9.25.2015

Semangat dari Sendai


“Ayah setuju Kak, dengan keputusan Kakak untuk ikut exchange program.
Itu seperti Kakak sedang mengambil posisi ancang-ancang untuk berlari kencang.
Kakak menunda kuliah satu tahun, itu seperti satu kaki Kakak mundur ke belakang tapi setelah itu Ayah yakin Kak, insya Allah Kakak bisa berlari jauh. Jauh lebih kencang.
kata-kata Ayah sore itu membuat hati semakin mantap untuk mengirim berkas aplikasi ke Tohoku University di Sendai, Jepang

Sejak kecil, saya ingin sekali merasakan ‘hidup’ di luar negeri. Saya ingin tahu.. seperti apa rasanya hidup sebagai minoritas, belajar di kelas, di tengah teman-teman yang berbeda bahasa dan budaya.
Seperti apa rasanya mengalahkan ketidakpercayaan diri untuk bisa presentasi seorang diri dalam bahasa inggris berkali-kali.
Seperti apa rasanya bermain ski di musim salju, piknik di bawah pohon sakura, shalat di pinggir jalan, pergi ke taman dengan orang Brazil, melihat ratusan bintang dengan orang Kazakhistan, mengajak orang Prancis ikut buka puasa bersama, dan hal-hal lain yang tidak bisa dikonversikan dalam mata uang manusia.
Hingga akhirnya memberanikan diri pada keputusan krusial untuk cuti satu tahun dan mengikuti exchange program di Jepang.


Hari-hari terakhir

Siang itu di Global Learning Centre, Main Library Tohoku University, saya membuka presentasi terakhir dengan
dua buah foto. 

(sebenarnya dipresentasikan dalam Bahasa Inggris)
“Foto pertama ini adalah foto saya bersama keluarga Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Sendai saat matsuri. Kami membuka boothstand dan mengenalkan makanan serta kebudayaan Indonesia. Mereka ini seperti keluarga saya sendiri. Bantuan dan kebaikan mereka tidak akan pernah saya lupakan.



Foto kedua, jika teman-teman masih ingat, ini adalah foto kita saat christmast party. Inilah pertama kalinya saya mendapat hadiah-hadiah christmast yang lucu-lucu dari kalian. Saya minta maaf karena tidak bisa secara langsung membalas hadiah-hadiah itu.
Nah disini, hanya saya yang mengenakan hijab. Berbeda sekali dengan foto yang pertama, yah.





Sebagai seorang muslim, karena perbedaan dan adanya prinsip yang saya pegang itu… kepada teman-teman saya minta maaf.. karena
SHARE:

3.01.2015

Sahabat (Pertama Kalinya)


People come, people go – they’ll drift in and out of your life, almost like characters in a favorite book. When you finally close the cover, the characters have told their story and you start up again with another book, complete with new characters and adventures. Then you find yourself focusing on the new ones, not the ones from the past.


Nicholas Spark dalam The Rescue ada benarnya.

Akhir-akhir ini begitu banyak orang yang hadir dan pergi begitu cepat. Bak membaca belasan novel secara marathon di penghujung winter break. Orang-orang ini, yang begitu membekas kehadirannya pun kepergiannya dalam hidup kita, mirip seperti karakter favorit dalam novel favorit. 

Dalam kehidupan nyata, karakter favorit ini bisa punya nama lain: keluarga, sahabat, pasangan hidup, orang yang kita kagumi diam-diam pun orang asing yang menginspirasi.
Sahabat (pertama kalinya), menjadi karakter favorit yang ingin saya ceritakan kali ini.







Saya tidak pernah membayangkan akan memiliki sahabat yang bahasa ibunya berbeda dengan bahasa saya. Sahabat yang berasal dari tanah kelahiran yang berbeda dengan saya. Sahabat yang terkejut setelah mengetahui saya harus ibadah lima kali sehari dan harus bangun jam lima pagi. 

Inilah pertama kalinya, saya menangisi kepergian seorang wanita muda China dan seorang wanita muda Vietnam di bandara.

Kami bertemu dalam program pertukaran pelajar di Jepang. Sayang, mereka hanya mengambil short program (enam bulan) sedang saya mengambil waktu satu tahun. Artinya mereka meninggalkan Jepang dan kembali ke negara asal lebih dulu. Menjadi pihak yang ditinggalkan, membuat saya jadi melo dramatic.


Saya rindu perhatian-perhatian kecil mereka.
Seperti suatu sore saat salju turun begitu lebat. Tidak ada bus dan taksi yang beroperasi. Kami harus pergi ke farewell party dengan jalan kaki melawan suhu udara yang begitu dingin. Summer, sahabat saya dari China, terus membersihkan salju yang jatuh ke coat saya. Tangannya dengan sigap membersihkan setumpuk salju yang jatuh ke tas, pundak dan punggung saya sepanjang perjalanan menuju Sendai Eki. 

Atau saat Hien, sahabat saya dari Vietnam yang tidak pernah bosan mengingatkan saya untuk menandatangani Jasso Scholarship setiap awal bulan. Jika lupa tanda tangan, saya tidak akan mendapat beasiswa pada bulan tersebut. “Nanti kalau aku pulang (ke Vietnam), kamu enggak boleh lupa buat tanda tangan lagi ya.” pesannya pada saya. 

Juga saat kami melintasi Aoba-dori dan saya mulai bercerita tentang rencana saya untuk memulai bisnis. Mereka langsung menawarkan diri jadi investor dan bilang kalau mereka tidak bercanda dan menunggu saya mengeksekusi rencana saya yang mereka anggap menggiurkan.


Kini Summer sedang melanjutkan studinya di Beijing, Hien di Hanoi, dan saya masih akan tinggal di Sendai hingga bulan kedelapan tahun ini. 

Nita, please send me a message when you have time.” ucap Hien melalui voice message.


My dear, send email to me. It would be hard for me to use facebook in China.” pinta Summer di group chat kami, Wonder Women

Saya rindu saat-saat dimana kami pergi ke Seiyu Supermarket setiap Rabu siang usai Nihongo Class kemudian masak bersama. Mereka akan jadi orang yang paling sibuk, cerewet, dan teliti untuk memastikan bahwa bumbu dan makanan yang kami beli tidak mengandung pork dan alkohol. 



Sambil masak dan makan hot pot, takoyaki, sushi, tahu isi, nasi goreng, kami akan mulai membicarakan rencana kehidupan kami setelah program exchange. Summer akan menyelesaikan studi S1-nya dan langsung mengambil master di China. Ia mendapat beasiswa penuh di salah satu universitas terbaik di Beijing. Hien masih harus menyelesaikan empat semester kuliahnya dan berencana untuk melanjutkan studi di UK bersama sang kekasih yang begitu setia. Oh, every night they must meet at skype. 

Saya? Saya bilang ke mereka kalau usai lulus S1, saya berencana untuk menikah dan plan selanjutnya dirancang bersama suami nanti. Ekspresi mereka kaget. “It’s too fast. You need more time for your own career. Did you already find your right man? ”

Biarpun kami punya mindset yang berbeda soal masa depan juga keyakinan yang berbeda, tapi selera lidah kami sama: we like spicy food and sweet cakes!


Selain itu, kami juga bersepakat untuk saling mengunjungi pernikahan masing-masing.

I will find a rich guy so he can buy tickets for you to come to our wedding in China!!” seru Summer, anak pemilik tujuh puluh pohon cherry di Beijing.


Kami tertawa. 


Dalam hati, saya berdoa, semoga kami bisa bertemu lagi.



SHARE:
© Mettle in Perspectives.. All rights reserved.
Blogger Templates made by pipdig