11.19.2019

Sharing: Program Hamil Alami



Sudah puluhan kali melihat test pack bergaris satu? Sama! Jangan menyerah!
Kali ini aku mau sharing program hamil (promil)alami yang aku jalani sebagai #PCOSFighter. Setiap orang case-nya pasti berbeda-beda tapi semoga bisa diambil manfaatnya yah. (Kalau belum tahu penyebabnya bisa konsultasi ke dokter dulu).

Sejak SMA haidku ngga teratur, orang tua pun cemas, sehingga kami kontrol ke dokter dan diketahui aku punya PCOS.
Setelah menikah, aku dan Uda (panggilan untuk suamiku) sepakat bahwa dalam 2 tahun kita prioritas untuk promil alami dulu, kalau belum berhasil baru kita datang ke dokter.

Uda pun sebagai support system utama, selalu menenangkan, "insya Allah datang di waktu terbaik, Dek.."

Alhamdulillah.. di hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-2, ada janin di dalam perutku.. Masya Allah tabarakallah.. sehingga aku ingin berbagi kebahagiaan dengan sharing program hamil yang aku jalani, semoga semakin banyak wanita diluar sana yang sedang berjuang juga dapat segera mendapat kabar bahagia...


1. Perbanyak Istighfar

Ini clue dari Allah SWT langsung karena disebut di dalam Alquran Surah Nuh: 10 - 12, potongan artinya: "...Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu.. niscaya Dia meperbanyak harta dan anak-anakmu.." Lengkapnya langsung cek Quran yah!

Dan kalau kita googling dengan keywords "hamil karena istighfar" akan banyak kisah-kisah pasangan yang bertahun-tahun menantikan buah hati, berhasil hamil dengan mengamalkan istighfar.

Tips: Sediakan waktu khusus untuk beristighfar selain selesai sholat. Misalnya
SHARE:

4.21.2019

Jalan Juang Tsamara Amany

Sumber: http://instagram.com/tsamaradki

Soekarno memberi perumpamaan bahwa laki-laki dan perempuan seperti dua sayapnya seekor burung,
Nit, saling melengkapi untuk bisa terbang tinggi.” ujar Tsamara ketika kami membicarakan Sarinah, salah satu kumpulan tulisan Soekarno.

Sammy, begitu panggilan akrab kami untuknya. Banyak dalam kesehariannya Sammy mengutip perkataan Soekarno, salah satu tokoh nasionalis yang ia kagumi lekat-lekat. Di Bawah Bendera Rakyat bak sebuah kitab suci yang sudah habis ia lahap.  

Suatu kali Sammy pernah bertanya, “Siapa tokoh nasional yang lo suka, Nit?”

Buya Hamka.” jawab saya.

Lalu obrolan kami berlanjut sampai pada bagaimana Soekarno dan Hamka memiliki banyak perbedaan pendapat, begitu lantangnya Hamka melawan pemerintahan saat itu hingga Soekarno mengirim Hamka ke penjara selama 2 tahun 4 bulan. Akan tetapi di akhir hayatnya, Soekarno meminta Hamka menjadi imam shalat jenazahnya.

Bila aku mati kelak, aku minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku.” pinta Soekarno.

Kita belajar dari bapak-bapak bangsa, bahwa perbedaan ideologi politik tidak menjadikan kita hilang rasa untuk memanusiakan manusia lain, masih ada ruang diantara mereka untuk bisa saling memahami dan memaafkan, hingga kita rupanya perlu banyak belajar soal kebesaran hati dari mereka.

Saya mengenal Sammy jauh sebelum
SHARE:

1.01.2018

Hari Pertama


Dear Nak,
Ini hari pertama di tahun dua ribu delapan belas sekaligus menjadi pertanda hari pertama Ibu menulis cerita untukmu. Sudah 1 tahun 2 bulan 30 hari kami menantikan kehadiranmu. Ditambah tiga belas test pack bergaris satu yang terus membawa harapan bahwa akan ada hari dimana muncul garis yang kedua. Maka sebelum test pack keempat belas, Ibu ingin mengikuti intuisi yang sebenarnya telah lama datang, yaitu menuliskan kisah demi kisah untukmu. Supaya ketika datang masanya kamu lahir ke dunia Ayah dan Ibu, ketika datang masanya kamu mampu membaca huruf dan mengenali tanda baca, ketika datang masanya kamu berani untuk menerima dan memahami, kisah-kisah yang Ibu tuliskan ini semoga bisa menjadi teman baikmu di perjalanan.

Kisah pertama yang ingin Ibu ceritakan adalah tentang bagaimana Ibu bertemu Ayahmu. Kalau suatu kali kamu tanyakan pada Ayahmu, tentu ia akan punya versinya sendiri.


Saling Menemukan
Ibu ingat sekali, Jumat sore di bulan Desember 2015 usai membaca Al-Kahfi (salah satu surah favorit Ibu, Nak), sebuah chat di Line tiba-tiba datang dari seorang teman yang Ibu pun sebenarnya sangat jarang berkomunikasi dengannya. Namanya Akief, kita panggil Paman Akief ya Nak. Salah satu paman yang berjasa mempertemukan Ibu dan Ayahmu.

Paman Akief menyampaikan pesan bahwa Ayahmu ingin serius (menikah) dengan Ibu. Sontak Ibu kaget saat itu Nak karena seingat Ibu, Ibu belum pernah bertemu dengan Ayahmu secara langsung. Bagaimana bisa, seorang pria begitu yakin ingin menikahi seorang wanita yang belum pernah ia temui sama sekali, tanya Ibu dalam hati. 

SHARE:

9.25.2015

Semangat dari Sendai


“Ayah setuju Kak, dengan keputusan Kakak untuk ikut exchange program.
Itu seperti Kakak sedang mengambil posisi ancang-ancang untuk berlari kencang.
Kakak menunda kuliah satu tahun, itu seperti satu kaki Kakak mundur ke belakang tapi setelah itu Ayah yakin Kak, insya Allah Kakak bisa berlari jauh. Jauh lebih kencang.
kata-kata Ayah sore itu membuat hati semakin mantap untuk mengirim berkas aplikasi ke Tohoku University di Sendai, Jepang

Sejak kecil, saya ingin sekali merasakan ‘hidup’ di luar negeri. Saya ingin tahu.. seperti apa rasanya hidup sebagai minoritas, belajar di kelas, di tengah teman-teman yang berbeda bahasa dan budaya.
Seperti apa rasanya mengalahkan ketidakpercayaan diri untuk bisa presentasi seorang diri dalam bahasa inggris berkali-kali.
Seperti apa rasanya bermain ski di musim salju, piknik di bawah pohon sakura, shalat di pinggir jalan, pergi ke taman dengan orang Brazil, melihat ratusan bintang dengan orang Kazakhistan, mengajak orang Prancis ikut buka puasa bersama, dan hal-hal lain yang tidak bisa dikonversikan dalam mata uang manusia.
Hingga akhirnya memberanikan diri pada keputusan krusial untuk cuti satu tahun dan mengikuti exchange program di Jepang.


Hari-hari terakhir

Siang itu di Global Learning Centre, Main Library Tohoku University, saya membuka presentasi terakhir dengan
dua buah foto. 

(sebenarnya dipresentasikan dalam Bahasa Inggris)
“Foto pertama ini adalah foto saya bersama keluarga Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Sendai saat matsuri. Kami membuka boothstand dan mengenalkan makanan serta kebudayaan Indonesia. Mereka ini seperti keluarga saya sendiri. Bantuan dan kebaikan mereka tidak akan pernah saya lupakan.



Foto kedua, jika teman-teman masih ingat, ini adalah foto kita saat christmast party. Inilah pertama kalinya saya mendapat hadiah-hadiah christmast yang lucu-lucu dari kalian. Saya minta maaf karena tidak bisa secara langsung membalas hadiah-hadiah itu.
Nah disini, hanya saya yang mengenakan hijab. Berbeda sekali dengan foto yang pertama, yah.





Sebagai seorang muslim, karena perbedaan dan adanya prinsip yang saya pegang itu… kepada teman-teman saya minta maaf.. karena
SHARE:

6.27.2015

Semoga Kamu Ingat


S: Hahah. Challenge aku dong Nit. Disemangatin orang-orang yang udah lulus doang ga mempan.

N: Aku ga mau challenge ataupun semangatin kamu. Inget kata Bang Arief Munandar? Pemimpin itu mereka yang udah selesai sama dirinya. Kalau mereka gabisa nyemangatin diri sendiri, payaaahhhhh. So I put trust that you already finish with you.

S: OMG! Nitaaaaaa. Well fine. Aku speechless.

Itu percakapan kita di LINE delapan hari sebelum ulang tahunmu.



Light Decoration from @LilMS_Sunshine8 tweet



Semoga kamu ingat kembali pada hari-hari dimana kamu yang penuh semangat tiap pagi memanaskan mobilmu untuk siap kamu bawa ke kampus. Berkali-kali aku nebeng di mobilmu dan kita suka pulang larut, kira-kira jam dua malam, mengendap-ngendap lewat
SHARE:

3.01.2015

Sahabat (Pertama Kalinya)


People come, people go – they’ll drift in and out of your life, almost like characters in a favorite book. When you finally close the cover, the characters have told their story and you start up again with another book, complete with new characters and adventures. Then you find yourself focusing on the new ones, not the ones from the past.


Nicholas Spark dalam The Rescue ada benarnya.

Akhir-akhir ini begitu banyak orang yang hadir dan pergi begitu cepat. Bak membaca belasan novel secara marathon di penghujung winter break. Orang-orang ini, yang begitu membekas kehadirannya pun kepergiannya dalam hidup kita, mirip seperti karakter favorit dalam novel favorit. 

Dalam kehidupan nyata, karakter favorit ini bisa punya nama lain: keluarga, sahabat, pasangan hidup, orang yang kita kagumi diam-diam pun orang asing yang menginspirasi.
Sahabat (pertama kalinya), menjadi karakter favorit yang ingin saya ceritakan kali ini.







Saya tidak pernah membayangkan akan memiliki sahabat yang bahasa ibunya berbeda dengan bahasa saya. Sahabat yang berasal dari tanah kelahiran yang berbeda dengan saya. Sahabat yang terkejut setelah mengetahui saya harus ibadah lima kali sehari dan harus bangun jam lima pagi. 

Inilah pertama kalinya, saya menangisi kepergian seorang wanita muda China dan seorang wanita muda Vietnam di bandara.

Kami bertemu dalam program pertukaran pelajar di Jepang. Sayang, mereka hanya mengambil short program (enam bulan) sedang saya mengambil waktu satu tahun. Artinya mereka meninggalkan Jepang dan kembali ke negara asal lebih dulu. Menjadi pihak yang ditinggalkan, membuat saya jadi melo dramatic.


Saya rindu perhatian-perhatian kecil mereka.
Seperti suatu sore saat salju turun begitu lebat. Tidak ada bus dan taksi yang beroperasi. Kami harus pergi ke farewell party dengan jalan kaki melawan suhu udara yang begitu dingin. Summer, sahabat saya dari China, terus membersihkan salju yang jatuh ke coat saya. Tangannya dengan sigap membersihkan setumpuk salju yang jatuh ke tas, pundak dan punggung saya sepanjang perjalanan menuju Sendai Eki. 

Atau saat Hien, sahabat saya dari Vietnam yang tidak pernah bosan mengingatkan saya untuk menandatangani Jasso Scholarship setiap awal bulan. Jika lupa tanda tangan, saya tidak akan mendapat beasiswa pada bulan tersebut. “Nanti kalau aku pulang (ke Vietnam), kamu enggak boleh lupa buat tanda tangan lagi ya.” pesannya pada saya. 

Juga saat kami melintasi Aoba-dori dan saya mulai bercerita tentang rencana saya untuk memulai bisnis. Mereka langsung menawarkan diri jadi investor dan bilang kalau mereka tidak bercanda dan menunggu saya mengeksekusi rencana saya yang mereka anggap menggiurkan.


Kini Summer sedang melanjutkan studinya di Beijing, Hien di Hanoi, dan saya masih akan tinggal di Sendai hingga bulan kedelapan tahun ini. 

Nita, please send me a message when you have time.” ucap Hien melalui voice message.


My dear, send email to me. It would be hard for me to use facebook in China.” pinta Summer di group chat kami, Wonder Women

Saya rindu saat-saat dimana kami pergi ke Seiyu Supermarket setiap Rabu siang usai Nihongo Class kemudian masak bersama. Mereka akan jadi orang yang paling sibuk, cerewet, dan teliti untuk memastikan bahwa bumbu dan makanan yang kami beli tidak mengandung pork dan alkohol. 



Sambil masak dan makan hot pot, takoyaki, sushi, tahu isi, nasi goreng, kami akan mulai membicarakan rencana kehidupan kami setelah program exchange. Summer akan menyelesaikan studi S1-nya dan langsung mengambil master di China. Ia mendapat beasiswa penuh di salah satu universitas terbaik di Beijing. Hien masih harus menyelesaikan empat semester kuliahnya dan berencana untuk melanjutkan studi di UK bersama sang kekasih yang begitu setia. Oh, every night they must meet at skype. 

Saya? Saya bilang ke mereka kalau usai lulus S1, saya berencana untuk menikah dan plan selanjutnya dirancang bersama suami nanti. Ekspresi mereka kaget. “It’s too fast. You need more time for your own career. Did you already find your right man? ”

Biarpun kami punya mindset yang berbeda soal masa depan juga keyakinan yang berbeda, tapi selera lidah kami sama: we like spicy food and sweet cakes!


Selain itu, kami juga bersepakat untuk saling mengunjungi pernikahan masing-masing.

I will find a rich guy so he can buy tickets for you to come to our wedding in China!!” seru Summer, anak pemilik tujuh puluh pohon cherry di Beijing.


Kami tertawa. 


Dalam hati, saya berdoa, semoga kami bisa bertemu lagi.



SHARE:

11.05.2014

Nawa Cita dan Tenaga Kerja Indonesia



Oleh Nur'aini Yuwanita Wakan, Founder Youth Finance Indonesia


Kenapa sih banyak orang Indonesia tidak bisa pakai toilet? Toilet selalu jadi kotor setelah kalian pakai.

Pertanyaan sekaligus pernyataan pedas tersebut datang dari seorang cleaning service yang saya temui di Abu Dhabi International Airport pada akhir tahun 2013 lalu. Ia menunjukkan rasa kesalnya karena harus membershikan lantai toilet yang basah setiap kali (kebanyakan) orang Indonesia menggunakan toilet bandara tersebut. Kebetulan saat di bandara, saya bertemu rombongan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang akan kembali ke tanah air setelah beberapa tahun bekerja di Uni Emirat Arab. Saat saya masuk toilet, mbak cleaning service itu pun langsung meminta saya menggunakan toilet dengan benar. Tentu dalam bahasa inggris dan dengan nada yang tidak bersahabat.

Seorang TKI berumur paruh baya menghampiri saya dan menceritakan hal yang sama. Ia tidak berani menggunakan toilet karena merasa dimarahi oleh sang cleaning service. Ia rupanya tidak paham apa penyebab sang cleaning service marah-marah. Akhirnya, saya berusaha menjelaskan sekaligus menunjukkan cara bagaimana menggunakan toilet agar tetap kering.

Kejadian tersebut mengajarkan saya soal pentingnya dua hal: komunikasi dan kompetensi. Dua hal inilah yang wajib dimiliki oleh TKI yang akan bekerja di luar negeri. Jika TKI dapat berkomunikasi dengan baik dalam bahasa inggris ataupun bahasa negara yang dituju, kemungkinan terjadinya konflik akan
SHARE:

10.02.2014

Sharing Session bersama BKLASS mengenai 'Achievement'

Tulisan ini dibuat oleh Kak Reza Amaludin (CEO StudentsXCEO Yogyakarta Representative 2013). Matur nuwun, Kak, sudah diberikan kesempatan untuk bisa sharing dengan teman-teman BKLASS (Balairung Klaten Association) bulan Juni 2014 lalu.

Semoga bermanfaat, ya. :)





Bklass Sharing Shareng : Achievements with Nita Wakan

Berawal dari keinginanya memiliki gadget impian “IPAD” dan “BB”, ia memulai perjalanan prestasinya. Nita memiliki latar belakang keluarga yang memang tidak memfasilitasinya untuk mempunyai gadget yang terbilang mahal tersebut. Ia juga berada di lingkungan pertemanan yang membuatnya “iri” untuk memiliki gadget tersebut, menimbulkan keinginan untuk mendapatkanya dengan jalan lain, yaitu dengan mengikuti lomba. Pada akhirnya, IPAD dan BB idaman berhasil didapatkanya dari menjuarai dua lomba yang berbeda.

Namun, pandanganya mengenai prestasi berubah saat ia menjadi bagian dari PPSDMS Nurul Fikri Yogyakarta. Di sana ia dilatih agar tidak menjadi “Balon Kosong”, yaitu istilah untuk orang yang berprestasi namun hanya asal juara dan terkesan hanya mencari “hadiah”. Akhirnya ia mengubah haluan dengan mengikuti lomba yang memang sesuai bidang dan cita-citanya, yaitu menjadi guru dan konsultan bisnis.

Nita menyarankan kita untuk menguasai dua hal, yaitu “Bahasa Inggris” dan “Media”. Karena dua hal itu yang membuatnya mengetahui peluang-peluang event, conference atau lomba bergengsi yang bertaraf Internasional. Salah satu website rekomendasinya adalah http://conferencealerts.com. Menurutnya, penting bagi mahasiswa untuk mengikuti kegiatan yang bukan hanya tingkat nasional, namun juga Internasional.



Question & Answer

Apakah pernah merasa gagal?

Pernah, sering malah. Kegagalan terbesar adalah saat saya kelas 3 SMA. Waktu itu saya ingin sekali masuk ke Fakultas Kedokteran UI, saya merasa mampu saat itu, namun ternyata saya gagal. Teman saya yang nilainya sedikit di bawah saya justru yang diterima. Karena waktu itu saya terlalu pede dan malah tidak belajar, magang di Kompas MuDA dan Provoke! Magazine. Waktu itu saya merasa down. Malu. Hingga tidak ingin keluar kamar.

Saya berubah saat ayah saya berkata kepada saya “Kakak, sejauh ini ketika Ayah jatuh dan tidak bisa mendengar lagi (tuli), Kakak yang selalu semangatin Ayah, sekarang gantian, Kakak jatuh, kakak juga harus bisa semangat. Apa artinya jika Ayah dan Mamah mempunyai doa yang tinggi untuk Kakak, kalau Kakak tidak semangat, doanya ga akan sampai. Tegangan doanya ga sinkron. Kakak juga harus semangat.”

Seketika itu saya ubah mental saya, saya putar lagu-lagu penyemangat, saya pasang target-target yang membuat saya yakin bahwa saya bisa. Saat itu adalah turning point saya.

Saat itu saya sadar dan percaya bahwa tidak ada kegagalan, yang ada hanyalah proses belajar untuk memperbaiki kesalahan.



Adakah saran untuk mahasiswa yang memiliki passion dan background ilmu yang berbeda?

Kita sebagai mahasiswa, terlebih sebagai seorang muslim, harus bisa profesional. Kita harus bisa berprestasi, namun akademik juga harus bagus. Jika belum tahu mana yang terbaik, apakah akan mengejar passion atau ikut jalur profesional, cobalah untuk
SHARE:

8.01.2013

Merasa Bahagia

Kalau Nita kapan merasa paling bahagia?

Satu pertanyaan dari sekitar tujuh pertanyaan yang ia lontarkan kepada saya saat kami menunggu pintu studio 2 terbuka. Ia, teman dekat kakak sepupu saya, menimpali saya sebuah pertanyaan tentang kebahagiaan ketika kami mulai membahas isu tren kaum metropolis: passion.

Butuh jeda lima belas detik untuk bisa menjawab pertanyaannya. Jawaban pun sudah ada di hati dan di kepala.  Jawaban yang bakal buat mata saya berair.





Selama dua puluh tahun lebih tujuh bulan saya hidup, saya merasa paling bahagia sewaktu mendapat kabar adik saya lulus Ujian Nasional dan mendapati dirinya lebih baik. Mungkin kedengarannya ini adalah hal yang biasa bagi seorang kakak. Tapi tidak buat saya.

Waktu itu adik saya kelas enam SD dan saya kelas tiga SMA. Adik saya dikenal bandel bahkan sempat akan
SHARE:

7.24.2013

Mengapresiasi Pariwisata Indonesia

Pantai Indrayanti, Yogyakarta | Foto: Nita Wakan


Keberagaman sumber daya alam dan budaya merupakan daya tarik pariwisata suatu negara. Dunia pariwisata merupakan salah satu sumber devisa bagi negara. Di Indonesia, terhadap komoditas ekspor lainnya, pariwisata merupakan sektor ekonomi yang penting (sumber devisa) setelah minyak dan gas bumi.

Wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Indonesia akan menukarkan uang atau valuta negaranya dengan rupiah sebagai alat pembayaran domestik. Valuta asing dari sektor pariwisata tersebut merupakan devisa negara sehingga sektor pariwisata perlu dikelola dengan baik.

Indonesia adalah satu-satunya negara di dunia yang memiliki 17.508 pulau dengan 719 bahasa daerah. 18% terumbu karang dunia ada di Indonesia dengan 600 titik selam tersebar dari Sabang hingga Marauke. Lokasi penyelaman Indonesia menawarkan keindahan dunia bawah laut, seperti Wakatobi, Karimunjawa, Nusa Penida, Derawan, dan Kepulauan Seribu.

6 dari 50 taman nasional di Indonesia masuk dalam situs Warisan Dunia UNESCO. Taman Nasional Kelimutu di Flores memiliki danau kawah tiga warna. Taman Nasional Lorentz di Papua punya salju abadi di puncak Gunung Jayawijaya.
SHARE:

6.10.2013

Yoso Peksi Buraq

5 Juni 2013 lalu, saya bersama si kuda putih main ke Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta. Saya mampir ke Masjid Gedhe Kauman yang berada di sebelah barat Kraton sembari menunggu waktu ashar.

Masjid ini cukup hidup. Di serambi masjid ada sekumpulan anak yang sedang belajar. Ada adik bayi yang belajar berjalan. Juga beberapa orang yang duduk santai menunggu adzan.





Beberapa tenda dan karpet pun terpasang di pelataran masjid.

Seorang tukang parkir menghampiri saya memberikan kartu parkir. Setelah ditelisik, tukang parkir mengatakan bahwa tidak lama lagi akan ada ritual Yoso Pesi Buraq dalam rangka memperingati hari besar islam Isra’ Miraj.

Benar saja, usai shalat ashar saya disuguhi sebuah prosesi budaya yang belum pernah saya lihat. Para abdi dalem membawa ubo rampe yang berisi buah-buahan yang telah dikirab dari keraton menuju masjid untuk didoakan. Ubo rampe diserahkan kepada kiai penghulu masjid untuk dibagikan kepada masyarakat yang hadir pada pengajian di malam sebelumnya.







Kliwon Ngadi Wiyadi, salah satu abdi dalem keraton mengungkapkan bahwa ritual ini diadakan setiap bulan rejeb kalender jawa Islam sejak puluhan tahun silam. Nama Yoso Peksi Buraq artinya membuat burung buraq. Buraq adalah kendaraan Muhammad pada saat Isra' (perjalanan dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem Palestina) dan saat Mi'raj (perjalanan dari Masjidil Aqsa ke Sidratul Muntaha atau langit ke tujuh untuk memenuhi panggilan Allah)







Jika pada peristiwa Isra' Miraj, buraq merupakan kendaraan nabi tapi pada ritual ini, buraq justru memiliki kendaraan yaitu para abdi dalem yang membawanya memasuki masjid.

Nah, ubo rampe yang berisi buah tersebut menyimbolkan dua ekor burung sebagai buraq jantan dan betina yang bertengger di taman surga. Dibuat dari kulit jeruk bali yang diukir menyerupai burung jantan dan betina. Pembuat buraq ini haruslah puteri keraton yang sudah menikah.





Ubo rampe terdiri dari 8 macam buah-buahan tapi hanya 7 yang dihitung. Pisang raja spesial tidak masuk hitungan sebagai lambang Sultan  pengayom masyarakat dan kawulanya. 7 macam buah tersebut yaitu jeruk bali, salak, manggis, rambutan, apel malang, jeruk pontianak, dan sawo. Semua buah yang digunakan adalah buah lokal dan bebas formalin. Jumlah buah sebanyak 7 melambangkan tingkatan surga atau pertolongan.



Yoso Peksi Buraq, sebuah budaya keraton Yogyakarta yang berusaha mengingatkan kita, para kawula, tentang Isra' Miraj yang tidak mampu melampaui akal pikiran kita selain 'percaya' . Dan, ketika percaya semestinya tak ada lagi tanya. Karena (menurut saya) disitulah letaknya iman.

SHARE:

Apa kabar hati?


Tiga hari lalu, saya menemukan coklat chacha di dalam lemari pakaian. Ada sebuah surat  yang tertempel dan bertengger pada bagian topi chacha.
“Niwak (Nita Wakan), apa kabar hati hari ini?”

Sebuah pertanyaan yang bahkan belum pernah saya tanyakan pada entitas tertunjuk (hati). Si pengirim surat tampak lebih peduli dari si pemilik hati.

Apa kabar hati hari ini? Sebuah pertanyaan yang mulai saya tanyakan pada hati saya sejak tiga puluh enam jam yang lalu. Bagi saya, itu adalah sebuah pertanyaan yang lebih sulit dibanding pertanyaan tentang pajak yang ditangguhkan (indeferred tax)

Mengenali hati sendiri masih menjadi PR buat saya hingga hari ini dan membuat saya lebih suka jadi penyendiri. Orang-orang di sekitar pun sadar akan hal ini. Atau mereka yang terlalu peduli?

“Senyum Niwak yang hilang.”

“Jadi pendiam.”

“Nggak kedengeran lagi suaranya.”

Tentu bukan tanpa sebab. Entah fase apa yang sedang saya alami saat ini. Saya jadi suka berjalan sendirian, memotret, bercakap dengan tukang parkir, pedagang, anak-anak kecil yang sedang bermain sepak bola, dan manusia-manusia lain yang belum pernah saya kenal.

Mungkin ini adalah bagian dari pemberhentian sejenak pelbagai rutinitas dan sistem yang melekat.

Jadi, apa kabar hati hari ini?
SHARE:

5.08.2013

Narasi Evaluasi

Dalam sebuah lingkaran sederhana, saya diminta untuk menceritakan tentang sebuah ‘evaluasi’ yang pernah saya alami.

Hanya dua kalimat yang saya sebutkan. Saya ditertawakan. Kesempatan untuk ‘bercerita tentang evaluasi’ pun dipindahkan ke mulut teman yang lain.

Apa ada yang salah dengan pendapat saya soal ‘evaluasi’? Sehingga saya harus minum obat dan merasionalkan pikiran saya seperti yang diceletukkan oleh salah satu teman yang mendengar? Atau karena nada bicara saya yang tidak serius?

“Bagi saya, evaluasi membuat kita mengetahui keberadaan kita.” (teman-teman tertawa)

“Evaluator bisa melihat sisi yang tidak kita lihat.” (teman-teman tertawa lagi)

Tawa mereka sama sekali tidak menghibur saya tapi mengevaluasi diri saya sampai ke dalam hati.
***

Bagi saya, evaluasi membuat kita mengetahui keberadaan kita.

Ketika mengucapkan kalimat itu, seorang teman berusaha menyempurnakannya (di tengah
SHARE:

3.31.2013

Mempersiapkan Akuntan Muda Indonesia Menuju Asean Economic Community2015


Di presentasikan dalam National Accounting Essay Competition in Accounting Fair Universitas Bakrie 2013 on the topics: Preparing Indonesia's Youth Accountant to Vanquish ASEAN Economics Community (AEC) Era through Competence, Ethics and Professionalism yang telah dilaksanakan pada tanggal 19-23 Maret 2013 di Universitas Bakrie.
SHARE:

3.12.2013

Sebuah Hibrida: Digitalisasi Pasar Tradisional




Pasca 1995, manusia mulai berteman akrab dengan perangkat digital. Ponsel canggih, kamera anti air, layar sentuh, komputer mini,dan perangkat sejenisnya yang membuat kehidupan manusia semakin termobilisasi. Mobilisasi yang semestinya memudahkan gerak manusia justru membuat manusia terjebak dalam paradoks kepadatan arus informasi. Mereka sibuk mengetikkan jari saat makan, berjalan, bahkan berkendara. Kebanyakan mereka tenggelam dalam kehidupan yang serba cepat dan praktis. Generasi ini, seperti yang disebut oleh Radar Panca Dahana, adalah generasi digital.

Generasi ini senang berkelindan dengan teknologi. Maka tak jarang entitas-entitas dengan sedikit atau ketiadaan unsur teknologi menjadi rapuh. Misalnya, tradisionalitas maupun lokalitas yang mulai tergerus oleh modernitas. Hal ini memunculkan para simpatisan yang sadar akan eksistensi tradisionalitas maupun lokalitas sebagai aset berkearifan, salah satunya ada pada pasar tradisional.

Pasar tradisional sebagai penggerak roda perekonomian negara, jaring penyelamat dan penyedia lapangan kerja bagi sebagian masyarakat, memiliki kapasitas kuat untuk bertahan pada situasi ekonomi makro yang tidak menentu. Adanya budaya tawar menawar, hubungan penjual dan pembeli yang terbentuk secara langsung dan indigenous semakin memperkaya pasar tradisional.

Dalam pasar tradisional, rakyat menjadi subjek dan objek yang utama sehingga sebagian kalangan menyebutnya sebagai pasar rakyat. Sebagian lagi dengan sengaja meninggalkan kata tradisional karena identik dengan kumuh, becek ataupun semrawut.

Baik pasar rakyat maupun pasar tradisional perlu mengambil langkah untuk menghadapi era digital. Generasi digital mungkin saja mengusung konsep baru: Pasar Digital. Bukan tidak mungkin ketika Pasar Gede di Solo mulai memasang papan elektronik informasi harga. Papan yang mencantumkan tujuh belas harga makanan ini dipasang di pintu masuk agar tidak terjadi kesimpangsiuran harga antara pedagang dan pembeli.

Generasi digital agaknya perlu hati-hati dalam usaha mendekatkan teknologi dengan pasar tradisional. Papan elektronik ini bisa jadi malah meredupkan budaya tawar menawar yang secara tidak langsung merusak karakter pasar tradisional. Lagi-lagi, generasi digital dengan semangat perbaikan masih berada pada situasi yang sulit. Pasar digital, sebuah hibridisasi pasar tradisional dan digital, mungkinkah memiliki eksistensi?

*artikel singkat ini menjadi bagian dari Buku Sekolah Pasar yang disusun oleh Sekolah Pasar, Pusat Studi Ilmu Ekonomi Kerakyatan UGM
SHARE:

3.11.2013

Cara Keluarga

Seringkali, saya mendengar banyak orang dalam suatu perkumpulan berujar, “Buat saya, kalian adalah keluarga.”

Saya menjadi haru ketika seseorang mengatakan itu. Saya pun pernah berujar hal yang sama kepada sekelompok orang yang memang tidak ada hubungan darah dengan saya. Sampai suatu ketika, seorang teman menyadarkan saya soal kesakralan sebuah kata: keluarga.

“Buat saya kalian bukan keluarga. Maaf. Kita memang sering tertawa dan menangis bersama. Mengadakan event kecil maupun besar. Belajar dari nol bareng-bareng. Tapi bukan yang seperti itu yang bisa saya sebut sebagai keluarga. Buat saya, kalian adalah saudara.” ujar teman saya dalam farewell party suatu organisasi.

Teman saya itu mendikotomikan pemaknaan saudara dengan keluarga. Hal itu membuat saya mengacungkan tangan dan bertanya, “Dim, jadi siapa yang bisa lo sebut sebagai keluarga? Nyokap, bokap, sama adek lo aja?”

“Karena emang buat gue, cuma mereka yang bisa disebut keluarga. Ntar lo juga paham, Nit.”

Rasa-rasanya, sekarang saya paham. Cara keluarga memanusiakan kita sebagai manusia berbeda dengan cara yang digunakan oleh orang lain. Cara inilah yang akhirnya membantu kita membuat definisi tersendiri atas apa itu keluarga, saudara, sahabat, teman, dan orang lain. Cara itu berbeda-beda dan saling membedakan.
SHARE:

Mengendalikan Uang

Kehabisan uang saku sebelum akhir bulan tiba adalah pertanda lemahnya kita dalam mengatur uang. Metode preventif yang dapat kita lakukan agar tidak kehabisan uang saku adalah kemampuan mengatur atau perencanaan keuangan (financial plan ability). Pengaturan uang  sebaiknya dilakukan sebelum kita mengeluarkan uang untuk pertama kalinya setelah cash money kita terima.

Ada beberapa cara yang bisa kita gunakan. Pertama, menyisihkan uang di awal. Misalnya ketika kita menerima uang sebesar Rp500,000,- baik secara cash maupun yang mengendap di mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Sisihkan paling tidak sedikitnya 10% dari uang yang kita terima. Uang sebesar Rp50.000,- (10%x500.000) ini kita pisahkan, misalnya kita letakkan pada dompet yang berbeda atau ATM yang berbeda.  Saya pribadi memiliki dua buah kartu ATM, satu digunakan untuk opersional kebutuhan sehari-hari, satu lagi hanya digunakan untuk menyimpan uang sisihan.

Kedua, berhemat tapi jangan sampai menyiksa diri sendiri. Berhemat adalah salah satu bagian paling penting dari proses perencanaan keuangan. Gunakan dahulu uang untuk apa yang kita perlukan (kebutuhan) bukan untuk yang kita inginkan.

Ketiga, mencari pemasukan (income) selain dari uang orang tua (love money). Tambahan pemasukan bisa kita peroleh dari beasiswa, berwirausaha atau bekerja paruh waktu. Kemampuan merencanakan keuangan  dikolaborasikan dengan kemampuan kita menangkap peluang (seize opportunities).

Jika ketiga tahap tersebut tidak kita lalui dengan baik, terutama tahap kesatu dan kedua,  keuangan kita akan tersendat. Kita bisa mengalami kehabisan uang sebelum akhir bulan tiba, meminjam istilah besar pasak daripada tiang.

Untuk menutupi lubang kekurangan itu, ada banyak pilihan yang bisa kita ambil. Diantaranya berhutang (debt) kepada teman, menggadaikan barang, atau bahkan berpuasa. Sesekali ada baiknya kita merasakan hal tersebut sebagai refleksi bahwa uang didapatkan dengan pengorbanan.

Namun setelah itu, jadilah dewasa tidak hanya secara lahir. Kendalikan uang, jangan sampai uang yang mengendalikan kita. Jika dalam mengelola uang pribadi saja kita tidak bisa, bagaimana di masa depan nanti kita mengelola bangsa ini, wahai mahasiswa?

 

*artikel ini dimuat dalam Okezone,com
SHARE:

10.12.2012

Dana Pembangunan Daerah Sia-sia









Urbanisasi sebenarnya bagian dari proses kita beradaptasi terhadap perubahan. Proses ini menjadikan banyak hal yang dahulu bersifat tradisional ke arah modern sehingga orang sering mereduksikannya sebagai perubahan sifat atau tempat dari suasana desa ke kota.


Perubahan ini pasti terjadi di setiap daerah,namun yang membedakan adalah sikap setiap daerah terhadap perubahan tersebut tidaklah sama. Perbedaan sikap ini yang nantinya memunculkan ketimpangan dari berbagai sektor. Salah satu ketimpangan yang paling terlihat adalah tata kelola suatu kota.

Kota yang dikatakan maju umumnya memiliki banyak gedung pencakar langit, sekolah, pusat perbelanjaan, fasilitas publik, dan jalan-jalan yang banyak dilalui kendaraan. Tapi di sisi lain, masih terdapat daerahdaerah kumuh yang tepat bersebelahan dengan pusat kota tersebut sehingga tata kota pun terlihat semrawut. Begitu pula dengan masih adanya kota yang minim gedung dan fasilitas publik. Tata kota yang masih buruk salah satunya disebabkan oleh tidak cakapnya pengelolaan dana untuk membangun daerah. Berdasarkan data Kementrian Keuangan, anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) yang mengendap di bank pada akhir 2002 dan akhir 2009 masing-masing senilai Rp22,18 triliun dan Rp59,81 triliun.

Per akhir Desember 2011 nilainya semakin meroket menjadi Rp80,4 triliun dengan rincian Rp13,12 triliun di simpanan berjangka,Rp45,77 triliun di rekening giro,dan Rp919 miliar di tabungan. Dana yang tidak terserap itu umumnya belanja modal yang mayoritas untuk pembangunan infrastruktur.Padahal berbagai studi menunjukkan pembelanjaan di bidang infrastruktur memiliki korelasi positif dengan pertumbuhan ekonomi. Berarti dengan tersia-siakannya anggaran di daerah sama saja terjadi opportunity lost pada penduduk di daerah yang sebenarnya sangat membutuhkan kemajuan.

Hal ini menunjukkan bahwa hak kita untuk menikmati pembangunan pun setiap tahunnya dibajak oleh pemerintah. Semestinya APBD ini dapat dicairkan untuk kesejahteraan rakyat, meningkatkan pelayanan publik, dan membangun kotakota yang masih tertinggal. Keadaan ini juga perlu ditopang dengan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni dengan harapan setiap kota dapat menyikapi urbanisasi dengan baik.●

NUR’AINI YUWANITA WAKAN
Mahasiswa S-1 Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Penerima Beasiswa PPSDMS Nurul Fikri







 Dimuat di Harian Seputar Indonesia edisi cetak, 12 Oktober 2012

Online link: Seputar Indonesia





SHARE:

10.08.2012

Menjadi SRIKANDI




SRIKANDI, sosok the ultimate model of independent womanhood dalam pewayangan jawa; sebagai simbol kekuatan dan keberanian. Srikandi dijadikan suri tauladan karena menjadi prajurit wanita yang berhasil mengalahkan Bisma dengan panah dahsyatnya, Hrusangkali. Itulah mengapa Srikandi menjadi inspirator bagi kami, peserta PPSDMS Regional 3 Yogyakarta Putri.

9 Juli 2012 menjadi hari pertama bagi saya menginjakkan kaki di BarbieDorm—julukan bagi asrama kami yang bercat merah jambu dan ungu. Kedatangan saya yang terlambat dibandingkan teman-teman lain membuat rasa takut itu hadir menjadi-jadi; ketakutan tidak bisa beradaptasi, tidak tahan dengan program-program yang diwajibkan, sampai takut  tidak memiliki sahabat. Semua ketakutan itu benar-benar ada.

Saya melangkah masuk sambil mengucap bismillah dalam hati. Saat itu, asrama sepi dan pintu memang tidak terkunci. Saya sejenak berhenti di balik pintu dan memperhatikan ruangan di dalam. Ada lima pintu kayu di bawah dan anak-anak tangga menuju lantai dua tempat kamar saya berada.

Saya menaiki anak-anak tangga itu. Semakin tinggi saya naik, semakin hilang rasa takut itu. Terlebih lagi, hati saya berkata ini bukan asrama, tapi rumah.

Ternyata benar. Banyak program yang wajib diikuti, seperti waktu berkah shubuh, apel pagi, deep introduction, family meeting, kajian pekanan, kajian bulanan, piket bersih-bersih sampai piket masak untuk sahur.

Banyak teman dan senior yang melontarkan candaan kepada saya ketika mereka tahu saya harus kembali ke asrama pukul tujuh malam, “Jam segitu mah banci baru mandi!”

Atau ketika mereka tahu ini adalah pendidikan dengan nilai islam yang kental, “Wah kalau main ke asramamu, aku harus pakai gamis ya?” “Yah kita engga bisa hang out sampe malem lagi dong, Nit.”

Mendadak, saya menjadi orang yang tidak peduli dengan hal-hal itu.

Secara sadar atau tidak, ada perasaan kuat yang saya dapatkan dari tiga puluh satu wanita yang hidup bersama saya di BarbieDorm: persaudaraan (ukhuwah).

Ketika saya sakit, mereka memberikan saya selimut, menemani berobat, bahkan membuatkan segelas teh hangat. Ketika saya tidur terlalu lelap, mereka membangunkan saya untuk ikut sembahyang berjamaah. Ketika ada yang berulang tahun, mereka menyiapkan surprise dan kue manis nan lezat.

Sungguh, saya berharap bisa melihat tiga puluh satu senyum yang sama dua tahun kemudian.

Saya berharap persaudaraan ini bisa terjaga dan mampu mengalahkan self-oriented yang  datang mencekam ketika terompet kompetisi ditiupkan.




Tiga puluh satu wanita itulah srikandi yang membuat saya ingin ikut menjadi srikandi. Mereka membawa panah-panah yang berbeda namun kami belajar bersama-sama untuk bisa melesatkan panah itu sedahsyat Hrusangkali. Bahkan lebih.

Bismillahirrahmanirrahim.
SHARE:
© Mettle in Perspective. All rights reserved.
Blogger Templates made by pipdig