3.31.2013

Mempersiapkan Akuntan Muda Indonesia Menuju Asean Economic Community2015


Di presentasikan dalam National Accounting Essay Competition in Accounting Fair Universitas Bakrie 2013 on the topics: Preparing Indonesia's Youth Accountant to Vanquish ASEAN Economics Community (AEC) Era through Competence, Ethics and Professionalism yang telah dilaksanakan pada tanggal 19-23 Maret 2013 di Universitas Bakrie.

3.12.2013

Sebuah Hibrida: Digitalisasi Pasar Tradisional




Pasca 1995, manusia mulai berteman akrab dengan perangkat digital. Ponsel canggih, kamera anti air, layar sentuh, komputer mini,dan perangkat sejenisnya yang membuat kehidupan manusia semakin termobilisasi. Mobilisasi yang semestinya memudahkan gerak manusia justru membuat manusia terjebak dalam paradoks kepadatan arus informasi. Mereka sibuk mengetikkan jari saat makan, berjalan, bahkan berkendara. Kebanyakan mereka tenggelam dalam kehidupan yang serba cepat dan praktis. Generasi ini, seperti yang disebut oleh Radar Panca Dahana, adalah generasi digital.

Generasi ini senang berkelindan dengan teknologi. Maka tak jarang entitas-entitas dengan sedikit atau ketiadaan unsur teknologi menjadi rapuh. Misalnya, tradisionalitas maupun lokalitas yang mulai tergerus oleh modernitas. Hal ini memunculkan para simpatisan yang sadar akan eksistensi tradisionalitas maupun lokalitas sebagai aset berkearifan, salah satunya ada pada pasar tradisional.

Pasar tradisional sebagai penggerak roda perekonomian negara, jaring penyelamat dan penyedia lapangan kerja bagi sebagian masyarakat, memiliki kapasitas kuat untuk bertahan pada situasi ekonomi makro yang tidak menentu. Adanya budaya tawar menawar, hubungan penjual dan pembeli yang terbentuk secara langsung dan indigenous semakin memperkaya pasar tradisional.

Dalam pasar tradisional, rakyat menjadi subjek dan objek yang utama sehingga sebagian kalangan menyebutnya sebagai pasar rakyat. Sebagian lagi dengan sengaja meninggalkan kata tradisional karena identik dengan kumuh, becek ataupun semrawut.

Baik pasar rakyat maupun pasar tradisional perlu mengambil langkah untuk menghadapi era digital. Generasi digital mungkin saja mengusung konsep baru: Pasar Digital. Bukan tidak mungkin ketika Pasar Gede di Solo mulai memasang papan elektronik informasi harga. Papan yang mencantumkan tujuh belas harga makanan ini dipasang di pintu masuk agar tidak terjadi kesimpangsiuran harga antara pedagang dan pembeli.

Generasi digital agaknya perlu hati-hati dalam usaha mendekatkan teknologi dengan pasar tradisional. Papan elektronik ini bisa jadi malah meredupkan budaya tawar menawar yang secara tidak langsung merusak karakter pasar tradisional. Lagi-lagi, generasi digital dengan semangat perbaikan masih berada pada situasi yang sulit. Pasar digital, sebuah hibridisasi pasar tradisional dan digital, mungkinkah memiliki eksistensi?

*artikel singkat ini menjadi bagian dari Buku Sekolah Pasar yang disusun oleh Sekolah Pasar, Pusat Studi Ilmu Ekonomi Kerakyatan UGM

3.11.2013

Cara Keluarga

Seringkali, saya mendengar banyak orang dalam suatu perkumpulan berujar, “Buat saya, kalian adalah keluarga.”

Saya menjadi haru ketika seseorang mengatakan itu. Saya pun pernah berujar hal yang sama kepada sekelompok orang yang memang tidak ada hubungan darah dengan saya. Sampai suatu ketika, seorang teman menyadarkan saya soal kesakralan sebuah kata: keluarga.

“Buat saya kalian bukan keluarga. Maaf. Kita memang sering tertawa dan menangis bersama. Mengadakan event kecil maupun besar. Belajar dari nol bareng-bareng. Tapi bukan yang seperti itu yang bisa saya sebut sebagai keluarga. Buat saya, kalian adalah saudara.” ujar teman saya dalam farewell party suatu organisasi.

Teman saya itu mendikotomikan pemaknaan saudara dengan keluarga. Hal itu membuat saya mengacungkan tangan dan bertanya, “Dim, jadi siapa yang bisa lo sebut sebagai keluarga? Nyokap, bokap, sama adek lo aja?”

“Karena emang buat gue, cuma mereka yang bisa disebut keluarga. Ntar lo juga paham, Nit.”

Rasa-rasanya, sekarang saya paham. Cara keluarga memanusiakan kita sebagai manusia berbeda dengan cara yang digunakan oleh orang lain. Cara inilah yang akhirnya membantu kita membuat definisi tersendiri atas apa itu keluarga, saudara, sahabat, teman, dan orang lain. Cara itu berbeda-beda dan saling membedakan.

Mengendalikan Uang

Kehabisan uang saku sebelum akhir bulan tiba adalah pertanda lemahnya kita dalam mengatur uang. Metode preventif yang dapat kita lakukan agar tidak kehabisan uang saku adalah kemampuan mengatur atau perencanaan keuangan (financial plan ability). Pengaturan uang  sebaiknya dilakukan sebelum kita mengeluarkan uang untuk pertama kalinya setelah cash money kita terima.

Ada beberapa cara yang bisa kita gunakan. Pertama, menyisihkan uang di awal. Misalnya ketika kita menerima uang sebesar Rp500,000,- baik secara cash maupun yang mengendap di mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Sisihkan paling tidak sedikitnya 10% dari uang yang kita terima. Uang sebesar Rp50.000,- (10%x500.000) ini kita pisahkan, misalnya kita letakkan pada dompet yang berbeda atau ATM yang berbeda.  Saya pribadi memiliki dua buah kartu ATM, satu digunakan untuk opersional kebutuhan sehari-hari, satu lagi hanya digunakan untuk menyimpan uang sisihan.

Kedua, berhemat tapi jangan sampai menyiksa diri sendiri. Berhemat adalah salah satu bagian paling penting dari proses perencanaan keuangan. Gunakan dahulu uang untuk apa yang kita perlukan (kebutuhan) bukan untuk yang kita inginkan.

Ketiga, mencari pemasukan (income) selain dari uang orang tua (love money). Tambahan pemasukan bisa kita peroleh dari beasiswa, berwirausaha atau bekerja paruh waktu. Kemampuan merencanakan keuangan  dikolaborasikan dengan kemampuan kita menangkap peluang (seize opportunities).

Jika ketiga tahap tersebut tidak kita lalui dengan baik, terutama tahap kesatu dan kedua,  keuangan kita akan tersendat. Kita bisa mengalami kehabisan uang sebelum akhir bulan tiba, meminjam istilah besar pasak daripada tiang.

Untuk menutupi lubang kekurangan itu, ada banyak pilihan yang bisa kita ambil. Diantaranya berhutang (debt) kepada teman, menggadaikan barang, atau bahkan berpuasa. Sesekali ada baiknya kita merasakan hal tersebut sebagai refleksi bahwa uang didapatkan dengan pengorbanan.

Namun setelah itu, jadilah dewasa tidak hanya secara lahir. Kendalikan uang, jangan sampai uang yang mengendalikan kita. Jika dalam mengelola uang pribadi saja kita tidak bisa, bagaimana di masa depan nanti kita mengelola bangsa ini, wahai mahasiswa?

 

*artikel ini dimuat dalam Okezone,com