1.20.2012

Terimakasih Aisyah

Sebuah tulisan dari seorang sahabat, hadiah terindah (lagi) untuk angka 19:
 

Nur'aini Yuwanita Wakan

Dia adalah seorang perempuan yang begitu mempesona.
Sebagai seorang penulis, dia adalah seorang penulis yang menginspirasi. Setiap kata yang dituliskannya bisa menghasilkan motivasi dan memberi banyak informasi.

Sebagai seorang pemimpin, dia adalah pemimpin yang baik. Dia mau membaur dengan semua yang ada di bawahnya. Dia tidak lantas tegak berdiri paling depan, tapi mau mundur ke belakang.

Sebagai seorang kakak, dia adalah kakak yang sangat sayang pada adiknya. Mungkin, kalau aku jadi Faris, aku akan sangat bahagia sekali karena punya kakak yang baik seperti dia.
Sebagai individualis, dia adalah individu yang sangat bekerja keras dan bermimpi tinggi. Dia mau berusaha lebih dari sekedar yang dia mampu untuk mewujudkan semua cita cita dan mimpinya.
Dan sebagai seorang teman, dia sangat luar biasa. Dia adalah teman yang mau mendengarkan. Dia adalah teman yang sangat baik dan setia. Dan bagiku, dia lebih dari sekedar teman, dia adalah sahabat, dan dia adalah saudara. Dan bagiku dia sangat special, karena dia mengalami banyak hal pahit bersamaku.

Hari ini genap sudah bertambah usiamu. Semoga kau bisa tetap menjadi seorang Nuraini Yuwanita Wakan yang luar biasa di segala hal yaa.

Kau seperti kertas origami,
Yang selalu penuh warna dan warni,
Yang bisa dilipat menjadi berbagai macam bentuk yang unik,
Yang meskipun sudah lecek, tetap saja bisa menjadi bentuk yang bagus,
Bagiku kau adalah kertas origami,
Yang bisa menemani siapapun, dalam bentuk apapun,
dengan warna yang indah..


Selamat ulang tahun kawan.. semoga umurmu semakin berkah dan bermanfaat.

Bekasi, 6 Januari 2012.
sahabatmu, Aisyah.






#1

Terimakasih, Aisyah. Tentu saja kau begitu berlebihan dalam menilaiku.

Kamu harus tahu, duduk sebangku dengan mu rasanya seperti mimpi. Karena aku sudah mengenal namamu tujuh tahun sebelumnya!

Aisyah, nama yang selalu tertera sebagai daftar murid berprestasi dengan peringkat tertinggi. Aku selalu mencari tahu seperti apa kamu, karena aku selalu gagal untuk mendapat peringkat itu. Peringkatku hanya sebatas kelas dan sekolah. Tidak seperti kamu, peringkat satu: kelas, sekolah, sampai yayasan.

Dan saat itu aku sudah mengagumimu.  Ya, semenjak kelas satu SD.

Dalam do’aku, semoga jalan kita bersimpangan.

Ternyata Allah baik sekali, Ia membuat kita dekat dengan cara yang indah. Aku bisa mengenal dan belajar banyak hal darimu.

Dimulai dari tahun 2008, saat satu team dalam lomba cerdas cermat antar kelas hingga team International Junior Sains Olympiade. Dua hari bersamamu di Van Deventer tak akan aku lupa, sayang sekali aku sakit waktu itu. Maaf menjadi teman perjalanan yang menyusahkan.
Masih ingatkah mimpi untuk berdiri di podium bersama dan memegang medali emas? Aku akan wariskan mimpi kita pada generasiku, aku akan ceritakan tentang perjalanan kita pada anak cucuku nanti.

Membangun mimpi dan mengejarnya bersama, tentu saja perjuangan kita belum usai. See you on the top, Aisyah. Terimakasih karena kamu telah memberi pijakan tangga yang kuat padaku untuk selalu melangkah.


#2
Ada lagi, Aisyah. Sebelum aku mengenal Eiji Yoshikawa, Paulo Coelho, dan Haruki Murakami, aku telah mengenalmu lebih dulu sebagai seorang penulis. Aku sangat suka saat kau membuat puisi-puisi sederhana dan membacakannya di depan kelas. Atau saat kau mengenalkanku pada sosok Gie.

Kamulah orang pertama yang memberiku inspirasi untuk larut dalam dunia menulis.

Jadi tidak berlebihan bukan kalau aku mengagumimu, sahabatku?

SHARE:

Tidak ada komentar

Posting Komentar

© Mettle in Perspectives.. All rights reserved.
Blogger Templates made by pipdig