang saya temui menanyakan hal yang sama, "Kok jadi akuntansi, Nit?"

Untuk mereka yang mengenal saya, tentu tahu, betapa inginnya saya masuk ke sekolah kedokteran. Betapa saya menulis banyak tentang keinginan saya di kedokteran, di blog, di kertas ulangan, dan tempat-tempat umum.

Sekarang, saya hanya bisa tertawa mengingat itu semua. Betapa mudahnya saya mengucapkan mimpi tanpa diikuti dengan action yang tepat.

Di saat teman-teman seperjuangan mengerjakan soal-soal try out snmptn dan sebagainya, saya masih sibuk dengan mencari berita, menulis artikel, dan magang di beberapa majalah. Saya hanya berpikir, nothing impossible. I can have it all at once.

But I was wrong. 'Nothing impossible' also has a natural law. If you want something, go get it. Focus. Go get it. Period.

Dan pertanyaan "Kok jadi akuntansi, Nit?", jawabannya pun masih sama.

Dulu sebelum masuk ke penjurusan IPA/IPS, setiap ditanya cita-cita, saya menjawab 'ingin jadi Gubernur Bank Indonesia'. Seiring berjalannya waktu dan berkutat dengan biologi, kimia, fisika, muncullah keinginan menjadi dokter. Saya bimbel sampai malem pun mengerjakan soal-soal IPA, buku-buku soal IPA bertumpukan di meja belajar.

Ketika saya gagal masuk kedokteran melalui seleksi pertama (SNMPTN Undangan), saya bertemu teman lama, Teguh Imam Dirgantara (STEI ITB) yang mengingatkan saya akan mimpi 'Gubernur BI'.

Seperti mendapat pencerahan dan saya langsung bersemedi di dalam kamar selama lima hari untuk menentukan pilihan apa saja yang akan saya jatuhkan untuk SNMPTN tertulis. Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahiim, saya memilih kedokteran dan akuntansi.

Bagi saya, menjadi dokter akan selalu menjadi salah satu keinginan terbesar hingga kapanpun. Dan akuntansi bukanlah sebuah pelarian, melainkan sebuah pilihan dan jawaban. Menjadi Gubernur BI pun bukanlah tujuan, melainkan pembangkit semangat.

Sehingga terimakasih untuk semua teman-teman yang ada ketika saya jatuh, ketika saya tidak berani keluar kamar karena malu tidak lulus, untuk semua teman yang menemani dan menyemangati saya belajar.

Untuk semua teman yang telah percaya. Terimakasih.


SHARE:

8.28.2011

ORASI

Agustus 2009. Satu hal yang tidak pernah terbayang adalah ketika berdiri di atas mimbar lapangan sekolah untuk berorasi. Menjadi satu-satunya wanita diantara tiga pria hebat ini.





Tentu saja orasi yang tidak luar biasa dan jauh dari sempurna, Namun, terimakasih kepada lebih dari dua ratus orang yang telah memilih saya waktu itu. Seandainya saya tahu, siapa saja kalian.. Saya sungguh-sungguh ingin menjabat tangan kalian. Atau bahkan memeluk kalian.

Karena kalian telah menyadarkan saya bahwa selama ini saya tidak pernah sendiri. Bahwa selama ini, kalian yang telah diam-diam membangkitkan semangat saya.

Ketika fase jenuh datang, yang pertama saya ingat adalah kalian. Biarpun saya tidak tahu siapa kalian yang telah mencontreng foto saya di kertas pemilihan, tapi kalian telah menyumbang kontribusi besar dalam kehidupan saya hingga sekarang.

Terimakasih, sungguh.
SHARE:

8.10.2011

Reborn, Terlahir Kembali

YunanJournal* adalah blog pertama yang serius saya jalankan bersama adik saya.

Tujuan awalnya adalah supaya kami bisa saling memantau dan bercerita melalui media blog. Namun karena kegiatannya yang padat, jadilah blog tersebut didominasi oleh cerita saya sendiri.

Ternyata cukup banyak teman-teman yang mengikuti YunanJournal. Terlihat dari komentar-komentar yang mereka berikan atau jejak lain yang mereka tinggalkan. Tentu saja ini menambah semangat saya untuk menulis. Thanks all for your genuine support. Terimakasih teman-teman yang telah setia membaca YunanJournal!

Semoga melalui NitaWakan ini, saya bisa lebih memberi kontribusi yang nyata juga memberi inspirasi dan manfaat untuk teman-teman semua. Aamiin.

*klik YunanJournal untuk berkunjung

SHARE:

10.04.2010

Macro Expression?

gif animator

Setiap ekspresi adalah kita

SHARE:

9.20.2010

Best Project Kompas Muda!




Alhamdulillah, sewaktu saya mengikuti program magang kompas muda, kelompok saya menjadi kelompok dengan project terbaik pilihan dewan juri :)

Saya jadi teringat sewaktu menunggu RAN di studio Trans TV berjam-jam, makan bersama Ketua Mahkamah Konstitusi, Buat teh hangat campur mixer di Lt.5, Naik lift sendirian, Naik bus kesana kemari, nonton drama musikal DIANA, ketemu Tria Changcuter sama Tyas Mirasih lagi pacaran, pulang jam 11 pakai seramgam sekolah, tengah malam nongkrong di KFC bulungan buat nyari orang yang pakai behel,

Ke dokter tuti, dosen FKG trisakti, nyasar di grogol, rebutan cheese cake di lt.3, dimarahin bapak-bapak India gara-gara lari di dalem gedung, dapet crayon pentel ukuran jumbo karena buat logo terbaik, nonton bareng di xxi,



latihan nyanyi buat welcoming party, foto-foto, buat video, ke lounge xxi plaza senayan bareng orang tua, dapet tiket nonton xxi seabrek, dapet voucher gramedia, tiket masuk snow bay, GAJI PERTAMA 500 ribu,



ngeledikin mas nius, ketemu kang pepih, megang ipad untuk pertama kalinya, liat koran pertama kompas tahun 80 an, nyanyi pas welcoming party, pakai topeng pas welcoming party.




nah ini dia hasil kelompok saya yang dimuat di kompas hari Jumat, tanggal 23 Juli 2010



yang ini desain kami sewaktu di presentasikan di depan papa KOMPAS:



Meskipun hanya 2 minggu tapi every momment is a precious :)
Thank you, Zaragenea!
SHARE:

3.21.2010

Puisi Campur Sari (nita ines dita sacha radhita)



Puisi ini dibuat oleh sekumpulan seniman yang sedang menanti sebuah kepastian di sebuah warung makan dipinggir jalan raya kalimalang.
Sebutlah:
1. Nuraini Yuwanita Wakan (itu saya, hahaha)
2. Inesa Purnama sari
3. Dita Hidayati
4. Sacha Mauludianita Octafira
5. Radhita Chairani

Cerita ini berawal ketika secara mendadak terlintas pikiran di benak Ines untuk membentuk puisi bersama setelah ia membaca puisi di blog sobat Katon. (bisa di cek di www.katoner.blogspot.com)

Puisi ini dibuat secara random, secara berganti-gantian setiap barisnya.
Oke tidak perlu mengulur waktu,
Jreng-jreng-jreng inilah

Puisi Masterpiece kami:

Menanti Sebuah Kepastian yang Tak Pasti

22 Maret 2010
kami duduk di sofa cokelat ini
di siang teerik tak terkira. Uh!
nguing- nguing
terdengar suara ambulans dari pertigaan jalan
Siapa yang peduli

Cahaya lampu kuning menemani kami berlima
demi tugs kedubes dari pak Shobi
Haus
Lapar
Duit?
tak ada

Perih
Perutku meronta ronta
serat tenggorokanku
menyayat nyayat

Bermenit-menit berlalu
minuman kami pun habis

Kalaupun bisa akan kukejar
Hanya menanti jawaban yang tak pasti

Bermain laptop
melihat blog
Betapa asyiknya
Bagaimana pulang nanti?
Duit!
Betapa berharganya kamu

Pikiranku jadi kosong
Akhirnya, aku sampai
pada sebuah persimpangan



Begitulah puisi kami
Kurang lebihnya mohon maaf
Wassalamu alaikum wr.wb




SHARE:

3.06.2010

Ciri-ciri orang yang tulus



Kalo lagi nulis tentang Mr. Bee, paling enak sambil dengerin Depapepe
Apalagi yang Wedding Bell. hehehe :D

***

Di sekolah terjadi percakapan singkat:
Nurul : Nita, lo harus tahu adik gue.
Saya : Kenapa Nurul?
Nurul : Dia bilang gini ke gue,

“Lo mba, kaya gue kalo suka sama orang itu yang tulus. Enggak mengharapkan dia suka sama kita. Gue tahu dia suka sama orang lain. Dia cerita ke gue, gue tetep support dia. Meskipun gue lagi berantem atau kesel sama dia, gue tetep ngucapin selamat ulang tahun ke dia. Gue enggak peduli mba, sebenci apapun dia ke gue.”

Saya : Ya Allah, Nurul. Itu keren.

***

Ternyata benar. Kedewasaan itu bukan dilihat dari umurnya. Tapi
dari bagaimana kita menyikapi persoalan.
Persoalan yang paling rumit itu cinta (ya allah kenapa jadi ngebahas cinta?)
Setiap orang PASTI minimal pernah merasakan rasa suka meski belum ke taraf cinta.
Mau orang se alim apapun. Pasti pernah. Karena itu sifat lahiriah manusia. Tapi tinggal bagaimana kita menyikapi perasaan itu.
At list, sebagai contoh. Adik dari teman saya itu, Nurul. Nurul pun mengakui kalau untuk soal perasaan pada kaum pria, adiknya lebih dewasa. Bukan berarti macam-macam. Tapi adiknya lebih banyak menasihatinya, seperti percakapan di atas.

Kadang yaa, saya saja harus mikir dua kali untuk sekedar mengucapkan selamat ulang tahun kepada orang yang saya suka.
Saya takut dia enggak balas, atau apa-apa.
Padahal sebenarnya kalau kita tulus, kita enggak akan peduli apa yang dia kasih ke kita. Dia balas atau enggak.

Ada pepatah atau apapun deh yang pas banget nih,
“Terkadang orang yang paling mencintai kita adalah orang yang tidak pernah mengatakannya.”

Karena orang-orang yang seperti itu, takut kita menjauh darinya.
Orang-orang seperti itu memang pengecut. Tapi serius deh, mereka benar-benar tulus mencintai kita, mereka enggak mau kita tahu.
Mereka enggak meminta apa-apa dari kita.
Tapi pertanyaanya adalah: ADA ENGGAK YAAA ORANG YANG SEPERTI ITU KE KITA?
Hahahaha.

Saya tahu nih ciri-ciri orang yang seperti itu:
(berdasarkan pengalaman saya :D bercanda)
1. dia enggak berani menatap matamu lama-lama. Sekalipun kalian berbicara cukup lama.
2. dia akan menjauh atau menghilang tiba-tiba saat ngeliat kamu sedang bersama pacarmu/orang yang kamu suka.
3. dia yang akan mendukung pendapatmu saat enggak ada yang mendukungmu.
4. dia ingat kata-kata mu bahkan yang kamu lupa kalau kamu pernah mengatakannya.
5. dia yang pertama mengangguk saat kamu berbicara.
6. dia juga enggak berani menatap mata pacarmu/orang yang kamu suka lama-lama.
7. dia akan menunduk sebentar (sepersekian detik) melihatmu pulang dengan pacarmu/orang yang kamu suka.
8. dia tahu warna kesukaanmu padahal kamu enggak pernah menonjolkan atau mengatakannya.
9. di rumahmu dia akan mengajak berbicara salah satu anggota keluargamu DULUAN.
10. dia selalu menyempatkan waktu untuk melihat pertandinganmu dari sudut yang enggak terlihat oleh mu.
11. dia yang pertama tersenyum saat kamu bermain dengan bagus.
12. saat orang-orang memberimu ucapan selamat, dia menghilang.

Hayoooooooooo siapa yang ada dipikiranmu???.
Perhatikan sekitarmu. Jangan-jangan ada orang disekitarmu yang bersikap seperti itu kepadamu.
Jangan ragu, dia benar-benar TULUS.
Semoga kalian berjodoh :)



SHARE:
© Mettle in Perspective. All rights reserved.
Blogger Templates made by pipdig