11.20.2019

Ibu Milenial Dukung QR Code Standar, Bayar Belanja Bulanan Jadi Makin Lancar!

Ilustrasi oleh Nita Wakan

Sebagai ibu muda di zaman milenial, dompet yang dikoleksi bukan cuma Lacoste, Charles and Keith, Fossil, Gucci, ataupun Kate Spade. Dompet ibu-ibu masa kini bertambah merk nya berupa Dana, Link Aja, Gopay dan OVO (urutan sesuai abjad) karena jenis e-wallet tersebut menawarkan berbagai kemudahan dan cashback! Salah satu kemudahannya yaitu nominal transaksi yang terpotong di e-wallet sesuai dengan biaya yang dikenakan kasir. Dulu seringkali kita menemui kasir yang tidak memiliki cukup kembalian atau harus meminta uang kembalian dari kasir sebelah. Dengan menggunakan e-wallet ini, kita hanya perlu melakukan scan Quick Response (QR) code dari ponsel dan cling! kita tinggal memasukkan nominal transaksi belanja untuk melanjutkan pembayaran. Mudah kan!


Nah, tapi beda halnya ketika supermarket langganan kita punya banyak sekali barcode yang berjejer, misalnya supermarket tersebut memiliki QR Code milik Dana, QR Code milik Link Aja, QR Code milik Gopay, dan QR Code milik OVO. Apalagi kalau sehabis tanggal gajian. Meski sudah ada fasilitas e-wallet, antrian di kasir masih sering panjang bak antri sembako. Salah satu penyebabnya adalah setiap e-wallet memiliki QR code sendiri-sendiri, yang artinya setiap kasir bisa punya lebih dari satu mesin barcode. Jika setiap pelanggan menggunakan e-wallet yang berbeda-beda, tentunya akan memakan waktu lebih lama bagi kasir untuk berpindah dari satu mesin barcode ke mesin lainnya. Selain itu, adanya probabilitas kasir memberikan QR Code e-wallet yang tidak sesuai. 


Oleh karena itu, ibu milenial seperti saya mendukung 100% program Bank Indonesia dalam meluncurkan QR Code Indonesian Standar (QRIS), yaitu setiap merchant seperti supermarket punya satu QR Code (kode unik) yang dapat memfasilitasi berbagai jenis e-wallet kita. Nah QRIS ini akan efektif berjalan mulai 1 Januari 2020. Pekerjaan kasir pun akan terbantu karena tidak perlu lagi menggunakan banyak mesin barcode. Harapannya, antrian belanja pun bisa lebih cepat.


Daaaann, kabar gembiranya lagi, QRIS ini juga akan menjangkau semua lapisan masyarakat seperti pedagang di pasar tradisional, tukang bakso, toko kelontong bahkan hingga pasar internasional. Bangga sekali dengan program ini karena ini bukti menuju peningkatan inklusi keuangan kita.
Tidak heran karena QRIS ini mengusung branding UNGGUL, yang maknanya Universal, Gampang, Untung dan Langsung. Tentunya tidak sabar ingin segera merasakan manfaat dari QRIS ini :)


Info lebih lengkap mengenai QRIS dapat diperoleh disini:
Twitter: @bank_indonesia | IG: @bank_indonesia | FB: BankIndonesia| YouTube: Bank Indonesia Channel


#TransaksiLancarPakaiQRStandar!
#feskabi2019
#gairahekonomi
#pakaiQRstandar
#majukanekonomiyuk

Referensi:
https://www3.moneysmart.id/qris-standar-qr-code-dari-bi/
https://mediaindonesia.com/read/detail/253780-bi-resmi-luncurkan-standar-qr-indonesia
SHARE:

11.19.2019

Sharing: Program Hamil Alami



Sudah puluhan kali melihat test pack bergaris satu? Sama! Jangan menyerah!
Kali ini aku mau sharing program hamil (promil)alami yang aku jalani sebagai #PCOSFighter. Setiap orang case-nya pasti berbeda-beda tapi semoga bisa diambil manfaatnya yah. (Kalau belum tahu penyebabnya bisa konsultasi ke dokter dulu).

Sejak SMA haidku ngga teratur, orang tua pun cemas, sehingga kami kontrol ke dokter dan diketahui aku punya PCOS.
Setelah menikah, aku dan Uda (panggilan untuk suamiku) sepakat bahwa dalam 2 tahun kita prioritas untuk promil alami dulu, kalau belum berhasil baru kita datang ke dokter.

Uda pun sebagai support system utama, selalu menenangkan, "insya Allah datang di waktu terbaik, Dek.."

Alhamdulillah.. di hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-2, ada janin di dalam perutku.. Masya Allah tabarakallah.. sehingga aku ingin berbagi kebahagiaan dengan sharing program hamil yang aku jalani, semoga semakin banyak wanita diluar sana yang sedang berjuang juga dapat segera mendapat kabar bahagia...


1. Perbanyak Istighfar

Ini clue dari Allah SWT langsung karena disebut di dalam Alquran Surah Nuh: 10 - 12, potongan artinya: "...Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu.. niscaya Dia meperbanyak harta dan anak-anakmu.." Lengkapnya langsung cek Quran yah!

Dan kalau kita googling dengan keywords "hamil karena istighfar" akan banyak kisah-kisah pasangan yang bertahun-tahun menantikan buah hati, berhasil hamil dengan mengamalkan istighfar.

Tips: Sediakan waktu khusus untuk beristighfar selain selesai sholat. Misalnya
SHARE:

4.21.2019

Jalan Juang Tsamara Amany

Sumber: http://instagram.com/tsamaradki

Soekarno memberi perumpamaan bahwa laki-laki dan perempuan seperti dua sayapnya seekor burung,
Nit, saling melengkapi untuk bisa terbang tinggi.” ujar Tsamara ketika kami membicarakan Sarinah, salah satu kumpulan tulisan Soekarno.

Sammy, begitu panggilan akrab kami untuknya. Banyak dalam kesehariannya Sammy mengutip perkataan Soekarno, salah satu tokoh nasionalis yang ia kagumi lekat-lekat. Di Bawah Bendera Rakyat bak sebuah kitab suci yang sudah habis ia lahap.  

Suatu kali Sammy pernah bertanya, “Siapa tokoh nasional yang lo suka, Nit?”

Buya Hamka.” jawab saya.

Lalu obrolan kami berlanjut sampai pada bagaimana Soekarno dan Hamka memiliki banyak perbedaan pendapat, begitu lantangnya Hamka melawan pemerintahan saat itu hingga Soekarno mengirim Hamka ke penjara selama 2 tahun 4 bulan. Akan tetapi di akhir hayatnya, Soekarno meminta Hamka menjadi imam shalat jenazahnya.

Bila aku mati kelak, aku minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku.” pinta Soekarno.

Kita belajar dari bapak-bapak bangsa, bahwa perbedaan ideologi politik tidak menjadikan kita hilang rasa untuk memanusiakan manusia lain, masih ada ruang diantara mereka untuk bisa saling memahami dan memaafkan, hingga kita rupanya perlu banyak belajar soal kebesaran hati dari mereka.

Saya mengenal Sammy jauh sebelum
SHARE:

1.01.2018

Hari Pertama


Dear Nak,
Ini hari pertama di tahun dua ribu delapan belas sekaligus menjadi pertanda hari pertama Ibu menulis cerita untukmu. Sudah 1 tahun 2 bulan 30 hari kami menantikan kehadiranmu. Ditambah tiga belas test pack bergaris satu yang terus membawa harapan bahwa akan ada hari dimana muncul garis yang kedua. Maka sebelum test pack keempat belas, Ibu ingin mengikuti intuisi yang sebenarnya telah lama datang, yaitu menuliskan kisah demi kisah untukmu. Supaya ketika datang masanya kamu lahir ke dunia Ayah dan Ibu, ketika datang masanya kamu mampu membaca huruf dan mengenali tanda baca, ketika datang masanya kamu berani untuk menerima dan memahami, kisah-kisah yang Ibu tuliskan ini semoga bisa menjadi teman baikmu di perjalanan.

Kisah pertama yang ingin Ibu ceritakan adalah tentang bagaimana Ibu bertemu Ayahmu. Kalau suatu kali kamu tanyakan pada Ayahmu, tentu ia akan punya versinya sendiri.


Saling Menemukan
Ibu ingat sekali, Jumat sore di bulan Desember 2015 usai membaca Al-Kahfi (salah satu surah favorit Ibu, Nak), sebuah chat di Line tiba-tiba datang dari seorang teman yang Ibu pun sebenarnya sangat jarang berkomunikasi dengannya. Namanya Akief, kita panggil Paman Akief ya Nak. Salah satu paman yang berjasa mempertemukan Ibu dan Ayahmu.

Paman Akief menyampaikan pesan bahwa Ayahmu ingin serius (menikah) dengan Ibu. Sontak Ibu kaget saat itu Nak karena seingat Ibu, Ibu belum pernah bertemu dengan Ayahmu secara langsung. Bagaimana bisa, seorang pria begitu yakin ingin menikahi seorang wanita yang belum pernah ia temui sama sekali, tanya Ibu dalam hati. 

SHARE:

9.25.2015

Semangat dari Sendai


“Ayah setuju Kak, dengan keputusan Kakak untuk ikut exchange program.
Itu seperti Kakak sedang mengambil posisi ancang-ancang untuk berlari kencang.
Kakak menunda kuliah satu tahun, itu seperti satu kaki Kakak mundur ke belakang tapi setelah itu Ayah yakin Kak, insya Allah Kakak bisa berlari jauh. Jauh lebih kencang.
kata-kata Ayah sore itu membuat hati semakin mantap untuk mengirim berkas aplikasi ke Tohoku University di Sendai, Jepang

Sejak kecil, saya ingin sekali merasakan ‘hidup’ di luar negeri. Saya ingin tahu.. seperti apa rasanya hidup sebagai minoritas, belajar di kelas, di tengah teman-teman yang berbeda bahasa dan budaya.
Seperti apa rasanya mengalahkan ketidakpercayaan diri untuk bisa presentasi seorang diri dalam bahasa inggris berkali-kali.
Seperti apa rasanya bermain ski di musim salju, piknik di bawah pohon sakura, shalat di pinggir jalan, pergi ke taman dengan orang Brazil, melihat ratusan bintang dengan orang Kazakhistan, mengajak orang Prancis ikut buka puasa bersama, dan hal-hal lain yang tidak bisa dikonversikan dalam mata uang manusia.
Hingga akhirnya memberanikan diri pada keputusan krusial untuk cuti satu tahun dan mengikuti exchange program di Jepang.


Hari-hari terakhir

Siang itu di Global Learning Centre, Main Library Tohoku University, saya membuka presentasi terakhir dengan
dua buah foto. 

(sebenarnya dipresentasikan dalam Bahasa Inggris)
“Foto pertama ini adalah foto saya bersama keluarga Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Sendai saat matsuri. Kami membuka boothstand dan mengenalkan makanan serta kebudayaan Indonesia. Mereka ini seperti keluarga saya sendiri. Bantuan dan kebaikan mereka tidak akan pernah saya lupakan.



Foto kedua, jika teman-teman masih ingat, ini adalah foto kita saat christmast party. Inilah pertama kalinya saya mendapat hadiah-hadiah christmast yang lucu-lucu dari kalian. Saya minta maaf karena tidak bisa secara langsung membalas hadiah-hadiah itu.
Nah disini, hanya saya yang mengenakan hijab. Berbeda sekali dengan foto yang pertama, yah.





Sebagai seorang muslim, karena perbedaan dan adanya prinsip yang saya pegang itu… kepada teman-teman saya minta maaf.. karena
SHARE:

6.27.2015

Semoga Kamu Ingat


S: Hahah. Challenge aku dong Nit. Disemangatin orang-orang yang udah lulus doang ga mempan.

N: Aku ga mau challenge ataupun semangatin kamu. Inget kata Bang Arief Munandar? Pemimpin itu mereka yang udah selesai sama dirinya. Kalau mereka gabisa nyemangatin diri sendiri, payaaahhhhh. So I put trust that you already finish with you.

S: OMG! Nitaaaaaa. Well fine. Aku speechless.

Itu percakapan kita di LINE delapan hari sebelum ulang tahunmu.



Light Decoration from @LilMS_Sunshine8 tweet



Semoga kamu ingat kembali pada hari-hari dimana kamu yang penuh semangat tiap pagi memanaskan mobilmu untuk siap kamu bawa ke kampus. Berkali-kali aku nebeng di mobilmu dan kita suka pulang larut, kira-kira jam dua malam, mengendap-ngendap lewat
SHARE:

3.01.2015

Sahabat (Pertama Kalinya)


People come, people go – they’ll drift in and out of your life, almost like characters in a favorite book. When you finally close the cover, the characters have told their story and you start up again with another book, complete with new characters and adventures. Then you find yourself focusing on the new ones, not the ones from the past.


Nicholas Spark dalam The Rescue ada benarnya.

Akhir-akhir ini begitu banyak orang yang hadir dan pergi begitu cepat. Bak membaca belasan novel secara marathon di penghujung winter break. Orang-orang ini, yang begitu membekas kehadirannya pun kepergiannya dalam hidup kita, mirip seperti karakter favorit dalam novel favorit. 

Dalam kehidupan nyata, karakter favorit ini bisa punya nama lain: keluarga, sahabat, pasangan hidup, orang yang kita kagumi diam-diam pun orang asing yang menginspirasi.
Sahabat (pertama kalinya), menjadi karakter favorit yang ingin saya ceritakan kali ini.







Saya tidak pernah membayangkan akan memiliki sahabat yang bahasa ibunya berbeda dengan bahasa saya. Sahabat yang berasal dari tanah kelahiran yang berbeda dengan saya. Sahabat yang terkejut setelah mengetahui saya harus ibadah lima kali sehari dan harus bangun jam lima pagi. 

Inilah pertama kalinya, saya menangisi kepergian seorang wanita muda China dan seorang wanita muda Vietnam di bandara.

Kami bertemu dalam program pertukaran pelajar di Jepang. Sayang, mereka hanya mengambil short program (enam bulan) sedang saya mengambil waktu satu tahun. Artinya mereka meninggalkan Jepang dan kembali ke negara asal lebih dulu. Menjadi pihak yang ditinggalkan, membuat saya jadi melo dramatic.


Saya rindu perhatian-perhatian kecil mereka.
Seperti suatu sore saat salju turun begitu lebat. Tidak ada bus dan taksi yang beroperasi. Kami harus pergi ke farewell party dengan jalan kaki melawan suhu udara yang begitu dingin. Summer, sahabat saya dari China, terus membersihkan salju yang jatuh ke coat saya. Tangannya dengan sigap membersihkan setumpuk salju yang jatuh ke tas, pundak dan punggung saya sepanjang perjalanan menuju Sendai Eki. 

Atau saat Hien, sahabat saya dari Vietnam yang tidak pernah bosan mengingatkan saya untuk menandatangani Jasso Scholarship setiap awal bulan. Jika lupa tanda tangan, saya tidak akan mendapat beasiswa pada bulan tersebut. “Nanti kalau aku pulang (ke Vietnam), kamu enggak boleh lupa buat tanda tangan lagi ya.” pesannya pada saya. 

Juga saat kami melintasi Aoba-dori dan saya mulai bercerita tentang rencana saya untuk memulai bisnis. Mereka langsung menawarkan diri jadi investor dan bilang kalau mereka tidak bercanda dan menunggu saya mengeksekusi rencana saya yang mereka anggap menggiurkan.


Kini Summer sedang melanjutkan studinya di Beijing, Hien di Hanoi, dan saya masih akan tinggal di Sendai hingga bulan kedelapan tahun ini. 

Nita, please send me a message when you have time.” ucap Hien melalui voice message.


My dear, send email to me. It would be hard for me to use facebook in China.” pinta Summer di group chat kami, Wonder Women

Saya rindu saat-saat dimana kami pergi ke Seiyu Supermarket setiap Rabu siang usai Nihongo Class kemudian masak bersama. Mereka akan jadi orang yang paling sibuk, cerewet, dan teliti untuk memastikan bahwa bumbu dan makanan yang kami beli tidak mengandung pork dan alkohol. 



Sambil masak dan makan hot pot, takoyaki, sushi, tahu isi, nasi goreng, kami akan mulai membicarakan rencana kehidupan kami setelah program exchange. Summer akan menyelesaikan studi S1-nya dan langsung mengambil master di China. Ia mendapat beasiswa penuh di salah satu universitas terbaik di Beijing. Hien masih harus menyelesaikan empat semester kuliahnya dan berencana untuk melanjutkan studi di UK bersama sang kekasih yang begitu setia. Oh, every night they must meet at skype. 

Saya? Saya bilang ke mereka kalau usai lulus S1, saya berencana untuk menikah dan plan selanjutnya dirancang bersama suami nanti. Ekspresi mereka kaget. “It’s too fast. You need more time for your own career. Did you already find your right man? ”

Biarpun kami punya mindset yang berbeda soal masa depan juga keyakinan yang berbeda, tapi selera lidah kami sama: we like spicy food and sweet cakes!


Selain itu, kami juga bersepakat untuk saling mengunjungi pernikahan masing-masing.

I will find a rich guy so he can buy tickets for you to come to our wedding in China!!” seru Summer, anak pemilik tujuh puluh pohon cherry di Beijing.


Kami tertawa. 


Dalam hati, saya berdoa, semoga kami bisa bertemu lagi.



SHARE:
© Family and Motherhood Journey. All rights reserved.
Blogger Templates made by pipdig